Udara Minggu pagi di onderdistrict Sukaraja bertiup sepoi-sepoi, membawa hawa dingin dari lereng Gunung Gede. Jam saku di dalam kantong jas tutup warna krem milik Cecep baru menunjukkan pukul enam pagi lewat sedikit, namun area sekitar pasar sudah riuh oleh suara tawar-menawar para pembeli dan pedagang kaki lima.
Cecep berdiri di bawah keteduhan emperan toko Tionghoa yang pintunya masih tertutup rapat. Tangannya sesekali merapikan letak kain sinjang batik yang membebat pinggangnya agar tidak kotor terkena cipratan kencing kuda.
Sebagai juru tulis pabrik di Goalpara, performa pakaian adalah segalanya; harga diri seorang bumiputera yang memegang pena di tengah kepungan kuli panggul. Kakinya terasa agak pegal setelah berjalan kaki turun sejauh empat kilometer dari kamar kosnya di Limbangan sejak subuh tadi.
Di depannya, deretan dokar kayu beroda dua sedang mengantre. Bau khas kotoran kuda bersanding tajam dengan aroma tembakau lintingan dari para kusir yang sedang bersungut-sungut menanti penumpang sambil menghangatkan badan. Cecep mengamati salah satu kusir yang sedang sibuk mengelap kursi Dokar.
"Cireunghas, Mang? Kosong?" tanya Cecep. Ia membetulkan letak kacamata bulat berbingkai kawat hitam yang bertengger di hidungnya. Kacanya agak berembun karena hawa dingin, membuat Cecep harus mengerjapkan mata beberapa kali dengan ekspresi kikuk—sekilas tampak linglung seperti orang yang mudah ditipu.
Sang kusir menoleh. Matanya memindai setelan jas tutup putih Cecep yang rapi, lalu beralih pada kacamata bulatnya yang tampak "mahal". Si kusir tersenyum lebar, merasa mendapat umpan empuk pagi ini.
"Cireunghas? Mangga, Aden Juru Tulis. Kebetulan jalanan ke timur sedang sepi penumpang, tapi jalurnya berat, becek habis hujan. Bagaimana kalau lima puluh sen?" tembak sang kusir dengan nada ramah yang dibuat-buat.
Lima puluh sen? Setengah Gulden? Cecep menaikkan sebelah alisnya di balik lensa bulatnya. Otak cerdasnya langsung berhitung. Upah harian buruh kebun saja tidak sampai sebesar itu, dan sebagai juru tulis pabrik yang memeriksa manifes logistik setiap hari, ia tahu persis tarif normal dokar sewaan dari Sukaraja ke Cireunghas tidak lebih dari dua puluh lima sen.
Bukannya marah karena hendak diperas, wajah Cecep malah berubah menjadi jenaka. Ia memiringkan kepalanya, lalu dengan gerakan teatrikal yang konyol, ia meraba-raba saku jasnya secara berlebihan—seolah-olah sedang mencari dompetnya yang hilang, membuat sang kusir mulai panik.
"Waduh, Mang..." Cecep memasang wajah melas yang kocak, mirip orang yang ketakutan. "Lima puluh sen? Kalau saya bayar segitu, sampai di Cireunghas saya tidak bisa beli tembakau, lalu mulut saya asam, maka saya tidak bisa konsentrasi menulis pembukuan pabrik besok Senin. Kalau pembukuan salah, Tuan Administratur Belanda bisa mengamuk, dan kalau Tuan Belanda mengamuk, Perkebunan Goalpara bisa bangkrut!"
Sang kusir melongo, bingung menghadapi omongan calon penumpangnya yang melantur terlalu jauh.
Cecep lalu tersenyum lebar, memajukan wajahnya hingga kacamata bulatnya hampir menyentuh hidung si kusir. "Dua puluh sen saja ya, Mang? Anggap saja membantu menyelamatkan Perkebunan Goalpara dari kebangkrutan. Lagipula, badan saya kurus, kuda Mamang tidak akan keberatan menarik saya."
Si kusir terkekeh, sadar bahwa pemuda berkacamata bulat di depannya ini sama sekali tidak bodoh. "Ah, si Aden bisa saja. Ya sudah, naiklah! Dua puluh lima sen, tidak kurang lagi. Itu sudah harga pas persaudaraan."
Cecep menjentikkan jarinya dengan jenaka. "Setuju! Dua puluh lima sen!"
Dengan gerakan agak canggung—sempat hampir tersandung kain sinjangnya sendiri—Cecep melompat naik ke bangku belakang dokar. Begitu bokongnya mendarat di kursi, ia kembali membetulkan kacamatanya yang melorot sambil tersenyum puas.
Pecut kuda diacungkan ke udara, berbunyi cetar-ceter bersahutan dengan dentang lonceng kuningan di leher kuda. Dokar pun melaju. Perjalanan melewati wilayah Kebonpedes pagi itu dipenuhi guncangan hebat. Jalanan desa tahun 1926 masih berupa tumpukan batu kali yang kasar dan berlubang. Setiap kali roda kayu berlapis besi milik dokar menghantam lubang, Cecep ikut memantul ke atas. Kacamata bulatnya melorot ke ujung hidung, dan ia sibuk memegangi ikat kepala serta tas kainnya dengan ekspresi panik dan cemas.
Namun, di balik kekonyolannya, mata Cecep di balik lensa bulat itu menatap takjub ke luar. Di kanan-kirinya membentang permadani sawah hijau yang diselimuti kabut tipis. Para petani bumiputera berpakaian hitam khas Sunda sudah membungkuk di lumpur, ditemani beberapa ekor kerbau yang mendengus malas. Di kejauhan, siluet megah Gunung Gede Pangrango berdiri kokoh sebagai latar belakang, seolah mengawasi perjalanan pulang sang juru tulis muda.
Setelah hampir empat puluh menit bertarung dengan guncangan jalanan, dokar akhirnya memasuki wilayah Cireunghas. Suasana berubah menjadi lebih rimbun oleh pohon-pohon bambu. Dokar berhenti tepat di sebuah pertigaan dekat rumpun pisang besar. Cecep turun dengan kaki yang sedikit gemetar akibat getaran kereta kuda roda dua tadi. Ia menyerahkan sekeping koin perak dua puluh lima sen kepada kusir.
“Haturnuhun, Mang!” ujarnya sambil membungkuk jenaka ala hormat opsir Belanda, membuat si kusir tertawa geleng-geleng kepala.
Cecep kemudian membalikkan badan, berjalan cepat memasuki pekarangan sebuah rumah panggung kayu beratap ijuk yang asri. Itu adalah rumah keluarganya.
“Sampurasun…! Ieu Cecep uih!" seru Cecep seraya melepas penutup kepalanya, lalu menggunakannya untuk mengipasi wajahnya yang agak berkeringat.