Jumat pagi pukul sembilan, matahari di pinggiran kota Purwokerto masih tertutup sisa kabut semalam. Nadia melangkah keluar ke beranda paviliun. Tubuhnya sudah terbungkus jaket jins blue navy, celana cargo khaki, dan sepatu sneakers tanpa tali.
Hari ini dia sedang menantikan kedatangan Wulan. Semalam melalui sambungan telepon, mereka sudah sepakat untuk berwisata ke lokasi yang lebih jauh dari tempat sebelumnya.
Tak lama deru halus mesin motor matik 150cc milik Wulan memutus keheningan pekarangan. Gadis lulusan SMK itu datang tepat waktu. Ia mengenakan jaket denim pudar, sarung tangan kulit tanpa jari, dan helm half-face
Motor matik hitam itu tampak prima, meski knalpotnya menyemburkan uap tipis akibat udara pagi yang dingin.
"Sudah siap, Mbak?" tanya Wulan sambil membuka kaca helmnya. Mesinnya dibiarkan tetap menyala, bergetar konstan di atas tanah pekarangan yang ditumbuhi rumput tidak merata.
Nadia mengangguk, mengunci pintu paviliun dengan sekali sentakan, lalu melangkah turun meniti undakan teras.
"Siap, Dek Wulan sing ayu!” jawab Nadia, bercanda. Wulan terlihat sumringah, dibilang ayu. “Lewat mana, kita?”
"Kita ambil jalur timur, Mbak. Memotong pinggiran Purbalingga, naik lewat Bobotsari dan Karanglewas, lalu memotong ke barat arah Pulosari sebelum naik ke lereng utara Slamet menuju Guci," jawab Wulan taktis sambil membetulkan posisi tas selempangnya.
“Jauh ya?” Nadia duduk di jok belakang, menaikkan kakinya di footstep.
"Kurang lebih 65 kilometer. Jalurnya menanjak, tapi aspalnya relatif bagus untuk motor matik dibanding lewat barat. Siap, Mbak?! Di atas beneran dingin banget, loh!"
“Siaaap!”
Wulan menarik tuas gas perlahan, membawa kendaraan roda dua itu bergerak mulus meninggalkan gerbang kompleks kawedanan.
Tiga puluh menit pertama adalah fase transisi yang bising. Motor matik yang mereka kendarai bergerak lincah membelah sisa jalur datar dari pinggiran Purwokerto menuju kawasan kabupaten Purbalingga. Truk-truk muatan logistik dan angkutan umum pedesaan mengeluarkan polusi udara yang pekat di sepanjang jalan.
Nadia memperhatikan punggung Wulan dari belakang. Gadis itu mengemudi dengan gestur yang sangat tenang, tangannya cekatan menjaga ritme gas di tengah selipan kendaraan roda empat.
"Wulan," Nadia agak berteriak, melawan gemuruh angin yang menghantam kaca helmnya. "Kamu sering ke Guci lewat jalur ini?”
"Sering, Mbak! Jalur Bobotsari-Karangreja ini rute favorit kalau mau cari udara segar tanpa macet," sahut Wulan dengan volume suara yang dinaikkan. Tatapannya lurus mengunci marka jalan. "Tapi biasanya berangkat agak siang. Kalo jam sembilan pagi begini, begitu kita masuk lereng Karangreja dan Pulosari, kabut tebal biasanya masih bergulung rendah. Jarak pandang bisa menyusut drastis!"
Begitu melewati daerah Bobotsari dan roda motor mulai mendaki lurus menuju utara arah Karangreja, lanskap dataran semakin samar.
Jalan raya yang lebar berganti menjadi jalur perbukitan yang kian menyempit. Aspal kasar mulai digantikan oleh tanjakan-tanjakan kaku yang kemiringannya naik secara radikal. Mesin motor matik 150cc itu mulai mengeluarkan raungan yang lebih berat.
Wulan mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, merapatkan sikunya demi menjaga titik gravitasi kendaraan saat roda depan mulai melindas tanjakan curam pertama di wilayah kaki Gunung Slamet bagian timur.
Di kanan dan kiri mereka, barisan perumahan penduduk luar mulai digantikan oleh tegakan pohon pinus merkusi yang berdiri rapat mengurung jalan setapak aspal.
Hawa yang dingin seketika menyergap kulit wajah Nadia yang tidak tertutup masker. Udara hangat Purbalingga lenyap dalam hitungan menit, digantikan oleh kelembapan pekat yang berbau getah pinus dan tanah gembur.
Pukul sepuluh lewat lima belas menit, motor mereka resmi berbelok meninggalkan jalur utama Karangreja, mengambil tikungan tajam ke arah barat menuju daerah Pulosari.
Di sinilah tempo perjalanan melambat drastis. Kecepatan motor tidak pernah menyentuh angka empat puluh kilometer per jam. Jalur perbukitan penyambung antar-kabupaten ini sejatinya jalur kaku untuk kendaraan matik yang bertumpu pada transmisi otomatis.
Kabut tebal mulai turun dari puncak Gunung Slamet, bergulung rendah menutupi hamparan kebun sayur kol, cabai, dan bawang yang ditanam berundak-undak di lereng bukit Pulosari.
Pandangan Nadia terhalang tirai putih yang dingin. Sorot lampu LED motor matik mereka hanya mampu menembus pekatnya kabut sejauh beberapa meter ke depan.
Wulan berkali-kali membunyikan klakson setiap kali motor mereka hendak melewati kelokan tajam berbentuk huruf S yang dikepung oleh jurang curam di sisi kiri.
Nadia merapatkan pelukannya pada pinggang Wulan. Rasa dingin yang menusuk pori-pori jaketnya mendadak memantik debar cemas di dalam dadanya.
Suasana di sekitar mereka teramat sunyi. Hanya terdengar raungan mesin motor yang dipaksa menanjak, diiringi bunyi klakson dari tiap kendaraan yang melintas.
"Mbak!" panggil Wulan, suaranya terdengar agak samar tertutup deburan angin. "Pegangannya yang kencang! Di depan ini jalur Pulosari yang paling kaku, jalannya memutar dan langsung tegak lurus mendaki punggungan!"
Nadia tidak menyahut, ia hanya mempererat lingkar lengannya di pinggang Wulan. Benar saja, motor matik itu mendadak kehilangan momentum kecepatannya saat roda depan menghantam pangkal tanjakan terjal menuju batas wilayah Tegal.
Raungan mesinnya meninggi, bergetar hebat di bawah selangkangan mereka. Bau hangat komponen mesin yang dipaksa bekerja keras merembes keluar, menusuk indra penciuman Nadia.
Untuk beberapa detik yang menegangkan, Nadia merasa motor mereka berjalan di tempat, hampir menyerah kalah oleh gravitasi lereng Slamet yang angkuh. Namun dengan keandalan jarinya mengatur ritme tuas gas, Wulan berhasil membawa motor itu merayap naik menembus kabut tebal.