MISTERI LANDHUIS GOALPARA

Heru Sanjaya
Chapter #34

KEDATANGAN TIM AUDITOR DARI BATAVIA

Raungan mesin sedan Fiat Tipo 507 berwarna hitam mengkilap memecah kesunyian emplasemen Pabrik Goalpara. Dari balik jendela loket kayu kantor pabrik yang buram oleh uap teh, Cecep menghentikan goresan penanya.

Mobil mewah dari Batavia itu melintas pelan di depan kantor sebelum nantinya menanjak menuju landhuis di atas bukit.

Tuan Besar Herman van Persie dan Sinder Deventer sudah berdiri di pelataran pabrik dengan setelan dinas putih mereka yang rapi. Senyum Herman mengembang penuh percaya diri, menyambut tiga orang pria Eropa berpakaian jas linen yang turun dari mobil.

Tim Auditor dari Dienst der Belastingen (Dinas Pajak/Bea Cukai Batavia) akhirnya tiba. Setelah basa-basi singkat, kepala tim auditor membagi tugas secara efisien. Dua auditor bergerak menuju landhuis untuk memeriksa pembukuan keuangan, sementara sang auditor kepala—Tuan Van Dijk, pria paruh baya berbadan gemuk dengan kumis tebal—melangkah masuk ke dalam kantor emplasemen pabrik tempat Cecep dan Deventer berada.

"Selamat siang. Saya membutuhkan buku log timbangan tahun ini untuk mencocokkan fisik produksi," ujar Tuan Van Dijk dalam bahasa Melayu formal yang kaku.

Sinder Deventer langsung sigap. Ia melirik tajam ke pojok ruangan. "Cecep! Serahkan weegboek tahun ini ke Tuan Van Dijk! Jangan bikin malu!" seru Deventer.

Cecep langsung memasang wajah melongo bodohnya. Ia berdiri dengan gestur kikuk, membetulkan letak kacamatanya yang turun, lalu mengambil buku log tebal di atas mejanya. Dengan membungkuk-bungkuk berlebihan khas pribumi yang ketakutan, Cecep menyerahkan buku itu kepada Van Dijk. Herman dan Deventer hanya menggelengkan kepala, mengira juru tulis baru itu cuma gemetar melihat orang kota.

Tuan Van Dijk duduk di meja sinder Deventer, membalik halaman demi halaman buku log dengan mata menyipit bosan. Di jam-jam pertama, Deventer berdiri tegap di sampingnya, mengawasi dengan ketat untuk memastikan tidak ada kesalahan data. Namun, mengaudit angka timbangan adalah pekerjaan yang menjemukan.

Dua jam berlalu, dan lembaran buku log baru menyentuh pertengahan tahun. Kewaspadaan Deventer mulai rontok oleh rasa jenuh. Ia mulai berjalan mondar-mandir, mendengus bosan, hingga akhirnya melangkah ke selasar luar dekat jendela untuk menyalakan pipa tembakaunya dan berbicara dengan mandor di lapangan. Tuan Van Dijk terus membalik halaman hingga jemarinya tiba di sepertiga akhir buku—bagian pencatatan untuk bulan Desember 1926.

Sreeek. Jemari Van Dijk merasakan ganjalan tebal di balik lembaran kertas buram. Sebuah amplop cokelat kecil yang kusam merosot keluar.

Van Dijk tertegun. Dengan gerakannya yang sangat tenang dan berhati-hati agar tidak memicu suara, ia membuka lipatan kertas buram yang membungkus amplop tersebut. Sepasang matanya yang tua membaca tulisan teks Melayu pasar yang kaku milik Cecep: “TUAN AUDITOR yang baik. Silakan periksa teh dalam amplop ini. Teh ini mengandung obat bius yang disalahgunakan Tuan Besar untuk diselundupkan ke Eropa.”

Warna kemerahan di pipi gemuk Van Dijk memudar, berganti pucat pasi. Alisnya terangkat tinggi saat melirik ke dalam amplop yang berisi sejumput daun teh hitam yang mengilap ganjil karena lapisan gliserin. Jemarinya juga bisa merasakan sensasi lengket saat merabanya. Tampilan yang tidak lazim dalam industri teh.

Tanpa menoleh ke arah jendela tempat Deventer berada, tangan kiri Van Dijk bergerak secepat kilat memasukkan amplop beserta memo itu ke dalam saku jas linen putihnya. Ketika ia mendongak, matanya membentur sosok Cecep yang sedang berpura-pura sibuk merapikan botol tinta dengan wajah linglung. Saat pandangan mereka bertemu, Van Dijk memberikan satu anggukan samar yang sangat tipis sebelum menutup buku log.

Malam harinya, di dalam kamar hotel tempat mereka menginap di pusat kota Sukabumi, Tuan Van Dijk mengumpulkan kedua rekannya. Ia mengeluarkan amplop dari saku jasnya dan menceritakan temuan mengerikan di pabrik Goalpara.

Lihat selengkapnya