Sinar hangat matahari jam sepuluh pagi, menyusup ke dalam kaca jendela paviliun, mengusir sisa-sisa kabut malam yang sempat menyelimuti pekarangan kompleks kawedanan.
Kehangatan dari pelampiasan hubungan intim yang intens semalam seolah masih membekas di udara kamar tidur berukuran 5 x 6 meter tersebut, menyisakan kepuasan dan ketenangan yang membekas di dalam sanubari Nadia.
Rasa sepi yang sempat mencekam jiwanya beberapa hari lalu kini telah sepenuhnya luntur, berganti dengan gairah baru untuk fokus menjalani program kehamilan mereka.
Di atas ranjang, Bramantyo sudah tampak sibuk berbenah. Pakaian lapangan katun twil, rompi kargo bertali, serta tumpukan buku catatan lapangan bergaris sudah dia susun rapi ke dalam tas ransel besarnya.
Baru satu menit lalu Darto, asistennya menelepon bahwa mata bor jackhammer sudah berhasil ia dapatkan. Inilah salah satu keuntungan sebagai warga lokal. Akses mendapatkan suku cadang jauh lebih mudah dan cepat.
Bramantyo tahu betul tanggung jawabnya sebagai pemimpin proyek ekskavasi purbakala di atas lereng selatan Gunung Slamet tidak bisa ditunda-tunda. Lapisan tanah vulkanik kuno dan struktur batu candi abad kedelapan yang sudah telanjur dibuka oleh tim teknisnya tidak boleh ditinggalkan dalam kondisi terbuka terlalu lama di tengah hutan lindung; jika hujan badai gunung tiba-tiba turun, situs arkeologi berharga itu bisa terkikis air, longsor, atau rusak parah.
Nadia keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, harum oleh sampo floral yang beraroma lembut. Matanya tertuju pada suaminya yang tengah berkemas.
“Lho, Mas? Kok, udah bersiap-siap pergi lagi? Bukannya libur sampe besok?”
Bram tersenyum, menatap istrinya. Jika menuruti kata hati, dia pun ingin lebih lama lagi bersama istrinya, yang semakin hari semakin menggairahkan di matanya.
“Maaf sayang! Darto barusan telepon, kalo mata bornya udah dapet lebih cepet dari perkiraan. Mau nggak mau aku harus kembali ke atas.”
Bramantyo beranjak keluar kamar menuju pekarangan. Dia langsung memanaskan dan mengecek mesin jip-nya.
Pandangan kecewa di mata Nadia tidak dapat disembunyikan. Namun sebagai istri yang baik, dia harus mendukung pekerjaan suaminya.
Setelah mengenakan pakaian santainya, ia berjalan mendekati meja nakas kecil di dekat kepala ranjang, mengambil sebuah botol plastik putih berisi kapsul suplemen promil—yang diresepkan oleh dokter kandungan mereka di Jakarta.
Dia memutar tutup botolnya, berniat meminum satu kapsul, namun pikirannya tidak fokus karena sedikit kesal mendapat “PHP” dari suaminya.
Bayangan mereguk keintiman lagi setelah semalam suaminya sukses membuat ia bangun kesiangan, pupus sudah. Kapsul itu terlepas dari genggamannya. Jatuh menghantam lantai, memantul sekali ke arah samping, lalu menggelinding dengan cepat masuk ke kolong ranjang.
Nadia mengembuskan napas pendek, karena kesal dengan kecerobohannya sendiri. Ia segera mengambil sapu, lalu memakai gagangnya untuk meraih kapsul sambil menyenteri kolong ranjang.
Kapsul itu jatuh tepat di genangan tipis air yang keluar dari nat tegel kuning di kolong ranjangnya. Cuma perlu sedikit usaha sampai kapsul berhasil keluar dari kolong ranjang.
Perempuan itu memungut kapsul yang sudah basah dan sedikit lengket, mengernyitkan dahi keheranan saat mengendus jarinya yang basah. Ada bau samar seperti bau amoniak—mirip bau pesing.
Nadia langsung teringat buku catatan saku milik mahasiswa KKN yang menyebut lantai di kamar utama sering basah. Fenomena ubin basah di area tertutup seperti kolong ranjang sebenarnya hal yang biasa terjadi. Tegel semen peninggalan zaman dulu memiliki pori-pori yang tidak diberi lapisan glasir seperti keramik modern.
Jika kelembapan udara di dalam kamar sedang tinggi akibat hujan, dipadukan dengan sirkulasi udara kolong ranjang yang mampat dan pengap, maka ubin semen itu bisa saja mengalami kondensasi ekstrem. Lantainya akan mengeluarkan embun basah yang menjadi tempat sempurna bagi bakteri tanah dan jamur untuk tumbuh subur.
Nadia melemparkan kapsul vitamin kotor di tangannya ke dalam keranjang sampah kering di sudut kamar. Ia mengambil kain pel dan seember kecil air bersih yang sudah dicampur cairan karbol wangi.