MISTERI PAVILIUN KAWEDANAN

Heru Sanjaya
Chapter #1

MENINGGALKAN HUTAN BETON

Ruang kerja di lantai empat gedung kementerian itu terasa dingin oleh embusan AC, namun kepala Bramantyo justru terasa panas. Di hadapannya, sebuah map jepit berwarna biru tua digeser oleh atasannya, Pak Hardi.

"Ini proyek pemetaan cagar budaya yang krusial, Bram," kata Pak Hardi sambil mengetuk map tersebut dengan ujung pulpen. "Wilayah Banyumas Raya. Banyak situs klasik abad kedelapan di lereng Gunung Slamet yang belum terdata secara makro oleh pusat. Saya butuh orang yang jeli di lapangan. Tugas ini berjalan satu tahun penuh."

Bramantyo Adhi Nugroho, seorang lelaki berusia dua puluh sembilan tahun lulusan Magister Arkeologi Universitas Indonesia, menatap lembar surat tugas di dalam map. Satu tahun bukan waktu yang sebentar untuk tinggal di lapangan. Namun, sebagai peneliti muda yang ambisius, benaknya langsung menangkap peluang karier yang besar.

"Satu tahun penuh, Pak?" Bram memastikan.

Pak Hardi mengangguk mantap. "Tunjangan operasional lapangan dan biaya sewa rumah sudah disiapkan oleh kementerian. Anggarannya flat, jadi kamu harus pintar-pintar mengaturnya di daerah nanti. Bagaimana?"

Tanpa ragu, Bram mengangguk. "Siap, Pak. Saya ambil tugas ini."

Malam harinya, riuh rendah suara klakson dan kemacetan jalanan Jakarta tidak lagi mengganggu pikiran Bram. Di dalam taksi daring yang membawanya pulang ke rumah kontrakan di jalan Dr. Saharjo, Tebet, Jakarta Selatan, Bram terus memandangi berkas proyek pemetaan tersebut. Pikirannya sudah melompat jauh ke daerah pinggiran Purwokerto yang asri dan sejuk.

Begitu melangkah masuk ke rumah, suasana sepi langsung menyambutnya. Di meja makan, Nadia, istrinya, sedang duduk bersandar memandangi layar laptop yang menyala. Wajah Nadia tampak kusam dengan lingkaran hitam di bawah mata yang tidak bisa disembunyikan.

Sudah hampir setahun Nadia bekerja sebagai manajer operasional sebuah perusahaan retail swasta di Jakarta, dan belakangan ini, stres kerja mulai mengikis kesehatannya.

"Belum tidur, Jeng?" tanya Bram sambil meletakkan tas kerjanya di kursi.

Nadia mengembuskan napas panjang, menutup laptopnya dengan kasar.

"Kerjaan kantor nggak ada habisnya, Mas. Kepala rasanya mau pecah. Target bulan ini naik lagi, belum lagi politik kantor yang makin nggak sehat."

Bram duduk di sebelah istrinya, menggenggam tangan Nadia yang terasa dingin. Pernikahan mereka sudah berjalan dua tahun lebih, namun mereka belum juga dikaruniai anak.

Bulan lalu, dokter kandungan mereka di Jakarta memberikan vonis yang cukup memukul batin: tingkat stres Nadia yang terlalu tinggi akibat tekanan kerja menjadi salah satu faktor utama yang menghambat program kehamilan mereka. Dokter menyarankan agar Nadia mencari suasana yang lebih tenang dan mengistirahatkan pikirannya.

"Jeng, aku punya kabar baru," kata Bram pelan, lalu menceritakan tentang surat tugas satu tahun ke Purwokerto yang baru diterimanya siang tadi. Nadia tertegun mendengarnya. "Satu tahun di Purwokerto, Mas? Terus aku gimana di sini?”

Bram tersenyum, mengusap jemari istrinya. "Justru ini momen yang pas, Jeng. Kamu resign aja dari kantormu. Kita tinggalin hutan beton ini. Anggap aja ini jalan dari Tuhan supaya kamu bisa lepas dari stres Jakarta. Di pinggiran Purwokerto udaranya masih bersih, tenang, dan asri. Di sana kita bisa fokus lagi ke program kehamilan kita tanpa diganggu urusan kantor."

Nadia terdiam cukup lama. Logika urban di kepalanya sempat menolak ide untuk melepaskan karier mapannya di Jakarta. Namun, saat melirik tumpukan berkas kantor di atas meja dan mengingat saran dokter kandungan, rasanya tidak perlu pertimbangan matang. Dia mendambakan ketenangan. Dia ingin hidup normal tanpa dikejar tenggat waktu.

"Kamu serius, Mas? Purwokerto beneran tenang?" tanya Nadia dengan tatapan yang mulai melunak.

"Beneran, Jeng. Suasananya cocok banget buat kamu healing," jawab Bram meyakinkan. Nadia akhirnya mengangguk pelan, sebuah senyuman tipis muncul di wajah lelahnya. "Ya udah, Mas. Besok aku ajukan surat resign ke HRD.”

Keputusan sudah diambil, namun urusan pindahan ternyata tidak segampang membalikkan telapak tangan. Selama dua minggu berikutnya, rumah kontrakan mereka di Jakarta dipenuhi dengan tumpukan kardus cokelat dan lakban.

Di sela-sela kesibukan Nadia mengurus berkas resign di kantornya, Bramantyo mulai pusing memikirkan akomodasi mereka selama di Purwokerto nanti.

Sebagai warga Jakarta, insting pertama Bram adalah membuka aplikasi properti di ponselnya. Selama tiga malam berturut-turut, dia menyaring pencarian kontrakan di pinggiran kota Purwokerto. Namun, Bram selalu menemui jalan buntu. Rumah-rumah yang ditawarkan di internet rata-rata berukuran biasa, dengan halaman seadanya. Begitu juga dengan perumahan klaster yang disewakan. Halaman depannya cuma cukup untuk menampung sebuah mobil keluarga.

"Nggak bakal muat, Jeng," keluh Bram pada suatu malam, sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Nadia yang sedang melipat baju. "Mobil proyek kita itu jip dinas yang besar. Belum lagi aku harus bawa tiga peti kayu besar isi teodolit, patok ukur, sama kotak sampel batuan dari kementerian. Kalo kita sewa rumah yang halaman depannya pas-pasan, bisa diomelin tetangga nanti, kalo jip dan alat-alat proyekku menutup jalan.”

Nadia yang sedang memasukkan baju ke dalam koper hanya mendengarkan sambil menimpali, "Kenapa nggak cari kos-kosan bulanan aja yang agak luasan, Mas?"

"Sama aja. Kos-kosan di pinggiran kota Purwokerto itu kebanyakan buat anak kuliah Unsoed," jawab Bram menggeleng. "Parkirannya rebutan, kamarnya bersekat sempit. Lagian, kita kan mau program hamil, Jeng. Kalo tinggal di kosan bising begitu, yang ada kamu tambah stres, nggak jadi healing."

Lihat selengkapnya