Dua hari berselang, gudang karantina Goalpara pecah oleh derap langkah kuli panggul dan hantaman palu besi. Di dekat pintu besar yang terbuka, Sinder Deventer berdiri tegak dengan seragam khaki yang bersih, rapi, dan rambut klimis tercukur—kondisi fisiknya sudah kembali segar setelah mendapat waktu istirahat yang cukup selama dua hari terakhir.
Namun, meskipun penampilannya tampak berwibawa sebagai pejabat Eropa, batin Deventer didera kecemasan yang luar biasa. Sepasang matanya terus bergerak waspada, mengawasi setiap gerak-gerik para kuli yang sedang memasukkan teh kering berkode F2- ke dalam peti kayu(tea chest) khusus.
Di tengah aroma teh hitam yang kuat, beberapa kuli panggul pribumi mulai merasakan keanehan saat menyekop daun teh tersebut. Daun teh kualitas satu pesanan Rotterdam ini terasa agak kesat, menyisakan sensasi lengket yang samar di jemari mereka, dan memiliki bobot yang sedikit lebih padat dari biasanya saat ditakar ke dalam baki berlapis timah.
Ketika para kuli mulai saling berbisik heran di lantai gudang, Deventer yang menangkap gelagat tersebut langsung mencengkeram tongkat komandonya lebih erat. Untuk meredam kasak-kusuk yang bisa berujung bahaya, ia melangkah maju dan memotong obrolan mereka dengan ketegasan formal yang dingin.
"Ayo, cepat selesaikan pakunya! Jangan malas!" perintah Deventer dengan suara lantang yang bergema di langit-langit gudang. "Truk perkebunan sudah memanaskan mesin di luar. Jangan biarkan Tuan Administrateur menunggu laporan pengiriman hanya karena kerja kalian lamban!"
Bentakan tegas itu langsung membungkam rasa penasaran para kuli. Palu-palu besi kembali dihantamkan bertalu-talu, memaku rapat tutup peti kayu, mengunci rapat ribuan dosis morfin di dalamnya sebelum diangkat ke atas bak truk Ford Model T yang sudah menderu di halaman.
Herman sengaja menahan seratus kilogram teh berkode F-2 itu selama dua hari di gudang karantina.
Selain menunggu daun teh mendingin agar tidak berembun di dalam peti berlapis timah, jeda waktu ini penting untuk memastikan seluruh uap alkohol menguap tuntas, menyisakan gliserin yang mengunci morfin dengan sempurna. Sementara teh mendingin, Herman mengurus birokrasi resmi dengan memesan slot gerbong kargo tertutup milik Staatsspoorwegen ke Kepala Stasiun Sukabumi.
Sinder Deventer menyerahkan selembar surat jalan resmi kepada pengemudi truk. Di atas kertas itu tertera cap basah Perkebunan Goalpara, menyatakan bahwa muatan tersebut adalah teh hitam kualitas premium pesanan khusus firma dagang di Rotterdam.
Truk Ford Model T itu pun menderu, membelah jalanan tanah berbatu yang terjal, membawa peti-peti berharga itu turun dari ketinggian lereng Gunung Gede menuju pusat kota. Guncangan keras di sepanjang jalur pegunungan yang berbatu menguji kekuatan gliserin dalam mengikat bubuk morfin di serat-serat daun teh agar tidak rontok menjadi serbuk mencurigakan di dasar peti. Ketika roda-roda truk akhirnya berhenti di pelataran bongkar muat Stasiun Kereta Api Sukabumi, ketegangan baru dimulai.