Setelah tadi sore mengisi waktu luangnya dengan menggambar, Nadia beranjak ke dapur untuk menyiapkan makan malamnya, memasak menu makan malam sederhana berupa telur dadar dan tumis kacang panjang.
Nyonya Bramantyo itu menyelesaikan makan malamnya seorang diri dan langsung membersihkan seluruh peralatan masak di dalam bak cuci piring dengan resik.
Malam merambat dengan cepat di pinggiran Purwokerto. Di luar jendela paviliun yang tertutup rapat, gerimis hujan turun membasahi barisan pohon sawo kecik, membawa serta hembusan hawa dingin yang menerobos ventilasi.
Pukul 21.06 WIB, tubuh Nadia mendadak didera oleh rasa kantuk yang teramat berat, lesu dan tidak wajar. Kelopak matanya seakan dipaksa menutup oleh kelelahan yang datang tiba-tiba. Nadia melangkah menuju kamar utama, merebahkan badannya di ranjang, lalu langsung jatuh tertidur dalam sekejap. Di fase tidur REM (Rapid Eye Movement) inilah— sekitar 90 menit setelah tertidur—kesadarannya terseret menembus ruang waktu ke masa 60 tahun lalu...
Nadia berdiri membisu di sudut keremangan kamar paviliun kuno tersebut pada tahun 1966. Di dalam ruangan yang diterangi oleh cahaya lampu gantung katrol yang masih menggunakan minyak tanah, ia menyaksikan sebuah adegan intim yang teramat sensual namun sarat akan kelembutan.
Di atas ranjang, jelas terlihat sepasang kekasih muda yang wajahnya ada di sketsa buku gambar Nadia, sedang memadu kasih, saling berpelukan dan mengecup dengan gairah yang membara namun penuh dengan ketulusan cinta.
Adegan berkasih mesra itu berlangsung begitu intens, memancarkan getaran energi keintiman yang luar biasa nyata dalam mimpi Nadia, membuat raganya yang sedang tertidur ikut bereaksi hebat menanggapi rangsangan visual tersebut. Namun, di sela-sela desah napas dan genggaman jemari mereka yang erat di atas ranjang masa lalu, telinga Nadia mendengar dengan jelas rentetan dialog dan ucapan lirih yang membongkar seluruh latar belakang perselingkuhan mereka.
Di atas kasur, sang selir muda tampak menangis pelan, menyembunyikan wajah cantiknya yang basah oleh air mata di dada bidang kekasihnya.
"Aku tidak pernah menginginkan kemegahan rumah ini... aku tidak pernah sudi menjadi selir wedana tua itu," bisiknya dengan suara yang teramat pilu, meratapi nasib malangnya.
Pria muda yang memeluknya erat itu hanyalah seorang guru SD. Berwajah sabar khas pemuda berpendidikan. Mereka berdua sebenarnya adalah sepasang kekasih yang sudah lama menjalin hubungan asmara di desa seberang sebelum tragedi perjodohan paksa itu menghancurkan impian mereka.
Penyusupan yang dilakukan oleh si Guru SD—yang gajinya cuma cukup untuk makan itu—berjalan mulus berkat celah birokrasi dan tata ruang kompleks kawedanan di tahun ‘66. Meskipun secara resmi jabatan wedana sudah dihapus sejak tahun 1963, pada realitas lapangan, kompleks megah ini masih berfungsi penuh sebagai pusat koordinator wilayah transisi hingga masa ‘70-an awal.
Selir muda sehari-harinya disamarkan sang wedana menjadi batur—pelayan atau abdi dalem kawedanan—demi menjaga wibawa dan kehormatan posisinya. Istri dan para batur lainnya sudah saling TST (Tahu Sama Tahu). Dan itu tidak menjadi persoalan selama kedudukan istri sah tidak diusik.
Nadia mendengarkan kronologi asmara biru mereka dengan perasaan yang terenyuh, ketika sang wedana kaya raya secara tersirat minta dicarikan gadis muda cantik saat kunjungan kerja ke kecamatan.
Di suatu malam, ketika sesi santai minum kopi di rumah camat, Si wedana yang saat itu menginap di rumah camat ditawari anak gadis bawahannya, seorang carik desa. Kemudian diaturlah pertemuan itu. Si wedana langsung kalap melihat kecantikan gadis itu dan berniat meminangnya menjadi selir baru.
Orang tua si gadis yang memiliki sifat materialistis buta langsung menerima lamaran tersebut demi harta, status sosial, dan wibawa trah keluarga priyayi.
Mereka mencap si guru sebagai pemuda yang kere dan tidak punya masa depan, lalu menolak mentah-mentah lamaran tulusnya. Sang guru muda yang miskin itu sebenarnya sudah berjiwa besar dan ikhlas kehilangan gadis yang teramat dicintainya demi melihatnya hidup makmur dan bahagia. Namun, takdir kejam birokrasi pemerintahan justru terus-menerus mempertemukan mereka kembali.
Sebagai seorang guru SD, pria kere itu sering kali ditugaskan mewakili sekolah ke kantor kawedanan. Dalam sebulan sedikitnya si guru bisa empat kali datang ke pendopo. Mulai dari mengambil gaji di minggu pertama, menghadiri rapat dinas dengan penilik sekolah di minggu kedua, lalu menyerahkan tumpukan data statistik perkembangan murid ke bagian arsip administrasi kawedanan di minggu ketiga.
Siklus itu ditutup pada minggu keempat, di mana dia harus mendatangi bagian logistik di area belakang pendopo. Di sana, dia mencocokkan dokumen tanda terima untuk mengambil jatah operasional bulanan sekolahnya.