Udara pagi di pinggiran kota Purwokerto terasa berkali-kali lipat lebih dingin dibandingkan dinginnya embusan angin AC di dalam kamar kontrakan Jakarta. Kabut tebal yang bergerak turun lamban dari lereng selatan Gunung Slamet tampak menyelimuti seluruh pekarangan luas rumah bekas wedana, menyulap jajaran pohon sawo kecik berumur tua menjadi siluet-siluet berwarna kelabu.
Di dalam kamar paviliun berukuran 5 x 6 meter itu, Nadia merapatkan selimut tebalnya hingga menyentuh batas dagu, namun hawa dingin tetap saja memiliki cara tersendiri untuk berhasil menembus celah-celah selimutnya.
Tepat pukul tujuh pagi, keheningan yang menyelimuti kompleks kawedanan itu mendadak dipecah oleh raungan mesin diesel SUV off-road milik dinas kementerian yang tangguh. Bramantyo sudah tampak rapi dengan pakaian lapangan andalannya: celana cargo dari katun twill tebal dengan banyak kantong, jaket parasut hitam anti air, serta sepasang sepatu bot kulit yang berkilat bersih tanpa noda tanah.
Lelaki itu sedang sibuk memeriksa kembali isi tas ransel besarnya yang penuh berisi kompas bidik, lembaran peta topografi wilayah Banyumas, dan buku catatan lapangan.
"Jeng, aku berangkat ke lokasi dulu ya," kata Bramantyo sambil duduk di tepi ranjang, mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening Nadia yang masih terpejam.
"Tim teknis lapangan udah nunggu di posko ekskavasi awal daerah Baturraden atas. Kemungkinan besar aku harus menginap lima sampai enam malam di dalam tenda pleton proyek karena jalur pendakian naik ke atas gunung lagi sulit akibat longsoran kecil. Kamu baik-baik di sini, ya sayang!"
Nadia perlahan membuka kedua matanya yang masih terasa sangat mengantuk, menatap wajah suaminya dengan sorot mata yang tampak berat. Sisa keletihan akibat hubungan intim yang intens semalam masih mengendap di sana.
“Lima malam, Mas? Aku ditinggal sendirian di kompleks kawedanan sebesar ini?"
Bramantyo terkekeh pelan, mengusap rambut istrinya dengan penuh perhatian.
"Kan ada Pak Slamet. Kalo kamu ngerasa bosen bisa lihat-lihat kampung ini, ngobrol sama warganya.”
Bram bangkit dari tempat tidur. “O iya, kamu nggak lupa kan, bawa buku sketsa? Banyak obyek bagus lho untuk digambar. Mumpung banyak waktu, kamu bisa asah lagi bakatmu di sini. Kalo ada kebutuhan darurat yang mendesak, tinggal panggil aja Pak Slamet. Dia ada di kamar belakang rumah utama. Udah ya sayang, nanti aku kesiangan!” Bram sekali lagi mengecup kening istrinya.
Nadia hanya bisa mengangguk pasrah dengan helaan napas berat, melangkah pelan mengantar suaminya sampai ke teras paviliun.
Dia mendekap tubuhnya sendiri menahan embusan angin pagi yang menggigilkan sambil memandangi jip dinas dobel gardan milik Bram yang perlahan bergerak menjauh, berbelok ke kiri melewati gang tanah berbatu yang sunyi, hingga ke luar menuju jalan kabupaten.
Begitu deru suara mesin jip itu benar-benar lenyap, keheningan seketika itu juga langsung menyergap seluruh pekarangan kompleks kawedanan. Nadia berbalik arah, melangkah masuk kembali ke dalam ruang paviliunnya yang luas. Suara langkah kakinya di atas lantai tegel kuno terdengar bergema nyaring di plafon setinggi 4 meter, seakan menegaskan dengan pasti, bahwa dia sekarang benar-benar seorang diri di tempat asing ini.
Selama beberapa jam berikutnya dari pagi menuju siang, Nadia benar-benar bingung, apa yang harus dikerjakan. Sebagai mantan wanita karier di Jakarta yang selama bertahun-tahun terbiasa dengan ritme jadwal kerja yang padat, dering telepon kantor yang bising, dan hiruk-pikuk kemacetan jalan. Waktu luangnya di pinggiran kota Purwokerto saat ini sangat melimpah.
Dia mencoba membuka aplikasi Instagram di ponselnya untuk membunuh waktu, namun kejenuhan melihat foto-foto aktivitas teman kantornya di Jakarta yang sedang hangout di kafe Instagramable justru melipatgandakan rasa sepi dan memunculkan rasa penyesalan kecil di dalam dadanya; mengapa dia harus merelakan karier bagusnya demi ikut suami ke pelosok Banyumas.
Menjelang pukul dua belas siang, perut Nadia "berkerucuk" nyaring. Kulkas satu pintu di sudut dapur bersih paviliunnya masih kosong tanpa ada bahan makanan apa pun. Hanya tersisa beberapa buah apel yang dibelinya di perjalanan kemarin. Bertekad mengusir bosan dan rasa laparnya, Nadia mengikat rambutnya rapi ke belakang, mengambil dompet kulitnya, dan memutuskan ke luar kompleks kawedanan untuk mencari makan siang sekaligus melihat situasi lingkungan pemukiman sekitar.
Langkah kakinya membawa Nadia menyusuri gang besar yang dinaungi rimbunnya pohon sawo kecik yang tampak teduh dan sepi. Begitu mencapai tepi jalan kecamatan, pandangannya langsung menangkap penanda modernitas yang sudah tak asing lagi: sebuah plang papan nama warna-warni milik toko ritel waralaba Indoapril berdiri tegak di seberang jalan.
Di kanan-kiri jalan pinggiran kota Purwokerto ini, hamparan petak sawah hijau kekuningan membentang dengan latar belakang Gunung Slamet yang berdiri megah menembus gumpalan awan putih di langit.
Suasana kehidupan di sini terasa lebih lamban, berbanding terbalik dengan kecepatan hidup yang dia jalani di Jakarta selama ini.
Namun, tepat di sebelah kiri bangunan minimarket ber-AC yang tampak sepi itu, sebuah warung makan sederhana dengan spanduk vinyl bertuliskan "Warung Nasi Ramesan & Mendoan Mbak Lastri" terlihat sedang ramai dikerumuni oleh ibu-ibu desa. Bertekad ingin mencoba membaur secara nyata dengan lingkungan barunya sesuai dengan saran yang diberikan Bram, Nadia melewatkan pintu kaca minimarket modern itu dan memilih melangkah mantap masuk ke dalam warung ramesan tradisional tersebut.
Aroma gurih tempe mendoan panas yang baru saja diangkat dari wajan penggorengan besar, langsung menyapa indra penciuman Nadia saat dia melangkah masuk ke bawah naungan atap genteng warung yang tampak menghitam oleh asap. Suasana di dalam warung ramesan itu sangat riuh rendah. Tiga orang ibu-ibu lokal yang mengenakan pakaian daster bermotif batik sedang duduk santai berjejer di meja kayu panjang, mengobrol seru dengan volume suara yang lepas, blak-blakan, cepat dan menggunakan logat bahasa Jawa Ngapak Banyumasan yang sangat kental di telinga Nadia.