Misteri Malam Jum'at Kliwon

Amrullah Ibrahim
Chapter #8

BAYANGAN DI CERMIN TEMBAGA

BAYANGAN DI CERMIN TEMBAGA: SUARA RAFAN YANG MEMOHON

*Peringatan Terakhir Sebelum Pintu Tertutup* 

✧ ─── ⚖ ─── ✧


Bagian 01 : Hawa Beku Jam Dua Empat Lima - Rembesan Embun dan Detak Jarum yang Tercekik

⋆⋅☆⋅⋆

Dini hari di Rumah Keluarga Bashif selalu menyimpan keheningan yang bernanah. Bukan jenis hening yang menenangkan pikiran, melainkan kesenyapan ganjil yang menekan gendang telinga seperti berada di dasar palung laut berlumpur. Kayu jati penopang langit-langit berderit pelan tanpa hembusan angin, seolah memikul bobot ratusan pasang mata yang mengintip dari rongga genteng tanah liat. Di kamar ini—kamar Rafan yang telah terkunci selama lima malam berturut-turut—bau apek kain basah bercampur dengan sangit getah damar yang dibakar di sudut meja. Setiap tarikan napas Aris terasa getir, menggores tenggorokannya dengan sensasi abu dingin yang tak kasat mata.

Aris duduk mematung di bibir dipan kayu beralas kasur kapuk yang belum dirapikan sejak kakaknya raib. Tangannya gemetar di atas lutut, meremas sebilah parang tua bersarung kulit sapi milik mendiang kakek mereka. Matanya yang merah terpaku pada dinding barat, tepat di mana sebuah cermin oval berbingkai tembaga tebal tergantung kaku. Koco Benggala. Cermin pusaka itu seharusnya ditutup dengan mori hitam pekat sebagaimana wasiat buyut mereka: “Yen ana getih Bashif sing ilang tanpa tapak, tutupi kabeh pangilon. Bayangan sing keri ing jero kaca bisa dadi kori tumrap lelembut sing arep ngijoli nyawa.” Namun kain mori itu kini tergeletak di lantai, teronggok bagai bangkai gagak yang dipelintir lehernya.

Aris yang melepaskannya setengah jam yang lalu. Rasa putus asa telah menggerus kewarasannya hingga ke lapisan paling rapuh. Lima hari tanpa kabar, lima hari hanya mendengar tangis histeris Ibu di ruang tengah, dan lima hari menyaksikan para tetangga desa menggelar tahlil dengan tatapan kasihan yang terasa berjarak dan dibuat-buat. Aris butuh petunjuk, kendati harus melanggar pamali paling keramat dalam silsilah darah Bashif.

Di sudut kamar, jam dinding bandul kayu jati mendadak mengeluarkan bunyi gerigi beradu yang kasar—krek... klak... krek—sebelum ayunan kuningan itu terhenti tepat di angka dua lewat empat puluh lima. Hening kembali menyergap dengan bobot yang berlipat ganda. Udara kamar merosot drastis hingga napas Aris mengepul putih di hadapannya. Hawa dingin itu bukan berasal dari celah jendela krepyak yang terkancing rapat, melainkan merembes langsung dari permukaan cermin tembaga di depannya.


∘₊✧──────✧₊∘


Bagian 02 : Rajah yang Menangis dan Cakar Embun - Pesan Terbalik dari Balik Ketebalan Kaca

⋆⋅☆⋅⋆

Embun tebal mulai merayap di permukaan kaca. Mulanya hanya berupa kabut tipis keperakan, serupa uap air pada cangkir teh panas yang terlupakan di beranda. Namun dalam hitungan detik, kabut itu memadat menjadi lapisan es buram yang menyelimuti seluruh pantulan kamar. Aris bangkit perlahan, bulu kuduk di sepanjang tengkuknya meremang kaku seperti ditusuki jarum-jarum es. Ketika ia melangkah maju dua tapak, bau anyir karat tembaga bercampur getah damar terbakar menyeruak begitu menusuk hidung hingga perutnya mual melilit.

Ada yang bergerak di balik lapisan embun itu.

Bukan bayangan Aris. Sosok di balik kaca itu bergerak dari arah yang berlawanan, merangkak tertatih dengan pundak yang miring tak wajar. Terdengar bunyi decit tajam yang membuat ngilu persendian—suara ujung kuku manusia yang menggores permukaan kaca dari sisi dalam. Huruf demi huruf terukir dalam gerak patah-patah yang putus asa, mengikis embun tebal dari balik dunia sana. Guratan itu terbalik dari sudut pandang Aris, ditulis dengan tekanan begitu hebat hingga debu es berhamburan ke dasar bingkai kuningan.

J — A — N — G — A — N D — A — T — A — N — G S — E — N — D — I — R — I.

Jantung Aris serasa dihantam palu godam. Tulisan tangan itu miring ke kanan, dengan tarikan huruf 'g' yang melengkung tajam ke bawah—karakter tulisan tangan Rafan yang ia kenal sejak mereka masih belajar menulis aksara di bangku sekolah rakyat. “Mas Rafan...?” bisik Aris. Suaranya tercekat di kerongkongan, parau dan hancur bagai serpihan beling.

Sebagai jawaban, permukaan cermin mendadak bergetar hebat. Bingkai tembaga berukir rajah aksara Jawa kuno mengeluarkan dengung logam bernada rendah yang memekakkan telinga. Lapisan kaca yang semula padat melengkung keluar, menggelembung bagai selaput lendir tipis yang terisi air mendidih. Dua telapak tangan pucat menekan kaca tersebut dari dalam, meregangkan batas antara dua alam hingga urat-urat darah biru kehitaman di pergelangan tangannya terlihat begitu nyata. Wajah itu kemudian membentur permukaan kaca—bukan bayangan pantulan, melainkan wajah manusia hidup yang tercekik oleh kegelapan pekat.


∘₊✧──────✧₊∘


Bagian 03 : Sukma yang Terpenjara di Altar Batu Gilang - Lanskap Hitam Berdaun Darah dan Belenggu Beringin

Lihat selengkapnya