Dua bulan telah berlalu sejak peti-peti kayu berlapis timah berkode F-2 itu bertolak dari dermaga Tanjung Priok. Selama delapan minggu itu pula, Pabrik Goalpara kembali ke ritme operasionalnya yang normal dan tenang.
Di luar dinding pabrik yang megah, waktu tenang yang panjang ini menjadi berkah tersendiri di pedalaman Sukabumi. Adjat dan Endah menikmati awal kehidupan rumah tangga mereka yang bersahaja. Sementara itu, kehidupan sebagai pengantin baru juga dilewati dengan penuh kehangatan oleh Cecep dan Imas.
Setiap sore, setelah lelah memeras keringat di petak kebun yang sama—Adjat memikul keranjang berat dan Endah memetik pucuk daun—keduanya selalu berjalan beriringan menyusuri jalan setapak bukit untuk pulang ke Kampung Limbangan.
Di sepanjang jalan berbatu yang mulai berkabut, rasa penat Adjat menguap setiap kali melihat senyum manis yang tersungging dari bibir merah istrinya. Endah yang merupakan mantan ronggeng primadona tetap memperlihatkan keluwesan gerak tubuhnya yang memikat, berjalan anggun di samping suaminya sembari sesekali membetulkan letak kain sinjangnya.
Di bawah langit senja lereng Gunung Gede, pasangan suami-istri itu saling melempar tawa kecil dan berbagi cerita tentang upah harian yang mereka kumpulkan untuk keperluan dapur. Adjat merasa menjadi lelaki paling beruntung di dunia, menggandeng erat jemari lentik Endah.
Kini kabar yang ditunggu-tunggu Herman van Persie akhirnya tiba. Sebuah telegram rahasia dari bank di Batavia mengonfirmasi bahwa dokumen pengapalan di Rotterdam telah ditebus oleh pihak pembeli. Sisa tujuh puluh persen pembayaran sudah cair dan masuk dengan aman ke rekening pribadinya di Singapura.
Sore itu, suasana di dalam landhuis terasa begitu hangat oleh aroma kemenangan finansial. Tuan Schalkwijk, sang pengacara dagang necis dari Batavia, kembali duduk di hadapan meja kerja Herman. Namun kali ini, ia tidak membawa koper kulit buaya, melainkan menyodorkan selembar surat kontrak baru bertinta ungu khas dinas pabean.
"Seratus kilogram pertama Anda telah melumpuhkan salon-salon dansa di Amsterdam dan London, Tuan Van Persie," ujar Schalkwijk dengan nada suara yang kali ini jauh lebih hormat. "Pasar Eropa mengalami kelangkaan akut. Jaringan Rotterdam tidak hanya puas, mereka kini bergerak agresif."
Herman menerima lembar kontrak tersebut, membaca barisan ketikan mesin tik yang lugas. "Mereka meminta dua ratus kilogram untuk bulan depan?" tanya Herman, mata birunya berkilat tajam memantulkan cahaya lampu gantung.
"Dua ratus kilogram, dengan harga per kilo yang sama, dan mereka bersedia membayar uang muka tiga puluh persen lagi sore ini jika Anda menandatanganinya," Schalkwijk mengetuk jemarinya di atas meja. "Sindikat membutuhkan kepastian bahwa Anda sanggup memenuhi volume besar ini sebelum kartel Inggris mengambil alih."
Herman van Persie menyandarkan tubuhnya ke kursi kayu jati besarnya, menarik napas dalam-dalam. Dua ratus kilogram teh berarti ia harus melarutkan lebih dari satu setengah kilogram bubuk morfin murni dari brankasnya.
Operasional di ruang analisa mutu tidak bisa lagi dilakukan secara santai sebagai "pengujian berkala". Ini sudah menjadi industri manufaktur narkotika berskala masif.
Herman meraih pena celup emasnya, membubuhkan tanda tangan cepat di atas dokumen fiktif tersebut. "Katakan pada Rotterdam, pasokan dua ratus kilogram mereka akan berangkat tepat waktu," ucap Herman dingin.
Tuan Schalkwijk merapikan topi fedoranya, mengangguk kaku, lalu berbalik arah. Langkah sepatunya berketuk konstan di atas lantai dingin, bergerak menjauh menuju pintu keluar landhuis.
Jegleg! Pintu depan tertutup rapat. Dari arah halaman beranda, suara tuas engkol ditarik disusul gerungan berat mesin Nash Advanced Six yang dinyalakan. Sorot lampu kuning mobil memotong kegelapan kabut luar, sebelum akhirnya suara gesekan ban pada batu makadam perlahan memudar menuruni lereng bukit, menyisakan kesunyian di dalam ruangan.
Herman van Persie meraih sebatang cerutu dari kotak perak di atas mejanya, memotong ujungnya, lalu menyulutnya dengan korek api kuningan. Asap putih pekat menguar cepat, menerabas temaram cahaya lampu gantung. Ia menatap tajam ke arah Sinder Deventer yang berdiri tiga meter di dekat pintu.
"Mulai jam kerja besok subuh, semprot dua ratus kilogram teh kering dengan formula F-2 yang sama. Dan ingatkan Mandor Subagja untuk mengawasi prosesnya," perintah Tuan Besar dengan nada datar.
Ia mengembuskan asap cerutunya ke udara, menatap koper kontrak baru yang masih tergeletak di tengah meja. "Kita tidak boleh membuat para elitis Eropa menunggu emas hitam mereka terlalu lama."
Deventer membungkuk kaku, berbalik, lalu melangkah keluar untuk menutup pintu ruang kerja.
Di balik meja kerjanya yang megah, sang manajer perkebunan menatap keluar jendela ke arah hamparan kebun teh yang menggelap ditelan malam.
Herman van Persie kemudian memutar kembali kursi jatinya menghadap meja. Ia membuka laci bawah yang terkunci, mengeluarkan sebuah Buku Kas Besar bersampul kulit kerbau tebal, lalu membentangkannya tepat di tengah meja.
Di sisi kiri meja, kontrak rahasia mafia senilai ribuan Gulden diletakkan terpisah. Di sisi kanan meja, lembar Nota Pesanan (Purchase Order) resmi dari perusahaan fiktif pembeli dengan nominal harga standar sudah disiapkan.
Herman meraih botol tinta hitam dan pena celup emasnya. Tangannya bergerak tanpa ragu, menyalin data dari lembar Nota Pesanan milik pembeli tersebut ke dalam Buku Kas Besar secara linear untuk pembukuan resmi: