MISTERI LANDHUIS GOALPARA

Heru Sanjaya
Chapter #28

PELAMINAN CECEP DAN IMAS

Setelah melalui utusan resmi yang dikirim ke Kampung Limbangan untuk menjajaki kesediaan keluarga pihak wanita, hari yang dinantikan itu pun tiba. Rombongan kecil keluarga Juragan Sukatma dari Cireunghas melangkah terhormat memasuki pelataran rumah panggung orang tua Imas untuk melaksanakan prosesi Narosan—lamaran resmi menurut adat lama Pasundan.

Sebagai juragan padi terpandang, bapaknya Cecep memastikan harga diri keluarga mereka tetap terjaga dengan membawa barang pengikat lamaran yang pantas; mulai dari daun sirih lengkap beserta pinang, pakaian bakal pengantin perempuan, hingga beberapa keping uang perak sebagai tanda pengikat hubungan.

Selama pembicaraan formal penentuan tanggal akad nikah dan urusan mas kawin berlangsung di antara para tetua pria di ruang depan, Ceu Enah, ibunya Cecep duduk ditemani oleh ibunya Imas di ruang tengah rumah panggung.

Sesuai pakem adat Sunda, ibunya Imas selaku tuan rumah menjamu besannya dengan penuh hormat, menyuguhkan teh tubruk manis hangat dan piring-piring berisi penganan pasar tradisional.

Tanpa perlu mengotori tangan di dapur karena urusan memasak sudah diurus oleh kerabat kampung yang lain, kedua ibu itu saling melempar senyum lega saat kesepakatan hari baik telah resmi dikunci oleh penghulu adat.

Waktu melompat cepat beberapa minggu kemudian, langsung menuju hari perayaan akad nikah yang digelar bersahaja namun sakral di halaman rumah panggung Imas. Cecep Supriatna tampak begitu gagah dengan jas buka drill putih dan bendo—blangkon khas Sunda—yang terpasang pas dan rapi di kepalanya—tidak ada lagi kesan melorot atau miring seperti yang biasa ia tunjukkan di depan para bos Belanda di pabrik Goalpara.

Di sampingnya, Imas duduk dengan anggun, terlihat begitu geulis bersahaja dengan ronce melati yang sewangi aromanya di udara sore lereng gunung.

Di antara deretan kursi bambu para tamu, Adjat dan Endah datang sebagai pasangan yang paling bahagia melihat sahabat mereka akhirnya resmi menyusul ke pelaminan. Sebagai hadiah pernikahan untuk sahabat karibnya, Adjat menyerahkan sebuah bungkusan kain berisi barang hasil jerih payahnya memikul keranjang teh di perkebunan: sebuah keris kecil bermata kuningan sebagai simbol kehormatan kepala keluarga baru. Cecep menerima hadiah itu dengan mata berkaca-kaca, lalu merangkul pundak Adjat dengan erat.

Di bawah terangnya cahaya lampu petromaks di halaman rumah panggung, keempat anak muda itu saling melempar tawa dan doa keselamatan bersama. Sebuah momen penuh kebahagiaan, keakraban, dan kedamaian yang begitu indah.

Perlahan, malam semakin larut dan keriuhan di halaman mulai surut. Satu per satu tetangga kampung Limbangan pamit pulang menembus dinginnya udara lereng gunung, disusul oleh rombongan keluarga Cireunghas yang kembali pulang menggunakan deretan dokar sewaan setelah melepas Cecep dengan pelukan hangat penuh berkah. Rumah panggung itu akhirnya kembali ke pelukan sunyi malam.

Di dalam kamar pengantin di bagian tengah rumah, suasana tampak canggung. Mengingat Cecep adalah anak seorang juragan padi terpandang yang hidup berkecukupan, kamar tersebut terlihat jauh lebih mewah dibanding kamar penduduk kampung biasa.

Di tengah ruangan, berdiri sebuah ranjang besi dengan kelambu rajut putih bersih yang menjuntai rapi. Kasurnya dibalut seprei katun halus, ditumpuki sepasang bantal bersulam benang emas yang berkilau lembut diterpa sorot kekuningan dari lampu minyak dinding.

Di sudut ruangan, sebuah cermin rias oval berbingkai kayu jati ukiran menampilkan bayangan ruangan yang harum oleh semerbak ronce melati dan minyak wangi fajar yang sengaja dipercikkan di empat penjuru bilik.

Namun, kemewahan kamar pengantin tahun 1926 itu mendadak terasa beku oleh kekakuan dan kecanggungan yang menyebalkan.

Lihat selengkapnya