PETI KAYU JATI BERUKIR ULAR DI LOTENG BASHIF
Dokumen Rahasia Warisan Terkutuk
✧ ─── ⚖ ─── ✧
BAGIAN 01 : Hawa Dingin di Bawah Seng Membara — Menembus Debu Enam Dekade
⋆⋅☆⋅⋆
Matahari rembang tengah mengganggang atap genting tua rumah panggung Bashif tanpa ampun. Di pekarangan bawah, udara memanggang Dukuh Girilingsir hingga tiga puluh tiga derajat Celsius, menyedot sisa-sisa uap air dari lumpur parit dan membakar daun-daun pohon jati hingga menggulung kering kelabu. Tanah merekah seperti kulit bangkai yang terbengkalai. Namun di sini—di sudut loteng yang terisolasi dari peradaban rumah selama lebih dari enam puluh tahun—kulit lengan Aris Bashif justru meremang kaku. Hawa dingin yang menyengat, tak masuk akal dan menusuk hingga ke sumsum tulang, merembes keluar dari celah papan kayu jati yang renggang.
Setiap kali Aris menghembuskan napas yang memburu, gumpalan uap putih tipis melayang keluar dari bibirnya yang mulai membiru. Fenomena ganjil yang menampar naluri kewarasannya: di luar tanah mendidih, di dalam loteng ia seolah terjebak di liang kubur beku di tengah musim salju yang gaib.
Dua puluh menit lalu, desas-desus warga di warung kopi Pasar Kliwon telah merobek batas kesabarannya yang paling tipis. Mereka berbisik tentang Rafan—kakak kandungnya yang kini meraung-raung di bangsal jiwa rumah sakit kabupaten, mengelupas kulit lehernya sendiri sembari menjerit bahwa ada sanca hitam berkepala manusia yang tengah melilit trakeanya. Mereka mengutuk trah Bashif. Mereka menuding ratusan hektar perkebunan karet keluarga ini dibeli bukan dengan jerih payah keringat, melainkan ditukar dengan kepala anak-cucu di setiap pergantian windu. Dan nama Aris, sebagai anak kedua yang baru saja menginjak usia dua puluh empat tahun, disebut-sebut warga sebagai 'giliran berikutnya yang telah tercium baunya oleh tanah pekuburan Girilingsir'.
Aris menatap linggis berkarat di genggamannya. Tangannya gemetar hebat, perpaduan antara amarah beracun dan ketakutan purba yang belum terpetakan. Debu loteng yang pekat menyengat hidungnya dengan aroma bangkai tawon kering, kotoran kelelawar lapuk, dan sesuatu yang jauh lebih ganjil: wangi kemenyan basah bercampur sengatan anyir tembaga karat.
Di depannya, gunungan karung goni berisi gabah kering dari panen tiga dekade lalu tergeletak seperti deretan mayat yang membusuk dalam diam. Ketika Aris merenggut karung-karung berdebu itu ke samping dengan napas terengah, logam linggisnya berdentang keras menghantam benda masif yang tersembunyi di sudut paling gelap di bawah rusuk reng atap.
Sebuah peti kayu jati hitam pekat. Berdiri bisu di tengah kebekuan yang kian merayap naik ke pergelangan kakinya.
∘₊✧──────✧₊∘
BAGIAN 02 : Ukiran Sang Penguasa dan Lenyapnya Bayangan — Menghadapi Sang Penjaga Gaib.
⋆⋅☆⋅⋆
Aris membeku. Udara di sekelilingnya seketika kehilangan bobot, menjadi begitu sunyi hingga deru denyut nadi di pelipisnya terdengar bagai dentum lesung bertalu-talu. Debu yang tadi beterbangan liar dalam berkas sinar matahari yang menembus celah genting mendadak berhenti melayang, seolah waktu di loteng itu dipaku mati oleh sebuah kehendak yang tak kasatmata.
Di hadapannya teronggok peti kayu jati kuno. Dimensinya sepanjang rentangan tangan pria dewasa, dengan permukaan kayu yang begitu hitam pekat hingga menyerap seluruh pendar cahaya lampu senter ponselnya. Namun yang membuat tenggorokan Aris tercekat hingga tak sanggup menelan ludah adalah relief timbul yang terpahat di seluruh dinding peti itu.
Ular sanca raksasa. Sisik-sisiknya diukir dengan detail mengerikan yang menonjol keluar dari urat kayu, meliuk melingkari badan peti dalam empat putaran simetris yang rapat. Dan pada ujung leher ular itu, terpahat sebuah kepala—bukan kepala reptil berahang lebar, melainkan paras seorang perempuan berwajah ningrat Jawa tempo dulu, bergelung konde kuno, dengan sepasang mata melotot tanpa pupil dan bibir yang ditarik membentuk seringai tipis yang dingin. Setiap lekuk ukirannya begitu hidup, seolah kayu jati itu dipahat saat makhluk tersebut masih bernapas dan darahnya dibiarkan meresap ke dalam pori-pori kayu.
KRAAAK.
Sebuah suara pergeseran sisik kering terdengar dari balik tumpukan reng atap tepat di atas kepalanya. Suhu loteng anjlok lagi hingga Aris dapat merasakan ujung-ujung jarinya mati rasa. Dari kegelapan sudut reng, seekor sanca hitam berkilau sepekat jelaga merayap turun perlahan. Matanya menyala kuning redup di keremangan, lidahnya menjulur tanpa desis suara. Binatang itu tidak menyerang; ia melata tepat ke atas tutup peti kayu, melingkarkan tubuhnya yang tebal di atas relief ukiran, lalu menatap Aris dengan tatapan yang membekukan darah.
Jantung Aris serasa berhenti berdetak. Ia terhuyung mundur hingga punggungnya membentur tiang penyangga loteng. Namun sebelum jeritan panik sempat melesat dari kerongkongannya, ular hitam itu tidak menerkam. Tubuh legamnya perlahan mengabur, memudar menjadi kepulan asap kelabu pekat yang membubung ke arah atap. Bau kemenyan Arab dan getah kepuh yang menyengat langsung memenuhi rongga dadanya, meninggalkan rasa pahit getir di ujung lidahnya.
Ular itu lenyap tanpa jejak. Hanya menyisakan gembok besi berkarat di lidah peti yang kini telah retak kuncinya, seakan kehadiran Aris memang telah dinanti selama puluhan tahun.
∘₊✧──────✧₊∘
BAGIAN 03 : Rajah Rajapathi dan Bilah Pembawa Maut — Penyibakan Tabir Keris Luk Pitu & Dokumen 1928
⋆⋅☆⋅⋆
Dengan lutut goyah dan jari-jari yang gemetar tak terkendali, Aris mendekati peti itu kembali. Karat pada gembok kuno itu telah rapuh seperti kerupuk gosong. Tanpa perlu diungkit dengan linggis, ia menyentuh gembok itu dan logam berat itu terlepas, jatuh menghantam papan lantai dengan debum hampa.