Sinar matahari di pinggiran kota Purwokerto menerobos masuk melalui celah-celah kaca buram jendela paviliun, melukis garis-garis cahaya kekuningan di atas lantai tegel kuno. Nadia terbangun dengan tubuh yang terasa agak kaku. Sisa hawa dingin malam seolah masih menempel di pori-pori kulitnya.
Dia melangkah ke kamar mandi dalam untuk membersihkan diri, menikmati ketersediaan fasilitas toilet dengan pipa ledeng dari zaman Belanda yang untungnya berfungsi dengan baik di dalam bangunan berukuran 8 x 12 meter ini.
Setelah berganti pakaian dengan kaus santai dan celana katun yang nyaman, Nadia melangkah ke arah dapur bersih di sudut belakang paviliun. Dia berniat menyeduh kopi, namun saat membuka pintu kulkas dan lemari kabinet kayu di atas kompor gasnya, dia baru teringat bahwa stok logistiknya masih kosong. Di kulkas cuma tinggal beberapa buah apel, sisa beli dari supermarket di perjalanan. Perutnya mulai mengeluarkan bunyi krucuk-krucuk yang halus.
Nadia berdiri termenung sesaat di depan meja dapur, memandangi jam dinding yang baru menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit pagi. Di jam seperti ini, jika masih berada di Jakarta, dia pasti sedang didera stres hebat: berdiri berdesakan di dalam gerbong kereta komuter yang pengap, atau mengumpat di dalam taksi online karena terjebak kemacetan parah demi mengejar absen kantor.
Kini, kesunyian dan kesendirian melingkupinya di kompleks kawedanan seluas lapangan bola itu. Meski rasa sepi yang hening merayapi pikirannya, Nadia buru-buru menepis kuat. Justru ada kenikmatan dan ketenangan yang berbeda disini, yang tidak akan pernah bisa didapatkan jika tetap berada di Jakarta. Dia mengambil dompet kulitnya, mengunci pintu paviliun dan memutuskan untuk ke luar, mencari bahan makanan segar untuk dimasak sendiri.
Nadia menyusuri gang rimbun sawo kecik yang masih basah oleh sisa embun pagi. Begitu mendekati mulut gang yang berbatasan langsung dengan tepi jalan kecamatan, telinganya langsung menangkap keriuhan suara perempuan yang saling bersahutan. Sebuah motor roda tiga yang dimodifikasi menjadi lapak sayur keliling tampak sedang terparkir di dekat gapura kampung, dikerumuni oleh belasan ibu-ibu lokal.
“Yu Parmi!” panggil seorang ibu umur 50-an pada ibu di seberang lapak sayur.
"Apa Yu Jum?”
"Kene-kene, Lik Min nggawa kraca karo pepaya enom kiye. Jan, wis suwe ora nggawe bumbu pedes."
"Wah, pas pisan...! Bojoku jarene wis bosen tempe mendoan baen. Kepengin madang sing seger lan pedes.”
"Ayo bu-ibu, blanjane aja utang ya!” gurau seorang ibu bertubuh jangkung yang punya tahi lalat besar di dagunya.
Mendengar kalimat itu, Lik Min yang sedang menghitung kembalian langsung mendongak. Dia tersenyum kecut, lalu membalas dengan gaya blak-blakan khas Banyumasan. “Lah, Rika ngomong aja utang, tapi catetanne nang bukuku wis dawa kaya ril sepur, Yu Par!”
Seketika, ibu-ibu lain yang ada di situ langsung tertawa riuh. Yu Par yang disindir hanya bisa tersenyum lebar tanpa dosa, sambil cepat-cepat memasukkan belanjaannya ke dalam kantong plastik.
Suasana "pasar keliling" di Purwokerto memang selalu hidup karena warganya suka bercanda tanpa dimasukkan ke dalam hati.
Kehadiran Nadia yang melangkah anggun dengan penampilan modis khas wanita dari kota besar, seketika membuat kerumunan di lapak sayur itu agak merenggang. Ibu penjual warung ramesan yang kemarin menyapanya ternyata ada di sana. Wajah ramahnya langsung berbinar saat mengenali sosok Nadia.
"Niki lho, Lik Min, Bu-Ibu…! Mbake saking Jakarta sing manggone nang paviliun kawedanan," kata ibu warung ramesan tersebut, memperkenalkan Nadia kepada tukang sayur keliling dan ibu-ibu lainnya dengan nada bangga orang desa.
Tukang sayur keliling, seorang lelaki umur sekitar 60 tahun yang bertopi terbalik langsung menghentikan kegiatannya menimbang cabai dan melempar senyum lebar—memperlihatkan giginya yang pakai behel, sok trendy.
"Oalah, nggih, nggih. Sugeng enjang, Mbake. Badhe mundhut jangan menapa?"
Di sinilah letak benturan budaya yang menggelitik batin Nadia. Sebagai wanita modern yang selama ini terbiasa membeli sayur mayur hidroponik serba steril yang sudah terbungkus rapi di dalam kemasan plastik berpita supermarket Jakarta, Nadia mendadak kebingungan menatap hamparan sayur lokal di atas motor roda tiga itu. Ikat-ikatan kangkung, bayam, dan genjer di hadapannya masih berakar basah penuh tanah segar.
Melihat Nadia yang berdiri memegang dompet dengan wajah bingung memandangi gundukan bumbu dapur, ibu-ibu desa di sekelilingnya tidak menertawakan. Sifat komunal warga Banyumas yang guyub justru membuat mereka dengan sukarela mengerumuni Nadia, membantu memilihkan bahan makanan dengan ramah.
"Mbake badhe olah-olah napa? Menawi sayur lodeh, niki lho, teronge taksih kemripik, nembe dipethik saking kebon," kata si ibu bertubuh gempal dengan kaus pink skinny sambil menyodorkan dua buah terong ungu ke dekat tangan Nadia. "Ya ampuuun…! Ini lengkuas sama daun salamnya kelupaan, Mbak! Biar lodehnya sedep, wangi.”
“Sudah pernah coba sayur daun pakis pake teri, Mbak?” tanya Ibu berdaster kuning stabilo dengan rambut di-roll.
Nadia menggeleng. “Belum pernah, Bu.”
“Mbleketaket pisan rasane, Mbake!”
Nadia nyaris ngakak, tapi ditahannya. ”Maaf, artinya apa, Bu?”