LOLONGAN ANGIN DI UJUNG MAGHRIB
Senja Terakhir Sebelum Hilangnya Jejak
✧ ─── ⚖ ─── ✧
BAGIAN 01 : SANGKAKALA SENJA DAN SIRAMAN AIR KELAPA GADING
Ketika langit memar dan batas suci mulai dilanggar | Waktu: 17:55 WIB — Lima Menit Menuju Hilangnya Sinar Mentari
⋆⋅☆⋅⋆
Langit di atas punggung bukit Girilingsir tidak lagi sekadar temaram; ia memar keunguan serupa lebam bekas hantaman benda tumpul, lalu perlahan tercekik oleh jelaga kelabu yang merayap turun dari puncak Alas Singget. Di lereng terjal ini, waktu senja tak pernah terasa seperti peralihan hari yang wajar. Ada keheningan yang terlalu rapat, jenis kesenyapan yang menekan dada hingga setiap hembusan napas terdengar seperti decit engsel pintu berkarat. Angin gunung berhembus membawa aroma tanah lembap bercampur busuknya dedaunan paku yang membusuk di jurang, namun kali ini ada sesuatu yang menyisip di antaranya: anyir pekat yang samar, dingin menusuk tulang sumsum.
Di teras rumah panggung kayu jati yang telah berdiri lebih dari satu abad, Mbok Darmi berjongkok dengan napas tersengal. Tubuhnya yang ringkih dibungkus kain jarik lusuh motif parang rusak, gemetar menahan bobot tempurung kelapa gading hijau di kedua belah tangannya. Jemarinya yang berkerut dan bernoda getah tembakau meneteskan air kelapa itu ke sepanjang celah kayu ambang pintu—tiga percikan di sisi kiri, tiga di sisi kanan, dan satu basuhan panjang di tengah-tengah. Setiap tetes air yang menyentuh kayu mengeluarkan desis lirih, seolah-olah papan jati yang dingin itu mendadak terbakar oleh bara tak kasatmata.
"Ibu, sudahlah. Kayu teras itu sudah basah kuyup sejak ashar tadi," suara Rafan terdengar datar, namun di balik kerongkongannya ada getaran kering yang dipaksakan. Pemuda dua puluh empat tahun itu berdiri di dekat tiang penyangga utama. Jemarinya mencengkeram erat gulungan serat lontar bertali ijuk hitam yang terselip di balik jaket kanvas tebalnya. Wajahnya yang tirus tampak pucat di bawah pantulan langit barat yang sekarat. Lingkar hitam di bawah matanya adalah saksi bisu dari lima malam tanpa tidur—lima malam di mana suara perempuan parau itu terus melantunkan sekar macapat duka tepat di belakang daun telinganya.
Mbok Darmi tidak langsung mendongak. Tangannya yang basah mengusap pelan lantai papan, lalu matanya yang keruh oleh katarak menatap lurus ke arah kedua mata Rafan dengan tatapan yang menyayat. "Kowe ora ngerti opo-opo, Fan," bisik perempuan tua itu parau, nyaris tanpa desah udara. "Banyu degan ijo iki dudu kanggo ngresiki bledug. Iki wates getih. Sakdurunge beduk maghrib tuntas ditabuh ing surau kulon, sikilmu ora kena napak ing lemah lurung. Yen kowe nekad... kowe ora bakal mulih dadi menungso."
Rafan menelan ludah, namun tenggorokannya terasa tersumbat serbuk jelaga. Di sudut halaman, adiknya, Aris, berdiri mematung sambil memegang sebilah sabit pemotong bambu. Mata Aris bergerak gelisah mengamati kabut putih tebal yang mulai menelan pohon petai cina di batas pagar batu. Ada ketakutan purba yang mengambang di udara, dan Rafan tahu, peringatan ibunya bukan sekadar takhayul orang udik—melainkan jeritan terakhir sebelum jerat takdir mengencang.
∘₊✧──────✧₊∘
BAGIAN 02 : DENGUNGAN KIDUNG SUKMA NYI CONDROMOWO
Alunan tembang kematian yang meremukkan kewarasan | Waktu: 18:02 WIB — Sangkakala Angin Lembah Mulai Mengaum
⋆⋅☆⋅⋆
Telinga kiri Rafan mendadak berdengung kencang, bagai disengat lebah hutan raksasa. Dengungan frekuensi tinggi itu membakar gendang telinganya hingga ia harus memejamkan mata rapat-rapat dan mencengkeram kepalanya dengan kedua belah telapak tangan. Rasa sakitnya berdenyut sampai ke pangkal rahang. Dan kemudian, dari kedalaman dengungan itu, lahir suara yang membuatnya tercekat: sebuah tembang macapat Dhandhanggula, dilantunkan dengan cengkok yang begitu lambat, dingin, dan sarat kepedihan yang purba.
Suara itu bukan milik ibunya, bukan pula milik gadis-gadis pemetik teh di perkebunan bawah. Itu adalah vokal yang serak namun memiliki gema tak wajar, seperti suara seseorang yang menyanyi dari dasar sumur tua yang telah ditimbun batu puluhan tahun. Liriknya merayap jelas di rongga tengkorak Rafan: *"...sirna sukma pinanganten, nunggu janjine sang nata, patang puluh sanga warsa... bali marang guwa peteng..."*
Empat puluh sembilan tahun. Angka itu menghantam kesadaran Rafan bagai godam besi. Napasnya memburu, keringat dingin membanjiri pelipis dan membasahi kerah bajunya meski angin pegunungan membekukan kulit. Pandangan dunianya mendadak berputar goyah; pilar-pilar kayu rumah panggung seolah meliuk seperti batang tubuh ular sanca, dan warna lembayung di ufuk barat mendadak terkuras habis menjadi monokrom pucat yang mengerikan. Ia merasa seolah-olah separuh jiwanya telah tercabut dari raga dan ditarik oleh seutas tali kasatmata menuju rimba Alas Singget.
"Mas! Mas Rafan! Sadar, Mas!" Aris melompat ke anak tangga teras dan mencengkeram bahu kakaknya kuat-kuat. Cengkeraman itu begitu keras hingga kuku-kuku Aris menembus jaket kanvas, namun Rafan hampir tidak merasakannya. Yang ia rasakan hanyalah hawa beku yang memancar dari balik tengkuknya sendiri, seakan-akan ada sepasang bibir tak terlihat yang sedang berbisik tepat di pori-pori kulitnya.
"Aris... kamu tidak mendengarnya?" bisik Rafan, pupil matanya membesar dan terpaku kosong ke arah jalan setapak berbatu yang membelah rumpun bambu petung. "Dia memanggil nama Mbah Suro. Lalu dia menyebut namaku... Dia tahu aku membawa kitab ini, Ris. Dia tahu aku memegang janji kakek."
Aris menatap kakaknya dengan mata terbelalak ngeri. Pemuda sembilan belas tahun itu menoleh ke arah rumpun bambu di kejauhan. Tak ada sosok siapa pun di sana. Hanya kabut yang menggulung pelan dan ranting bambu yang saling beradu mengeluarkan suara ketukan teratur—*tok, tok, tok*—seperti langkah kaki seseorang yang pincang sedang mendekat tanpa tergesa.
∘₊✧──────✧₊∘
BAGIAN 03 : RETROSPEKSI KEMATIAN MBAH SURO & BAYANG-BAYANG 49 TAHUN