Land Cruiser plat merah milik kementerian, akhirnya kembali menderu memasuki gang besar kompleks kawedanan pukul 16.13 WIB. Proyek ekskavasi purbakala di lereng selatan Gunung Slamet terpaksa dijeda selama dua hari ke depan.
Penemuan batuan beku lava masif di kotak galian utama telah mematahkan mata bor jackhammer inventaris kementerian, memaksa kru teknis segera turun ke pusat kota Purwokerto untuk berburu mata bor baja pengganti serta logistik tambahan yang mendesak.
Nadia yang sedang menyapu halaman depan paviliun, seketika meletakkan sapunya. Wajah muramnya langsung berganti dengan senyuman hangat saat melihat suaminya berjalan tegap menaiki undakan teras. Mereka berpelukan erat, melepas rasa rindu dan keterasingan yang menyiksa selama enam hari penuh terpisah jarak.
“Katanya dalam lima hari kamu akan pulang. Nyatanya, enam hari!” Nadia merengut manja.
“Maaf, Jeng! Aku kan kan bilangnya lima atau enam hari.” Bram mengecup mesra rambut istrinyanya yang wangi.
"Gimana di atas gunung, Mas? Sukses risetnya?" tanya Nadia sambil menuntun Bram duduk di atas kursi jalinan rotan di beranda.
"Sukses besar, Jeng. Kami berhasil menyingkap batu pembatas wilayah kuno yang strukturnya masih utuh," jawab Bramantyo sambil melepas jaket parasut hitamnya yang berbau vegetasi gunung, meregangkan otot-otot bahunya yang kaku.
“Tapi penelitianku terpaksa dijeda sampai dua hari ke depan. Kami harus menunggu mata bor jackhammer pengganti dari kota Purwokerto, soalnya yang lama langsung patah waktu dipakai mengebor batu andesit purba di situs galian.”
Mata Nadia berbinar mendengar penuturan suaminya. Namun ia hanya berdiam tak bersuara, menyembunyikan rasa senangnya. Dua hari, waktu yang lumayan baginya bersama Bram.
“Di bawah sini, kamu baik-baik saja kan, selama aku tinggal?" Bram mencubit gemas dagu istrinya.
"Baik, Mas. Aku sempat mengobrol dan kenalan dengan Ibu Lastri yang punya warung ramesan di seberang depan jalan kecamatan," jawab Nadia, sengaja menyembunyikan kejadian kondisi trans mengerikan yang dialaminya agar suaminya tidak mengira dia mengalami gangguan psikologis pasca-resign. "Sebentar ya, aku buatin teh dulu."
Beberapa menit kemudian, Nadia kembali keluar membawa nampan yang di atasnya terdapat poci tanah liat berisi daun teh yang mengepulkan asap harum melati segar, dua cangkir yang sudah diisi gula batu, dan satu pak biskuit Romi rasa kelapa.
Mereka duduk bersanding di beranda paviliun yang teduh, menikmati semilir angin sore pinggiran kota Purwokerto yang sejuk.
"Wow, teh yang istimewa ini, Jeng! Pake poci tanah liat dan gula batu,” seru Bram gembira sambil meraih poci tehnya. “Kamu beli dimana peralatan ini?”
“Di Indoapril seberang jalan kecamatan, Mas."
Bramantyo menyesap teh hangatnya, lalu mengulas senyum lebar seolah mengingat sesuatu yang menarik. Dia menaruh cangkirnya kembali di atas meja.
"O ya, Jeng, kamu tahu nggak? Ternyata kompleks bangunan bekas rumah dinas wedana yang kita sewa dengan harga murah ini punya cerita misteri lama yang sangat seru," kata Bramantyo dengan nada suara yang santai seraya meluruskan kakinya yang pegal.
"Semalam di dalam tenda, asisten lokalku yang bernama Darto, cerita banyak dari arsip silsilah desa setempat."
Bola mata Nadia membesar bulat, ikut tertarik. "Cerita misteri apa, Mas?"
"Kata Darto, sekitar tahun ‘66-’67 dulu, wedana terakhir yang menjabat di sini itu wataknya sangat kaku, angkuh, pencemburu, dan punya hobi berburu binatang liar di hutan menggunakan senjata senapan laras panjang."
Bramantyo terkekeh pelan. "Nah, di tahun itu, sang wedana punya selir muda yang cantik. Suatu hari, saat wedana sedang pergi berburu ke hutan, selir muda ini tiba-tiba hilang misterius dari dalam rumah.