MISTERI LANDHUIS GOALPARA

Heru Sanjaya
Chapter #30

NAIK KERETA API KE CIREUNGHAS

Minggu pagi yang cerah di awal bulan membawa kesegaran tersendiri di lereng Gunung Gede. Setelah berminggu-minggu disibukkan oleh urusan administrasi di pabrik teh, Cecep Supriatna akhirnya memiliki waktu luang untuk mengajak Imas pulang ke kampungnya di Cireunghas.

Sejak fajar menyingsing, pasangan pengantin baru itu sudah melangkah santai meninggalkan Kampung Limbangan, berjalan kaki menyusuri jalanan setapak perkebunan yang masih basah oleh embun pagi menuju pusat Pasar Sukaraja.

Imas berjalan dengan wajah berseri-seri mengenakan kain sinjang terbaiknya, sementara Cecep berjalan di sampingnya membawa tas kanvas kosong yang sengaja ia siapkan dari rumah.

Setibanya di pelataran Pasar Sukaraja, Cecep tidak mengajak istrinya mencari dokar sewaan untuk langsung menuju Cireunghas. Ia justru menuntun tangan Imas menuju peron stasiun untuk naik kereta lokal menuju pusat Kota Sukabumi.

Hari itu, Cecep sengaja ingin memanjakan istrinya; Imas sama sekali belum pernah seumur hidupnya menginjakkan kaki di pusat kota, apalagi merasakan naik kereta api besi milik pemerintah Staatsspoorwegen.

Cecep melangkah menuju loket stasiun yang berjeruji besi tebal. Seorang petugas bumiputera berseragam kaku tampak duduk di dalam bilik gelap.

"Karcis kelas dua ka Kota, dua," ujar Cecep sembari menyodorkan sekeping uang perak gulden.

Petugas loket menerima uang tersebut, lalu menekan tuas mesin pencetak yang berbunyi klak-klak nyaring. Dua lembar karcis edmondson berupa potongan karton tebal berwarna hijau muda—penanda kelas dua—disodorkan keluar melalui celah bawah jeruji. Cecep menerima karcis kecil itu, memasukannya ke kantong jas drill putih miliknya, lalu menoleh ke arah Imas yang sejak tadi berdiri mematung di belakangnya.

"Neng, ayo mumpung keretanya belum jalan," ajak Cecep. Tepat saat mereka melangkah ke peron kayu, sebuah lokomotif uap hitam pekat datang merayap lamban masuk ke jalur stasiun, menyemburkan kepulan uap putih yang tebal disertai deru mesin besi yang menggetarkan lantai tanah.

Asap hitam pekat membubung dari cerobong besi. Tiba-tiba, "ceeessss8...!" uap panas menyembur dari bawah silinder, menyelimuti roda-roda baja dengan kabut putih. Disusul kemudian dengan suara tuuuut..! Peluit kereta memecah udara, membuat para penumpang bergegas naik.


Sepasang mata Imas melebar takjub, tangannya mendadak bergerak cepat mencengkeram erat lipatan lengan jas Cecep.

"Duh, Gusti... Kang Cecep, itu kereta besar sekali! Tidak apa-apa kita naik ke dalam perut besi itu?" bisik Imas, suaranya agak gemetar menahan ngeri sekaligus kagum melihat roda-roda besi raksasa yang mendesis panas.

Cecep terkekeh pelan, membetulkan letak kacamatanya yang melorot. "Aman, Neng. Jalannya di atas rel. Ayo naik.

Begitu kaki mereka menapak di lantai gerbong kelas dua yang lapang, bersih, dan tenang, hawa sejuk Sukabumi langsung menyapa dari balik jendela-jendela kaca yang terbuka setengah.

Tidak ada tumpukan karung hasil bumi atau bau apek kuli seperti di gerbong kelas tiga. Imas mengambil tempat di sisi jendela, duduk menempel erat di samping Cecep yang rapi.

Tepat setelah uap dilepaskan dari mesin, roda-roda besi di bawah mereka mulai berderak berat.

Tuuuut… chug... chug... chug...chug!

Lokomotif seri D14 buatan Jerman itu mulai bergerak menarik rangkaian gerbong panjang di belakangnya. Irama mesin yang lambat itu perlahan membawa mereka pergi, menyeret pandangan Imas pada keindahan bukit hijau Goalpara yang bergerak mundur, siap mengantar perjalanan mereka menembus keheningan jalur besi.

Lihat selengkapnya