BISIKAN DARI SUMUR BUTA BELAKANG SURAU
Komunikasi Pertama Lintas Dimensi —
### Kabut Ashar dan Gemeresik Randu Alas
*Lembayung temaram yang mencekik napas dan bayangan purba surau tua*
Sisa gema azan Ashar baru saja tenggelam di antara ceruk-ceruk lembah perbukitan Menoreh, namun langit di atas surau kayu Kyai Usman telah kehilangan kehangatannya. Awan kelabu tebal merayap turun laksana selimut basah yang menindih pucuk-pucuk pohon randu alas di belakang bangunan tua itu. Angin tidak bertiup kencang, melainkan menyusup lamat-lamat lewat sela jeruji bambu, membawa aroma lembap lumut lapuk, getah pahit, dan sengatan samar bunga melati layu yang terasa ganjil menusuk hidung. Di tempat ini, waktu seolah berhenti berdetik, membiarkan bayang-bayang senja memanjang lebih cepat daripada hukum alam yang lumrah.
Aris Bashif melangkah kaku mengikuti punggung bungkuk Kyai Usman. Setiap desau rumput gajah yang terinjak oleh sandal jepitnya terdengar seperti jeritan tertahan di dalam telinganya sendiri. Jantung Aris berdegup tak beraturan, membentur dinding dadanya dengan kepedihan yang familier—kepedihan yang telah mengendap selama sepuluh tahun sejak malam jahanam ketika Rafan, kakaknya, melangkah keluar dari pekarangan rumah dan tidak pernah kembali lagi. Selama sepuluh tahun itu, Aris hidup dalam penjara rasa bersalah: andai saja malam itu ia tidak merengek meminta buah jambu alas di tepi hutan, andai saja ia tidak membiarkan Rafan pergi sendirian menembus pekatnya kabut.
Kini, lelaki tua di depannya berhenti tepat di batas semak belukar yang telah dibabat separuh. Jubah putih Kyai Usman yang telah memudar kekuningan terkibas pelan oleh hembusan angin dari arah tebing jurang. Tangan kanan sang kyai yang berurat kebiruan menggenggam seuntai tasbih kayu cendana hitam legam, sementara jemari kirinya mendekap erat sebuah kendi tanah liat kecil berleher sempit yang disumbat rajah daun bidara kering. Aris memperhatikan bagaimana telapak tangan sang sesepuh bergetar halus—getaran yang belum pernah ia lihat sekalipun dalam diri sosok yang selama ini dikenal sebagai tiang ketabahan desa.
"Kita sudah sampai, Aris," bisik Kyai Usman. Suaranya serak, rendah, dan bergetar dengan beban yang seolah mampu meretakkan batu padas. Lelaki tua itu tidak menoleh, pandangannya terkunci lurus ke arah sebuah gundukan batu kali melingkar yang nyaris tertelan akar rambat liar di sudut paling tersembunyi di balik surau. "Ingat semua wanti-wanti yang kukatakan di serambi tadi. Jangan lepaskan genggaman jemarimu dari tasbih ini, dan apa pun yang terjadi, jangan pernah biarkan sepasang matamu mencari bayangan wajahmu sendiri di antara celah kayu itu."
---
### Rongga Kering di Balik Papan Berlumut
*Sumur buta yang menolak mati dan menguapkan aroma liang lahat*
Di hadapan mereka terbentang sebuah sumur buta. Dinding lingkarannya tersusun dari batu kali hitam yang direkatkan oleh getah pohon dan kapur kuno, berlumut tebal hingga menyerupai kulit buaya yang membatu. Bibir sumur selebar satu setengah depa itu ditutupi oleh empat bilah papan kayu jati tebal yang telah menghitam dimakan usia, dipaku melintang dengan rantai besi berkarat yang melilit longgar di sekelilingnya. Konon, sumur itu telah mengering sejak zaman kakek buyut Aris masih kanak-kanak, ditinggalkan setelah tiga orang penggali sumur mendadak bisu dan meninggal berurutan dengan tubuh membiru tanpa sebab medis.
Namun, saat Aris mendekat hingga jarak dua langkah, bulu kuduk di sekujur tengkuknya berdiri tegak. Udara di sekitar sumur terasa anjlok beberapa derajat lebih dingin dibandingkan halaman surau. Dingin yang menusuk itu bukan dinginnya embun pegunungan biasa, melainkan dingin yang menggigit tulang, hampa dan tak berjiwa, seolah-olah hawa beku dari kuburan purba sedang dipompa keluar perlahan-lahan dari perut bumi.
Dari sela-sela sempit di antara dua bilah papan jati, sebuah fenomena ganjil mulai menampakkan diri. Gumpalan kabut tipis berwarna keunguan merayap keluar pelan-pelan. Kabut itu tidak membubung ke langit bebas, melainkan bergulung malas di atas permukaan papan, merayap jatuh ke tanah basah seperti tumpahan minyak gaib. Bersamaan dengan kabut itu, menguar aroma yang membuat lambung Aris bergejolak mual: perpaduan antara kesegaran harum kembang melati yang baru dipetik dengan anyir pekat tanah basah galian liang lahat yang baru diguyur hujan lebat.
"Kenapa... kenapa sumur kering ini masih mengeluarkan hawa seperti ini, Kyai?" bisik Aris, suaranya tercekat di kerongkongan. Rasa dingin mulai merembes lewat sol sandalnya, merayap ke betis hingga membuat kedua lututnya gemetar hebat. Pikiran warasnya berteriak menyuruhnya berbalik dan berlari sejauh mungkin dari tempat terkutuk itu, namun jeritan kerinduan di dasar dadanya memaku kedua kakinya di tanah. "Apakah Rafan benar-benar ada di bawah sana? Di kedalaman tiga puluh meter yang gelap gulita ini?"
---
### Resonansi di Rongga Dada
*Rintihan yang tidak merambat lewat udara, melainkan meremukkan tulang rusuk*
Kyai Usman menghela napas panjang yang terdengar berat dan tersiksa. Sang kyai melangkah maju, meletakkan kendi tanah liat berisi air doa tujuh sumur di atas batu penopang, lalu memberi isyarat dengan anggukan kepala yang getir. "Tempelkan telingamu ke celah papan tengah itu, Aris. Tapi ingat, hanya telingamu. Jagalah pandanganmu agar tetap terpejam rapat. Sekali matamu menangkap apa yang ada di dasar sana sebelum batinmu siap, jiwamu akan tersedot dan terbelah menjadi dua di alam pengasingan."
Dengan napas tertahan dan jantung yang berdegup bagai genderang perang, Aris berlutut di atas tanah lembap berlumut. Dinginnya batu sumur menyengat telapak tangannya saat ia bertumpu pada bibir sumur. Perlahan, ia memiringkan kepalanya, mendekatkan daun telinga kirinya ke celah selebar dua jemari di antara papan jati yang menghitam. Seketika itu juga, dunia di sekitar Aris seolah lenyap; desau angin di dedaunan randu memudar, kicau burung prenjak senja terputus, dan hanya tersisa dengung hampa yang berputar-putar di dalam rongga sumur.
Lalu, dari kedalaman jurang yang pekat tanpa batas, suara itu terdengar.
Suara itu tidak datang dari udara, melainkan beresonansi di dalam rongga dada Aris sendiri. Dingin yang merayap dari bibir sumur membuat jemari Aris membiru seketika. Itu bukan suara teriakan yang melengking, melainkan rintihan serak yang putus-putus, tercekik oleh tarikan napas yang kepayahan, seolah sang penutur sedang berbicara sambil menanggung beban berton-ton batu yang menindih dadanya. Setiap suku kata menggetarkan tulang rusuk Aris dengan ritme yang menyiksa batin.
"...d-dingin... gelap sekali di sini, Gusti... jangan biarkan mereka... jangan biarkan mereka menyatukan tubuhku dengan akar randu... Aris... kamu di mana, Le?..." rintihan itu bergema lembut namun menusuk tepat ke pusat kesadaran Aris. Napas Aris tersengal, air matanya merebak tanpa bisa dibendung. Suara serak itu, cengkok pelan di ujung kata 'Le' yang khas, tarikan napas pendek yang selalu muncul saat Rafan kelelahan—semuanya adalah milik kakak kandungnya yang telah hilang ditelan bumi sepuluh tahun silam.
---
### Peringatan Kyai Usman & Ancaman Kolo Gumarang
*Dilema moral di tubir sumur: menolong darah daging atau terperosok jerat iblis peniru*