Hari ketiga di pinggiran kota Purwokerto dimulai Nadia dengan sarapan segelas susu slim & fit dan sebuah apel yang masih tersisa.
Setelah sarapan, Nadia memutuskan pergi ke Indoapril di tepi jalan kecamatan untuk membeli kebutuhan sehari-hari seperti sabun, tisu, gula dan kopi.
Dia sengaja berangkat pagi, berpikir bahwa Wulan—anak gadis Bu Lastri—mungkin belum sempat datang berkunjung ke paviliunnya sepagi ini.
Dengan mengenakan celana ankle jeans dan kaus hijau sage slim fit polos, Nadia melangkah santai menyusuri gang rimbun pohon sawo kecik.
Di sepanjang gang, ia berpapasan dengan beberapa penduduk kampung yang melintas. Senyum ramah dan hangat namun tetap dengan pandangan ganjil dari mereka terus menyertai wanita itu hingga sampai ke Indoapril.
Suasana di dalam minimarket yang ber-AC, terang, dan memutar lagu pop modern, seketika memberikan kenyamanan urban yang sangat familiar di kupingnya.
Di saat yang sama, seorang gadis muda dengan rambut ponnytail dan kaus oblong bergambar K-POP BTS sedang menyusuri rak-rak display di minimarket terkenal itu. Matanya tajam memindai setiap jenis barang yang tersusun rapi di sana. Namun pada akhirnya, ia cuma mengambil sebungkus pembalut bersayap dan satu tube pelembab kulit.
Gadis itu adalah Wulan, yang juga sedang berbelanja, tanpa tahu sedikit pun siapa wanita modis beraroma parfum mewah yang berdiri di dekatnya.
Pertemuan tanpa kata itu berlanjut hingga ke area kasir. Meja kasir yang bersebelahan membuat mereka berdiri bersisian; Wulan mengantre di kasir A, sementara Nadia meletakkan keranjang belanjaannya di kasir B.
Setelah menyelesaikan pembayaran dalam waktu yang hampir bersamaan, keduanya melangkah keluar melewati pintu kaca dorong minimarket tersebut. Nadia berjalan kaki beberapa meter di belakang gadis kuncir kuda itu.
Di dalam benaknya, Nadia memang berniat mampir ke rumah Bu Lastri untuk berkenalan langsung dengan Wulan, tanpa perlu gadis itu repot berkunjung paviliunnya. Namun, situasi di depan jalan justru berubah menggelitik.
Wulan, yang sesekali melirik dari ekor matanya, mulai mengernyitkan dahi. Dia merasa curiga sekaligus heran, mengapa wanita kota berpenampilan modis di belakangnya ini terus berjalan searah membuntuti masuk ke warung ibunya.
Mencoba berpikir positif dengan kepolosan khas warga lokal, Wulan membatin, bahwa mungkin saja wanita Jakarta itu berniat membeli sarapan atau gorengan di warung ibunya.
Begitu langkah kaki mereka sampai di area teras rumah belakang warung, Bu Lastri yang baru saja masuk ke ruang tamu, langsung menoleh. Wajah keibuannya seketika berbinar cerah menatap kedatangan mereka berdua.
"Oalah, Mbak Nadia! Pas pisan, baru saja mau saya suruh Wulan ke tempat Mbak!" sapa Bu Lastri dengan suara renyah, lalu menengok ke arah anak gadisnya yang masih memegang kantong belanja Indoapril.
"Wulan, kene! Iki lho Mbak Nadia, orang Jakarta yang kemarin Ibu ceritakan, yang sewa paviliun kawedanan di seberang jalan itu!”
Wulan menghentikan langkahnya yang hendak menuju ke kamar. Dia langsung mengulurkan tangan yang disambut Nadia dengan hangat.
Mereka kemudian duduk di beranda disertai senyum yang hangat dan pandangan bersahabat.
“Tak kira Mbak Nadia itu tadi mau culik saya. Soalnya sejak ke luar dari Indoapril Mbak terus mbuntuti saya, sih!” Wulan terkekeh sambil menutupi mulutnya.
Nadia tertawa kecil, lalu bertanya, ”Emang saya ada tampang penculik ya?”
“Ya nggaklah, Mbak. Cuma bercanda.”
“Katanya kamu baru lulus SMK ya, Wulan?!”
“Betul, Mbak.”
“Ada niat kuliah, atau mau coba kerja dulu?”
“Ya kalo bisa, kerja sambil kuliah, Mbak.
“Oh, gitu. Bagus-bagus!”
“Mbak Nadia, kenapa mau sewa rumah kawedanan itu? Kan di sekitar sini banyak rumah yang disewakan juga. Mau klaster di perumahan juga ada.”
“Karena suami saya butuh halaman luas untuk parkiran mobil dan peralatan kerjanya, Wulan.”
“Oh gitu ya, Mbak. Tapi Mbak Nadia nyaman-nyaman aja kan, tinggal di paviliun itu?”
“Nyaman.”
“Nggak ada kejadian aneh?!”
Nggak ada. Emangnya pernah ada kejadian aneh apa, sebelum saya tempati?”
Nggaaak… cuma iseng nanya aja. Oh iya, kata ibu, Mbak Nadia pingin main ke obyek wisata di daerah sini. Gimana kalo kita berangkat sekarang? Mumpung masih pagi dan cuaca cerah.”
“Ayo, siapa takut! Ada objek wisata apa aja di Purwokerto?”
"Oalah, banyak sekali, Mbak Nadia!” jawab gadis asli Purwokerto itu. “Yang paling dekat dan paling terkenal ya Lokawisata Baturraden di atas lereng gunung Slamet sana. Ada kolam renang alami Tirto Widodari, Telaga Sunyi, Pancuran Pitu, Curug Bayan dan curug lainnya. Bagus semua buat foto-foto, Mbak." sambung Wulan, dengan lagak seperti pemandu wisata profesional.
Nadia menghela napas panjang. Membayangkan keseruan mengunjungi tempat wisata itu.
"Aduh, kedengarannya seru sekali, Wulan! Saya pengen banget ke sana. Kamu tau jalannya kan?”
“Tenang, Mbak Nadia! Saya hafal luar kepala jalanan naik ke gunung. Kebetulan motor matiknya ada di belakang, siap pakai."
Nadia menatap wajah Wulan dengan gembira. Seperti tatapan anak kecil yang mendapatkan hadiah es krim.
“Pokoknya, Mbak Nadia akan saya bikin puas sampe lemas!” Wulan tertawa kecil sambil menstarter motornya.
Setelah berpamitan pada Bu Lastri, kedua wanita muda itu langsung bersiap berangkat.
“Mampir ke paviliun dulu ya Wulan. Saya mau ambil jaket,” ujar Nadia sambil menaikkan kakinya di footstep motor.
“Siap, Mbak! Jangan lupa bawa pakaian ganti.”
“Untuk apa?”
“Kita nanti berenang di Tirto Widodari sambil perosotan di batunya yang licin, Mbak!”
“Wah, boleh tuh!” sahut Nadia, gembira.