MISTERI LANDHUIS GOALPARA

Heru Sanjaya
Chapter #33

MANIFES AKHIR PABRIK DAN MALAM TAHLILAN

Lonceng besar pabrik pengolahan teh sudah berdentang sejak pukul lima subuh, mengawasi pergerakan Mandor Subagja yang sibuk memimpin belasan buruh mesin.

Di bawah tatapan lurus Sinder Deventer yang berdiri memegang arloji peraknya, Mandor Subagja menyelesaikan proses penyemprotan cairan "teh penambah stamina" dari tabung pompa kuningan ke atas hamparan seratus kilogram daun teh kering di meja sortasi. Setelah kabut kimia itu merata, tumpukan daun teh segera dimasukkan ke dalam mesin oven pengeringan akhir untuk membuang kadar airnya sebelum dikemas ke dalam peti-peti khusus.

Di sela-sela deru mesin oven yang menderu panas, kasak-kusuk di antara para buruh pabrik mulai menjalar secara berbisik. Mereka patuh bekerja, namun batin mereka disergap kebingungan mendalam setelah melihat kondisi rekan-rekan mereka, lima orang kuli pikul yang meminum teh maut itu kemarin siang.

Seorang buruh perempuan setengah berbisik mengeluhkan keanehan rekan-rekan kuli pikul yang mendadak linglung, tidak fokus saat diajak mengobrol, dan terus-menerus mengantuk berat selepas Isya semalam setelah meminum teh dari Tuan Besar.

Tepat pukul delapan pagi, kabut tipis lereng Goalpara mulai terangkat oleh terik matahari saat Cecep melangkah memasuki pintu besar pabrik pengolahan. Sesuai izin yang ia sampaikan kepada Sinder Deventer kemarin sore pascatragedi kematian Adjat, Dia baru bisa datang terlambat karena harus mengikuti prosesi pemakaman sahabatnya terlebih dahulu di pekuburan Kampung Limbangan. Meskipun pakaiannya rapi, namun matanya terlihat merah akibat semalaman terjaga di rumah duka.

Cecep tidak langsung menuju meja kerjanya. Ia melangkah lurus melewati deretan mesin menuju area oven pengeringan, tempat Mandor Subagja sedang berdiri tegak mengawasi uap panas yang keluar dari corong besi.

Sebagai pria yang rendah hati, Cecep menyapa lebih dulu dengan senyum ramah yang tulus, “Wilujeng enjing, Kang Mandor," sapa Cecep, mengucapkan salam dengan suara cukup keras di sela deru mesin pabrik.

Mandor Subagja menoleh, wajahnya yang berpeluh seketika sumringah melihat jurutulis “bodoh” itu sudah datang.

"Selamat pagi, Kang Cecep!" jawab Subagja, membalas sapaan tersebut dengan sopan.

Cecep melangkah lebih dekat ke sisi mesin, berpura-pura mengamati tumpukan daun teh yang sedang diputar di dalam oven.

"Ini seperti biasa 'kan, Kang? Pesanan khusus 'teh penambah stamina' dari Tuan Besar?" tanya Cecep memancing obrolan basa-basi yang tampak wajar di telinga sang mandor.

Subagja mengangguk, lalu mengecilkan volume suaranya agar tidak terdengar buruh lain.

"Iya, benar, Kang Cecep. Oh iya, Kang, urusan si Adjat meninggal di tanjakan kemarin siang itu... apa benar dia kena angin jahat gunung?"

"Iya, benar, Kang. Ketentuan resmi dari poliklinik kebun semalam memang menyatakan begitu, Adjat kena serangan angin duduk karena hawa dingin lereng setelah makan siang."

Mendengar jawaban Cecep, Subagja menghela napas panjang. “Kasihan sekali si Endah, baru nikah sudah jadi janda.

Di saat itulah, Cecep menggeser posisi berdirinya lebih rapat ke dekat oven. Ia melirik sekilas ke arah tumpukan daun teh kering F-1 yang baru saja keluar, lalu menatap Subagja dengan senyum santai sesama lelaki dewasa.

"Kang Bagja, saya kan masih terhitung pengantin baru," bisik Cecep setengah bergurau, melancarkan rayuan taktisnya. "Kalau boleh, saya minta sedikit daun teh penambah stamina ini. Mau coba, benar tidak khasiatnya bisa bikin kuat nanti malam di kamar."

Mendengar kelakar pengantin baru itu, Mandor Subagja seketika terkekeh sambil menyenggol pelan bahu Cecep. Di dalam batinnya yang paling dalam, Subagja sebenarnya sempat tergoda untuk ikut mencuri segenggam teh maut tersebut demi “olahraga” ranjang bersama istri mudanya malam nanti.

Namun, sang mandor mendadak teringat pada kondisi kuli-kuli kekar yang linglung, kehilangan fokus, dan badannya remuk linu setelah meminum teh tersebut. Hasratnya runtuh seketika, ‘Ah, mending pakai yang alami saja, telur bebek campur madu!’ batin Subagja meyakinkan dirinya sendiri.

Lihat selengkapnya