Asap hitam dari kayu bakar yang basah mengepul tebal, berputar-putar di bawah atap rumbia dapur komunal yang pengap sebelum menyelinap keluar ke arah kabut malam Goalpara.
Di bangsal berlantai tanah di belakang bedeng itu, belasan tungku batu berderet seperti barisan kuburan kecil. Ngatini berjongkok di depan salah satu tungku, mengipasi sisa bara api dengan kipas anyaman bambu yang rombeng.
Matanya perih, berair bukan hanya karena asap yang menusuk, tetapi juga karena menahan letih setelah seharian jarinya memetik pucuk teh di lereng bukit.
Di dalam panci sengnya yang menghitam, hanya ada sedikit nasi pera kualitas rendah—jatah dari toko perkebunan yang harganya mencekik leher. Lauknya malam ini tak lebih dari sepotong ikan asin kering dan sejumput sayur daun singkong liar yang dia petik di pinggir jalan perkebunan.
Dua tungku di sebelahnya, Warni sedang termenung menatap periuknya yang kosong. Perempuan itu hanya memegang sepotong singkong rebus yang layu. Di pinggangnya, kain jarik usang melilit Thole, anaknya yang berusia empat tahun, yang terus-menerus mengulum jemarinya yang kurus.
"Mung duwe kuwi, Yu?" tanya Ngatini sedikit ragu. Suaranya yang pelan nyaris tenggelam di antara riuh rendah dentang piring seng dari keluarga buruh lain di dapur komunal itu. Matanya menatap iba pada Thole, lalu beralih ke sepotong singkong rebus layu di tangan Warni—satu-satunya makanan yang tersisa untuk mengisi perut keluarganya malam ini.
Warni menoleh, tersenyum getir dengan wajah pias kelabu. "Gajine Kang Sagimin entek nggo nompoki bon beras sasi wingi, Ti. Iki wae sisa singkong wingi awan. Nek Thole nangis bengi iki, aku wis ra ngerti kudu ngekei mangan opo..."
Perempuan itu menunduk pasrah, meratapi sepotong singkong sisa kemarin siang yang digenggamnya dengan tangan gemetar. Upah bulanan suaminya tak pernah benar-benar sampai ke rumah, selalu habis dipotong di depan untuk melunasi utang beras bulan lalu di toko perkebunan Belanda.
Kini, Warni hanya bisa menahan napas cemas, membayangkan tangis kelaparan anaknya yang pasti akan memecah kesunyian bedeng malam nanti tanpa ada sebutir nasi pun yang bisa disuapkan ke mulut anaknya.
Ngatini melirik perutnya sendiri yang sudah hamil tiga bulan, masih tersembunyi rata di balik lilitan stagen dan kebaya luriknya yang lusuh.”
Ada rasa ngilu yang mendadak mencubit hatinya. Dia melihat piring sengnya, lalu melihat anak Warni yang bermata cekung. Tangan Ngatini bergerak, hendak memberikan sepiring nasi dan sepotong ikan asinnya kepada Warni, namun urung ketika bayangan wajah Tukijan yang kelelahan setelah memikul ratusan kati daun teh dari pagi hingga sore melintas di benaknya.
Suaminya butuh tenaga untuk esok subuh. Sambil menelan rasa bersalah yang tebal, Ngatini hanya bisa menunduk, buru-buru menyendok nasinya ke dalam wadah, lalu melangkah kembali menuju bilik nomor tujuh dengan hati yang perih.
Malam merayap makin larut menembus pekatnya Perkebunan Goalpara. Riuh rendah obrolan di dapur komunal lambat laun surut, digantikan oleh kesunyian yang dingin saat satu per satu kuli kembali ke bilik sempit mereka.
Di dalam bilik nomor tujuh, Tukijan sudah menunggu. Setelah mereka menghabiskan makan malam yang sunyi dan dingin di atas dipan bambu, sumbu lampu teplok dikecilkan hingga apinya meredup demi menghemat minyak.
Aroma minyak tanah dari lampu ublik—bekas botol obat batuk yang dilubangi tutupnya, lalu dimasukkan sumbu kain perca—berebut dengan bau apek baju-baju basah yang digantung di sudut bilik. Asapnya yang berjelaga, membuat langit-langit bedeng tampak menghitam.