Misteri Malam Jum'at Kliwon

Amrullah Ibrahim
Chapter #2

GERBANG ALAS SINGGET

BAB 2: SEPEDA ONTEL DI AMBANG GERBANG ALAS SINGGET

Batas yang Dilarang Para Leluhur — Jejak yang Terhapus Kabut

✧ ─── ⚖ ─── ✧


Bagian 01 : Lengang yang Mengoyak Malam

Pematang Kabut dan Detak Jantung yang Menghakimi. (21:15 WIB)

⋆⋅☆⋅⋆

Malam di Desa Sukomulyo tidak pernah benar-benar mati; ia hanya menahan napas seperti binatang buas yang sedang mengintai mangsa dari balik rimbun rumpun bambu petung. Namun malam ini, udara dingin yang merayap turun dari lereng Pegunungan Sewu terasa berbeda. Kabut putih bergulung rendah di atas pematang sawah, tebal dan liat serupa getah perca, menyerap habis suara cengkerik dan dengung katak sawah sampai yang tersisa hanyalah denging tajam di rongga telinga Aris Bashif.

Langkah kakinya yang beralaskan sandal jepit karet terasa berat, menghujam lumpur pematang yang liat. Di belakangnya, derit obor daun kelapa kering—blarak—yang digenggam Pak RT Mulyo memercikkan bara merah ke udara basah, menebarkan bau sangit jelaga yang gagal menutupi aroma lain yang lebih purba: anyir tanah liat basah yang bercampur dengan sengatan kemenyan apak.

"Kita sudah terlalu jauh dari surau tua, Aris," suara Pak RT Mulyo memecah kesenyapan dengan nada yang sengaja direndahkan, namun gemetar di ujung lidahnya tak sanggup disembunyikan. Batuk kering orang tua itu terdengar hampa di antara desau angin. "Surau sudah gelap sejak Isya tadi. Kang Modin bilang Rafan bahkan tidak pernah menyentuh beduk magrib. Kalau dia tidak di surau, dia tidak mungkin ke arah barat. Ke barat itu jalan buntu, Aris. Jalan buntu yang menuju ke..."

Pak RT menelan ludah. Kata-kata itu menggantung di udara, membeku menjadi uap putih di depan kumis tebalnya yang mulai beruban. Dua pemuda ronda di belakang mereka, Teguh dan Bambang, merapatkan sarung lusuh mereka hingga ke batas dagu. Bambang memegang pentungan kayu jati dengan buku-buku jari yang memutih pucat, sementara sorot senter kaleng di tangan Teguh bergoyang tak tentu arah, menyapu ilalang tinggi yang bergoyang tanpa hembusan angin.

Aris tidak menjawab. Ia tidak mampu menjawab. Di balik dada kirinya, jantungnya berdegup seperti martil pandai besi yang menghantam pelat baja panas. Setiap denyut memompakan cairan rasa bersalah yang pekat ke ubun-ubunnya. Pikiran Aris berputar liar, terperangkap dalam bilik kecil ingatannya sendiri yang sempit dan menyesakkan. Mengapa ia membiarkan Rafan mengayuh ontel itu sendirian? Mengapa amarah kekanak-kanakan di sudut pawon tadi sore harus dibayar dengan kekosongan yang mencekik ini?

"Aris, dengar kata orang tua!" sergah Pak RT lagi, kini jemarinya yang kapalan mencengkeram lengan jaket levis kusam milik Aris. Cengkeraman itu dingin, sedingin lumut batu kuburan. "Batas Alas Singget tinggal dua ratus meter di depan. Tidak ada anak desa ini yang waras melangkahi jembatan bambu setelah matahari tenggelam. Kakek buyutmu sendiri yang memasang rajah di gapura batu itu. Kau mau menantang apa yang sudah dikunci selama empat puluh tahun?"


∘₊✧──────✧₊∘


Bagian 02 : Ranji Besi Tua dan Putaran Waktu yang Sakit

Roda yang Berputar Tanpa Angin di Tepi Jurang Pamali. (21:23 WIB)

⋆⋅☆⋅⋆

Langkah Aris tersentak kaku saat sorot lampu senternya menangkap pendar pantulan mata kucing di kejauhan. Pendar merah tembaga itu menyala di antara dua pilar batu hitam setinggi tiga meter yang berdiri condong dimakan akar beringin pencekik: Gapura Alas Singget.

Teguh di sampingnya mengeluarkan erangan tertahan. Cahaya senter kalengnya yang kekuningan bergetar hebat saat menumbuk pemandangan di mulut celah batu itu. Di sana, tepat di atas garis tanah yang membatasi rumput gajah desa dan humus hitam pekat hutan larangan, tergeletak miring sebuah sepeda ontel tua Phoenix buatan tahun 1960-an berwarna hijau lumut kusam.

Itu sepeda milik Rafan. Sepeda peninggalan almarhum bapak mereka, dengan sadel kulit sapi yang telah retak-retak seribu dan keranjang kawat berkarat di depan.

Namun yang membuat bulu kuduk keempat lelaki itu meremang serempak hingga ke dasar sumsum tulang bukanlah fakta tergeletaknya sepeda itu—melainkan roda depannya. Roda depan berbahan besi krom kusam itu masih berputar. Berputar perlahan, teratur, tanpa henti. Tidak ada embusan angin yang menyapu dedaunan di sekitar gapura; malam itu sunyi senyap laksana kuburan massal yang disegel, tetapi jeruji-jeruji besi itu terus membelah udara dengan bunyi ritmis yang menyayat:

Krik... krik... krik... krik...

Bunyinya ganjil, berat, seakan poros roda itu digerakkan oleh jemari tak kasat mata yang tersembunyi tepat di balik lapisan udara tipis. Setiap putarannya seolah menghitung mundur sisa kewarasan orang-orang yang memandangnya.

"Gusti Kang Murbeng Dumadi..." desis Bambang seraya melangkah mundur dua tapak, sarungnya tersangkut ranting perdu berduri hingga robek. "Sepeda itu... roda itu berputar dari arah berlawanan, Pak RT! Ban itu berputar mundur!"

Aris menepis cengkeraman Pak RT dengan sentakan kalap. Ia menerobos rintangan semak belukar basah, mengabaikan duri-duri liar yang merobek celana kainnya dan menggores betisnya hingga perih. Ketika kakinya hanya berjarak satu jengkal dari rangka sepeda yang tergeletak miring, bau anyir yang pekat menyergap hidungnya, menenggelamkan aroma tanah basah.

Di bawah sadel kulit yang koyak, tetesan cairan merah kehitaman menetes lambat. Bukan oli mesin. Cairan itu kental, menyerupai getah pohon randu yang membusuk bercampur lendir tembaga. Menetes pelan menimpa pucuk rumput berduri di bawahnya. Dan seketika tetesan itu menyentuh helai rumput hijau, daun-daun tersebut mendesis pelan, layu menghitam, lalu mengerut menjadi abu kering hanya dalam hitungan detik.


∘₊✧──────✧₊∘


Bagian 03 : Tasbih Terbelah dan Hantu di Ruang Makan

Retrospeksi Dosa Kata-Kata dan Pusaka Kayu Cendana. (21:30 WIB)

⋆⋅☆⋅⋆

Mata Aris terpaku pada setang sepeda sebelah kiri. Tergantung di sana, berayun pelan mengikuti irama putaran roda yang tak kasat mata, seuntai tasbih kayu cendana hitam. Butir-butirnya yang biasanya licin mengilap karena minyak pusaka kini tampak mengerikan: setiap butirnya—sembilan puluh sembilan butir kayu wangi peninggalan buyut mereka—telah terbelah menjadi dua bagian sempurna. Bukan terbelah akibat kapak atau pisau dapur; belahannya merekah dari dalam rongga tali, seolah kayu keras itu meledak karena tekanan energi batin yang tak tertampung.

Aroma wangi cendana yang menusuk hidung seketika membanting ingatan Aris kembali ke empat jam yang lalu, tepat di ruang pawon beralaskan tanah liat di rumah panggung mereka yang reyot.

Pukul 17:30 WIB. Azan Asar telah lama lewat, dan matahari tenggelam di balik punggung bukit seperti luka koreng yang membusuk. Di depan tungku kayu bakar yang hanya menyisakan abu dingin, Rafan duduk bersila sembari mengelap butiran tasbih itu dengan kain mori putih. Wajah kakaknya yang tirus tampak begitu letih, pipinya cekung dengan lingkaran hitam pekat di sekitar mata.

Lihat selengkapnya