MISTERI PAVILIUN KAWEDANAN

Heru Sanjaya
Chapter #10

ESKALASI BAU ANEH DI KOLONG RANJANG

Matahari pagi naik dengan sapuan cahaya yang jauh lebih terang di pinggiran kota Purwokerto. Land Cruiser, mobil dinas milik kementerian yang membawa Bramantyo sudah melaju jauh sejak kemarin siang, menembus kabut tebal lereng selatan Gunung Slamet demi melanjutkan pemetaan cagar budaya.

Nadia terbangun dengan kondisi tubuh yang terasa jauh lebih segar dan batin yang damai. Kehangatan dari pelampiasan hubungan intim yang luar biasa bersama suaminya dua malam lalu masih meninggalkan aura kenyamanan dan gairah membara di dalam kamar tidur paviliun berukuran 5 x 6 meter itu.

Mengingat nasihat dan khotbah ilmiah yang diberikan Bram sebelum berangkat kemarin siang, Nadia bergegas turun dari ranjang, melangkah ke arah jendela kolonial yang besar di dinding bagian samping kanan, lalu membuka semua daun jendelanya lebar-lebar.

Jendela ayun ganda yang dibuka ke kiri dan kanan terdiri dari dua lapis. Yang pertama jendela jalusi atau jendela krepyak di bagian luar, terbuat dari kayu jati. Di desain dengan kisi-kisi agar angin bisa masuk.

Jendela lapis kedua terbuat dari kaca buram patri bermotif art deco untuk privasi. Kalau malam hari, jendela kaca biasanya ditutup, untuk mencegah orang mengintip.

Angin gunung yang murni, bersih, dan sejuk seketika berembus masuk membanjiri ruangan, mengusir sisa-sisa hawa pengap kamar yang tertutup rapat semalaman.

Nadia mencoba menikmati ritme hidup barunya sebagai seorang ibu rumah tangga di daerah pinggiran. Setelah menyeduh secangkir teh khas Slawi yang nasgitel—panas-legi-kentel—di dapur bersihnya, dia membawa buku sketsa A3 bertekstur kasar dan pensil grafitnya keluar menuju beranda depan paviliun.

Sambil menyesap tehnya perlahan, Nadia duduk santai di atas kursi jalinan rotan, memandangi akar gantung menjuntai beringin tua dan daun sawo kecik yang bergoyang pelan ditiup angin pagi.

Kali ini, dengan kesadaran penuh yang tenang tanpa ada gangguan trans gaib apa pun, dia mulai menggoreskan pensilnya untuk melukis lanskap pekarangan depan yang ada bekas bangunan pos jaga secara sadar dan rileks.

Semuanya tampak berjalan sangat normal dan membumi layaknya kehidupan pedesaan yang damai dan tentram.

Menjelang siang hari, sekitar pukul sebelas, matahari mulai terasa terik menembus dedaunan beringin tua. Nadia menyudahi aktivitas menggambarnya, menutup buku sketsanya, lalu beranjak ke dapur. Untuk mengisi perutnya yang sudah lapar, ia hanya memasak mi instan ditambah dua butir telur, enam buah cabai rawit dan sayuran pakcoy yang ujung daunnya sedikit menguning karena kelamaan di kulkas.

Selesai makan mie instan rasa ayam spesial dengan irisan cabai rawit merah yang bikin dahi dan hidungnya berkeringat, Nadia membuka pintu dapur, membiarkan angin menerobos masuk untuk mendinginkan suhu badannya.

Samar-samar ia mencium aroma ikan asin dari bekas bangunan dapur dan kamar abdi dalem. Pasti itu Pak Slamet yang menggoreng untuk lauk makan siangnya.

Setelah dirasa badannya tidak lagi gerah, Nadia mengambil keranjang sampah di pojok dapur. Dia membawanya ke luar pintu dapur untuk dibakar, karena tidak ada tukang sampah yang datang mengambil.

Sebentar kemudian, asap bakaran sampah membumbung berpadu dengan bau ikan asin dari dapur Pak Slamet.

Selesai mencuci mangkuk kotor dan bekas peralatan memasaknya, Nadia mengunci kembali pintu dapur. Kakinya berjalan ringan menuju ruang tamu, lalu menghempaskan tubuhnya di kursi babon angrem. Ia memejamkan mata, menikmati alunan lagu di daftar putar ponselnya.

Baru saja menikmati beberapa lagu, satu panggilan telepon masuk, dari ibunya yang menanyakan kabar. Nadia dengan antusias menceritakan keberadaan dirinya tinggal di pinggiran kota yang sunyi namun menenangkan dan udaranya bersih. Ia menawarkan ibunya untuk datang berkunjung suatu ketika.

Selesai sesi percakapan telepon, Nadia kembali melanjutkan menikmati lagu hingga matahari semakin condong ke barat. Ia sempat “tidur ayam” sebentar sebelum mematikan musik dan melepas headset-nya.

Tak lama berselang, Sayup-sayup azan Ashar berkumandang.

Sebagai wanita yang selalu menjaga kebersihan rumah, Nadia tidak suka melihat adanya tumpukan debu tipis yang menempel di lemari, meja, atau di kursi. Ia mengambil kain mikrofiber, lalu mulai mengelap kursi, meja, dan lemari.

Selesai mengelap seluruh furnitur dengan cairan pembersih kayu sampai berkilau, Nadia melanjutkan aktivitasnya dengan mengepel lantai. Berawal dari ruang tamu, lalu berpindah ke kamar tidur utama.

Sampai di area bawah tempat tidur, wanita intelektual itu membungkukkan tubuhnya sedikit, mendorong gagang pelnya jauh ke dalam. Namun, baru dua kali ayunan gagang pel itu bergerak, tangan Nadia mendadak terhenti kaku.

Di bawah keremangan kolong ranjang, mata telitinya menangkap sekelompok kilatan air yang memantulkan cahaya matahari dari ufuk barat di jendela.

Lihat selengkapnya