MISTERI PAVILIUN KAWEDANAN

Heru Sanjaya
Chapter #5

RAHASIA DI KOLONG RANJANG

Sinar matahari pagi di pinggiran Purwokerto menerobos masuk lewat jendela besar yang gordennya tidak tertutup keseluruhan. Nadia terbangun dengan tubuh yang segar dan bersemangat.

Selesai membersihkan dirinya di kamar mandi, ia mengganti pakaian tidurnya dengan pakaian kasual sehari-hari. Menyisir rambut di kaca oval meja rias kayu jati, peninggalan zaman dulu yang mungkin sudah berusia 100 tahun.

Setelah sarapan dengan roti panggang smoke beef keju mozzarella dan secangkir kopi arabika khas Toraja, Nadia meraih ponselnya di meja makan, lalu membuka pintu belakang dapur. Jam di ponselnya baru menunjukkan pukul 8.34 WIB. Masih pagi. Cuaca juga terlihat cerah tanpa banyak tutupan awan.

Ia mengetuk layarnya sambil mencari sinyal demi bisa menelepon Bramantyo. Wanita itu sudah berusaha keras mendapatkan sinyal, namun hasilnya nihil. Suaminya telah masuk terlalu jauh ke dalam zona buta sinyal di hutan lindung lereng Gunung Slamet demi obsesi cagar budayanya.

Nadia berdiri termangu di dapur yang sunyi. Hanya Sayup-sayup terdengar tembang Jawa dari arah kamar batur (abdi dalem). Pasti itu dari kamar Pak Slamet.

Di jam-jam seperti ini, kegiatan Pak Slamet lebih banyak dihabiskan di area belakang kompleks kawedanan. Lahan di samping kanan rumah utama yang dulunya sebuah taman indah, sekarang hanya ditanami umbi-umbian dan tanaman obat oleh Pak Slamet.

Orang tua itu mungkin sedang sibuk mengolah hasil kebunnya. Tidak jarang, sebagian hasilnya dijual ke warga kampung atau lapak tukang sayur yang ada di pertigaan jalan kecamatan.

Nadia belum memikirkan rencana kegiatannya di pagi ini. Untuk membunuh rasa bosan, sepi, sekaligus rasa jengkel karena merasa diabaikan oleh suami, dia memutuskan untuk melakukan pembersihan menyeluruh terhadap seluruh sudut bangunan paviliun

Dia mengikat rambut hitam sebahunya yang tebal, mengenakan kaus tank top katun tipis, dan mulai mempersenjatai diri dengan kain lap mikrofiber, sapu, serta kain pel bergagang.

Aktivitas fisik yang melelahkan itu setidaknya cukup berhasil mengalihkan pikiran Nadia dari rasa jenuh. Dia mulai mengelap kaca jendela kolonial yang besar, membersihkan rak dapur, hingga akhirnya pandangan matanya tertuju pada kamar tidur kedua—yang di masa lalu digunakan untuk kamar ajudan tamu.

Istri Bramantyo itu memutuskan untuk membersihkan kamar kedua yang di dalamnya hanya ada lemari jati satu pintu setinggi 150 sentimeter dan ranjang besi single bed.

Ia kemudian membuka pintu kamar sambil membawa kain lap, kain pel bergagang, dan ember berisi air yang sudah dituangi karbol. Di kamar berukuran 3 x 3 meter ini, wanita muda itu melaksanakan niatnya untuk membersihkan lantai maupun barang-barang yang ada.

Hal pertama yang dikerjakannya adalah mengelap lemari, lalu ranjang besi single bed yang ditutupi lembaran plastik. Setelah bersih, Nadia memeras kain pelnya. Dengan gerakan teratur dan bertenaga, kedua tangannya mengarahkan gagang pelan ke sudut ruang. Ketika gagang pelnya memasuki kolong lemari, ia merasakan kain pelnya menyentuh sesuatu.

Nadia berlutut di atas lantai tegel, menyalakan lampu senter dari ponselnya, dan melongok ke celah sempit di bawah kolong lemari. Di sudut paling dalam yang gelap, matanya menangkap benda mirip jepit rambut dan buku kecil.

Dengan rasa ingin tahu, wanita itu menggerakkan gagang pelnya di dalam celah berdebu tersebut, lalu menariknya keluar dengan hati-hati. Dua buah benda terseret keluar dari bawah lemari.

Yang pertama adalah sebuah jepit rambut plastik hitam. Kondisinya sudah patah menjadi dua bagian. Yang kedua, sebuah buku catatan saku bergaris dengan sampul karton tebal yang dijilid kawat spiral.

Nadia mengernyitkan dahi. Dia berjongkok di lantai, membersihkan debu tipis yang menutupi sampul buku saku tersebut. Di halaman pertama, ada sebuah pasfoto yang ditempel menggunakan double tape.

Lihat selengkapnya