Dua bulan telah berlalu. Di proefkamer—ruang analisis mutu, Herman van Persie baru saja mengeluarkan kaleng perak formula dosis F-3 dari lemari besi, setelah kembali menerima surat telegraf mendesak dari jaringan pasar gelap Rotterdam jam 10 pagi tadi. Permintaan dari Eropa kali ini begitu spesifik; tubuh para pecandu di sana mulai membangun adaptasi pada zat alkaloid opium.
Sinder Deventer yang berdiri di samping meja, menerima instruksi takaran baru itu dengan wajah tegang.
"Ingat, Deventer. Satu sendok kecil teh untuk air satu cangkir penuh. Jangan dikurangi, jangan dilebihkan," perintah Herman dingin sembari menyerahkan kaleng timah berisi daun teh narkotika tersebut.
Siang harinya, tepat setelah lonceng penanda selesai istirahat makan siang berdentang di kebun atas, Deventer langsung bergerak menguji khasiat formula baru tersebut.
Di pos timbang blok 3, Deventer memerintahkan Mandor Danu untuk memasak air satu teko dan membawa lima cangkir blirik.
Deventer ingin melihat langsung apakah stamina para buruh pikul bisa digenjot lebih cepat dari biasanya setelah tubuh mereka sempat mengantuk pascamakan siang.
Setelah air mendidih, Mandor Danu menjinjing teko panas itu menuju pos timbang blok 3, tempat di mana rombongan kuli pikul duduk berjejer menunggu terkumpulnya daun-daun teh dari para buruh petik perempuan.
Di meja timbang juru tulis kebun, Deventer menuang daun teh dari kaleng perak ke dalam lima cangkir dengan keakuratan tinggi, sesuai perintah Herman van Persie: satu sendok kecil teh, untuk satu cangkir air. Tidak boleh kurang, tidak boleh lebih. Setelah menuangkan teh, Deventer memasukkan sisa kaleng F-3 ke dalam sakunya.
“Mandor, cepat tuangkan airnya sampai secangkir penuh, sebelum mendingin!” perintah Deventer sembari bersiap berjalan ke lereng atas untuk memantau. “Bagikan pada kuli mana saja yang badannya paling kuat dan kekar.”
“Baik Tuan Sinder!” Mandor Danu mengangguk patuh, lalu bergegas mengangkat teko. Corong dimiringkan, mengalirkan air matang yang mengepulkan uap panas. Cangkir pertama, kedua, ketiga, hingga keempat berhasil terisi penuh hingga ke batas bibirnya. Namun, saat Mandor Danu menuangkan sisa air ke cangkir kelima yang berada di ujung meja, aliran dari teko mengecil lalu terhenti.
Air di dalam teko tidak mencukupi sampai secangkir penuh. Cangkir kelima itu hanya terisi setengah lebih sedikit, menjadikan teh di dalamnya sebagai konsentrat morfin yang lebih pekat tanpa rasio pengenceran air yang sudah ditetapkan Herman van Persie.
Danu langsung membagikan cangkir teh secara acak kepada empat kuli panggul kontrak. Sembari membagikan cangkir-cangkir penuh itu, sepasang mata Danu bergerak licik mengunci sosok Adjat yang sedang berdiri merapikan pikulan bambunya.
Untuk cangkir terakhir yang airnya tidak mencapai penuh dan paling kental itu, Danu sengaja melangkah menghampiri Adjat. Sisa dendam kesumat asmara yang masih membara di dadanya seketika menyalakan senyum culas di wajah sang mandor. Dia tahu efek samping setelah minum air teh “penambah stamina” berdasarkan keluhan kuli-kuli beberapa bulan lalu. Mereka mengeluh nyeri otot ekstrim, lemas tidak berdaya, sakit kepala hebat, gemetar dan keringat dingin.
"Tah, Adjat. Minum jamu dari Tuan Besar sampai habis. Biar otot maneh tidak loyo memikul keranjang di depan istrimu yang geulis," Danu memprovokasi dengan nada meremehkan yang sengaja dikeraskan agar didengar kuli lain.
Adjat menatap cangkir blirik itu sejenak. Airnya tidak sepenuh cangkir kuli lainnya. Sebagai kuli pikul terbaik yang memegang harga diri tinggi, dia tidak sudi terlihat lemah di depan mandor Danu dan tuan Deventer. Adjat meraih gagang cangkir seng tersebut dan menenggaknya hingga tak bersisa.
Di kepala licik Danu, dia berpikir: ‘Biar mampus kamu Adjat, sore ini kamu boleh pamer kekuatan di depan Endah, tapi besok pagi badanmu akan remuk, lumpuh encok, dan tidak bisa bangun dari kasur!’ Danu tidak tahu kalau dosis F-3 ini jauh lebih tinggi dan bisa berakibat fatal bagi tubuh yang tidak bisa mentolerirnya.
Lonceng besar di dekat pos timbang berdentang keras sebanyak tiga kali, menandakan waktu kerja siang resmi dimulai kembali.