Iring-iringan tandu bambu berlapis karung rami itu akhirnya memasuki pekarangan rumah duka saat matahari sore mulai condong ke barat. Empat kuli panggul yang menggotong jasad Adjat melangkah dengan napas terengah-engah, meletakkan tandu darurat itu perlahan di atas lantai teras rumah yang bersahaja.
Di sepanjang jalur setapak, Endah berjalan tergugu tanpa henti, air matanya terus mengucur deras membasahi lipatan kainnya akibat syok mendadak kehilangan suaminya di paruh siang tadi. Isak tangis wanita itu seketika memecah kesunyian Kampung Limbangan, memancing kedatangan para tetangga dekat yang langsung berhamburan keluar rumah untuk membantu.
Tanpa membuang waktu, beberapa perempuan tua di kampung segera menuntun Endah masuk ke dalam kamar, sementara para lelaki sigap mengangkat jasad Adjat menuju ruang belakang.
Daun pintu dan jendela kayu dibuka lebar, aroma uap air rebusan daun pandan dan daun bidara mulai menguar tipis ke udara. Di bawah guyuran air gentong dingin bercampur dedaunan tadi, jasad Adjat yang kaku dan membiru mulai dibersihkan secara khidmat.
Sekitar tiga puluh menit berselang, derap langkah kaki beberapa orang terdengar mendekati pekarangan rumah duka. Mandor Danu berjalan dengan langkah kaku paling depan. Setelah menempuh jarak ratusan meter melintasi batas kampung, ia akhirnya bersama Pak Lurah Dadang Koswara dan Kokolot Sutisna tiba di rumah duka.
Berbekal Surat Keterangan Kematian palsu dari Mantri Supardi yang tersimpan di dalam saku bajunya, Danu melangkah dengan wajah yang mati-matian ia buat tenang, meski batinnya gemetar ketakutan melihat ramainya pelataran rumah duka.
Pak Lurah Dadang Koswara yang mengenakan beskap hitam dan totopong Sunda rapi, melangkah naik ke atas tepas didampingi Kokolot Sutisna. Kehadiran dua pamong tertinggi wilayah itu seketika membuat riuh kasak-kusuk tetangga di halaman mendadak senyap. Tatapan mata orang-orang kampung tertuju patuh pada otoritas desa mereka yang kini bersiap melangkah masuk ke dalam rumah untuk menemui pihak keluarga Endah yang sedang berduka.
Pak Lurah melangkah masuk ke ruang tengah, diikuti oleh Kokolot dan Mandor Danu yang berjalan mengekor di belakang. Di atas tikar pandan yang tergelar, Endah masih terduduk lemas bersandar pada dinding papan, dikelilingi oleh sanak saudara dan mertuanya, Mak Erot, yang terus terisak sembari memegangi jari-jari kaku jenazah anaknya. Kehadiran para petinggi kampung itu seketika membuat suasana duka berganti takzim.
Pak Lurah mengambil posisi duduk bersila di hadapan keluarga duka. Ia membetulkan letak beskap hitamnya, lalu merogoh saku untuk mengeluarkan lembar Surat Keterangan Kematian resmi berstempel poliklinik dari Mantri Pardi yang tadi diserahkan oleh Danu.
"Mak, Endah... ieu kuring mawa surat resmi ti klinik kebun," ujar Pak Lurah dengan nada suara yang sengaja dibuat berat dan berwibawa. "Berdasarkan pamandangan medis, si Adjat teh maot lantaran katinggang angin jahat. Jantungna teu kuat nahan hawa tiris lereng pas keur digawe beurang tadi. Ieu geus jadi katangtuan ti ditu."
Mendengar penjelasan resmi tersebut, Mak Erot langsung mengusap air matanya menggunakan ujung kebayanya. Dada perempuan tua itu naik-turun menahan perih, namun kepalanya tampak manggut-manggut pasrah pasrah.
"Muhun... leres pisan ari tos takdir mah, Pak Lurah," timpal Mak Erot dengan suara parau yang bergetar. "Bapana si Adjat oge, sepuluh taun kapengker maotna teh sami jiga kieu. Katinggang angin jahat pas nuju macul di sawah. Sapertosna mah turunan ti bapa."
Pak Lurah mengangguk khidmat, menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. "Leres, Mak. Sadaya yuswa mah kagungan Gusti Allah. Urang salaku manusa mung tiasa nampi. Sing ikhlas, muga-muga almarhum dihampura sadaya kalepatanana."
Perbincangan hangat bernuansa agama dan kepasrahan takdir itu terus mengalir di ruang tengah, membuat alibi palsu sinder Belanda resmi terkunci mati tanpa ada satu pun warga kampung yang menaruh curiga.
Namun, di sela-sela kalimat bijaknya tentang keikhlasan takdir, sepasang mata Pak Lurah diam-diam mulai bergerak liar. Di balik kacamata bulatnya, ia melirik ke arah Endah yang sedang menangis tergugu di pojok sembari merapikan kainnya yang sedikit tersingkap.
Sebuah seringai disertai tatapan berkilat penuh arti mendadak muncul di wajah Pak Lurah, bagai ajag (anjing hutan) yang mengintai mangsa baru yang kini siap ia buru setelah status Endah berubah menjadi janda.