MISTERI PAVILIUN KAWEDANAN

Heru Sanjaya
Chapter #6

SKETSA WAJAH DARI MASA LALU

Siang menjelang sore di hari kelima kepindahannya dari Jakarta, atmosfer di pekarangan bekas rumah dinas wedana terasa semakin mencekam dan menekan kesadaran Nadia.

Keheningan yang melingkupi bangunan peninggalan kolonial itu seolah membawa bayangan yang tidak kasat mata, membuat setiap helaan napasnya di dalam paviliun terasa berat.

Nadia melirik telepon genggamnya yang tergeletak di atas meja. Sinyal di layar digitalnya stabil dan kuat, ingin sekali dia menghubungi suaminya. Namun itu tidak mungkin terjadi, karena Bramantyo yang harus menghubunginya jika sinyal di lereng atas lagi bagus. Hari ini Bram harusnya sudah turun gunung sesuai dengan apa yang dikatakannya sebelum berangkat.

Ketiadaan sinyal di lereng atas dan isolasi total dari hiruk-pikuk dunianya yang lama di Jakarta perlahan-lahan mulai mengikis kesehatan emosionalnya. Bertekad kuat tidak ingin menyerah pada rasa takut dan kejenuhan yang bisa membuatnya gila, Nadia memutuskan untuk menggambar. Sudah lama hobinya terhenti akibat kesibukan di kantor.

Dia melangkah ke tempat koper besarnya berada, lalu menarik keluar sebuah buku sketsa berukuran A3, sebuah book stand, dan kotak berisi satu set alat tulis: pensil grafit hitam seri 2B-9B, penghapus, serta cutter.

Nadia membuka pintu depan paviliun, melangkah keluar menapakkan kakinya di beranda depan, mengambil posisi duduk yang nyaman di kursi jalinan rotan. Ia menaruh buku sketsa yang halamannya masih banyak kosong di atas pangkuan, dan bersiap mencari objek gambar yang menarik di matanya.

Pada awalnya, aktivitas menggambar itu berjalan dengan sangat normal dan menenangkan batin Nadia. Jari-jari tangannya yang sedikit kaku—karena kelamaan tidak menggambar —mulai menggerakkan mata pensil 2B dengan tekanan ringan di atas permukaan kertas, menciptakan guratan-guratan garis hitam yang tegas.

Menggunakan keahlian visualnya, Nadia mulai merekonstruksi lanskap pekarangan kompleks kawedanan di atas kertas. Dia melukis dengan sangat detail: batang pohon sawo kecik yang tumbuh meliuk di dekat pendopo. sapuan bayangan gelap dedaunan pohon beringin tua di sudut halaman depan paviliun, hingga kemegahan siluet Gunung Slamet yang berdiri kokoh di latar belakang kejauhan.

Namun, saat pandangan mata Nadia bergeser menatap deretan jendela kaca besar buram milik bangunan Dalem Ageng—rumah tinggal utama seberang paviliun yang pintunya dirantai besi tebal oleh Pak Slamet—sesuatu yang ganjil terjadi. Atmosfer di sekitar beranda teras paviliun mendadak merosot drastis hingga sedingin puncak gunung Slamet.

Angin sore berhenti berembus, menyisakan keheningan yang teramat pekat. Tepat di momen itu, sepasang mata Nadia mendadak terasa kabur, dan kesadarannya seperti tersedot masuk ke dalam kondisi trans yang dalam. Energi gaib dari tragedi masa lalu rumah ini menggerakkan sistem saraf motorik di lengan kanannya, mengambil alih kendali jemarinya secara mutlak.

Jari-jari tangan Nadia yang sedang memegang pensil grafit 4B mendadak bergerak sendiri dengan kecepatan yang tidak wajar. Tangannya mencoret, mengarsir, dan menekan permukaan kertas dengan sangat kuat, menciptakan bunyi gesekan grafit hitam yang nyaring dan konstan di keheningan teras. Nadia tidak bisa menghentikan gerakannya sendiri; alam bawah sadarnya dipaksa tunduk menjadi alat rekonstruksi visual.

Ketika dorongan gaib itu mendadak lepas beberapa menit kemudian, Nadia tersentak sadar dengan napas yang memburu terengah-engah. Jantungnya berdegup tidak teratur, dan keringat dingin sebesar biji jagung membasahi pelipisnya seolah-olah dia baru saja menyelesaikan kerja fisik yang luar biasa berat. Pensil 4B di tangannya terlepas, menggelinding jatuh ke atas lantai teras.

Nadia menundukkan kepalanya dengan gemetar, menatap permukaan buku sketsanya. Aliran darah di sekujur tubuhnya terasa tersendat. Goresan hitam-putih pekat di atas kertas bertekstur itu sama sekali tidak membentuk kelanjutan gambar pohon sawo kecik atau pendopo kuno.

Di halaman berikutnya dari buku sketsa, telah tercetak sebuah lukisan potret setengah badan dari dua orang manusia yang digambar dengan tingkat kepresisian anatomi yang sempurna.

Sosok wanita muda cantik dengan rambut disanggul, mengenakan kebaya kutu baru berbahan sutra halus. Di sampingnya, sosok pria muda berwajah sabar dengan potongan rambut klimis disisir ke belakang. Memakai kemeja katun drill berkantong dua.

Yang membuat Nadia bergidik adalah ekspresi kedua wajah dalam gambar tersebut. Mereka dilukis dengan guratan bayangan pensil yang begitu hidup, menatap lurus keluar kertas tepat ke arah mata Nadia dengan sorot mata yang sarat akan kesedihan yang mendalam, luka batin yang hebat, serta menyiratkan dendam.

Kepala Nadia terasa sangat pening berdenyut akibat tenaganya yang terkuras habis oleh bimbingan energi gaib tadi. Ia mengusap tenggorokannya yang terasa kering. Seperti belum minum sejak pagi.

Dia membutuhkan sesuatu; entah itu air, teh atau kopi untuk menenangkan sarafnya yang tegang. Nadia meletakkan buku sketsanya dalam kondisi terbuka lebar, lalu bangkit berdiri dengan lutut yang sedikit lemas.

Ia melangkah masuk ke dalam dapur untuk merebus air menggunakan ketel uap, dan menyeduh secangkir teh manis.

Sementara itu, di depan pendopo tampak bergerak melintasi pekarangan tanah depan kompleks kawedanan. Pak Slamet berjalan pelan memegang sapu lidi tuanya, melakukan rutinitas sore harinya untuk membersihkan guguran daun sawo kecik di sekitar koridor belakang pendopo. Ia membungkuk untuk mengambil beberapa buah sawo yang berjatuhan, dan sebagian sudah dimakan kelelawar.

Di saat suara desis air yang mendidih mulai terdengar dari arah dapur, langkah kaki senyap Pak Slamet bergerak melintasi teras paviliun. Dia berniat mengayunkan sapunya di teras yang banyak terdapat guguran daun beringin, namun tepat di momen itu, sepasang mata tuanya yang selalu terlihat kosong tanpa emosi manusia hidup tidak sengaja melirik ke arah meja di beranda.

Detik itu juga, seluruh pasokan darah di tubuh tegap Pak Slamet seolah menyusut habis lenyap seketika. Langkah kakinya membeku kaku di atas semen teras. Sapu lidi di tangan kanannya terlepas, jatuh mencium lantai tanpa dia sadari.

Lihat selengkapnya