Angin gunung berembus semakin kencang, menyapu gumpalan kabut hitam pekat dari puncak Gunung Slamet, membawanya bergerak mengalir turun melewati lereng-lereng curam, menuju ke arah dataran rendah pinggiran kota Purwokerto tempat Nadia sedang berbaring pasrah dalam kesendirian.
Rasa capai sehabis rekreasi bersama Wulan tadi sore mengunci seluruh persendiannnya. Hawa sejuk dari lereng gunung bercampur gerimis tipis yang mulai turun di luar paviliun membawa rasa kantuk yang teramat berat, menyeret kesadaran Nadia masuk ke dalam fase tidur yang teramat dalam.
Di bawah pengaruh energi gaib dari ruangan kuno tersebut, alam bawah sadar Nadia perlahan mulai terlepas, merasuk utuh ke dalam rekaman memori masa lalu di tahun 1966…
Di dalam mimpi keduanya, sore itu di bawah sunyinya atmosfer paviliun samping yang mewah khas kamar tidur tamu keluarga priyayi, si selir cantik sedang memadu kasih dengan sang guru SD.
Saling belai, raba, hingga berlanjut bercumbu sambil melepaskan busana. Di dalam naungan kelambu yang remang oleh sisa cahaya sore, selir itu menahan dada bidang kekasihnya sejenak. Dengan napas yang sedikit memburu di sela kecupan hangat mereka, wanita itu menatap lekat manik mata sang guru SD.
"Kamu masih ingat nggak, Mas, masa pacaran kita dulu?" bisik si selir lirih, menyembunyikan getar kesedihan batinnya di balik sebuah senyuman manis. Pria muda itu mengelus rambut hitam tebal bekas kekasihnya dengan penuh kelembutan.
"Ya aku masih ingat, Diajeng!"
"Aku terkenang saat kita berdua di gubuk sawah." suara sang selir mengalun perlahan, memicu sukma Nadia di sudut kamar ikut terseret masuk ke dalam proyeksi ingatan yang dibisikkan sang selir.
Pemandangan kamar paviliun berangsur-angsur memudar berganti dengan hamparan hijau pekarangan desa seberang yang berlatar pegunungan. Nadia menyaksikan masa lalu mereka yang sepenuhnya merdeka dan tanpa beban.
Mereka berjalan-jalan santai menyusuri pematang sawah yang asri, duduk berdampingan di sebuah gubuk bambu sambil melempar tawa polos, hingga momen manis saat mereka bergandengan tangan di tengah riuhnya keramaian pasar malam tradisional.
Di bawah kilauan lampu teplok para pedagang, sepasang kekasih itu tampak sangat bahagia menikmati dunia yang saat itu belum dirampas oleh keserakahan materialistis orang tua maupun keangkuhan wedana tua yang lemah syahwat itu.
Namun, memori kenangan indah si selir itu mendadak terputus, kembali ke aktivitas ranjang paviliun tahun 1966 ketika ciuman berapi sang guru SD mendarat di bibir sang selir dengan intensitas yang kian dalam dan menuntut pelepasan gairah seksual yang membara.
Di atas kasur kuno tersebut, kedua raga muda yang saling mencintai itu akhirnya menyatu, melampiaskan seluruh rasa lapar batin yang terpendam dalam sebuah hubungan intim yang dahsyat.
Tubuh Nadia yang sedang tertidur pulas merespons rangsangan visual dalam mimpi tersebut secara nyata. Energi erotis yang meledak di dalam mimpi itu seketika memicu sistem saraf otonom Nadia. Detak jantungnya melonjak, napasnya memburu. Ketika selir itu terpekik nikmat di dalam mimpi, otot dasar panggul dan otot kewanitaan Nadia berkontraksi berbarengan dengan raganya yang tersentak bangun akibat hantaman klimaks orgasme yang dahsyat.
Nadia membuka matanya lebar-lebar di sepertiga malam, menatap langit-langit kamar dengan dada yang naik-turun karena meningkatnya kadar adrenalin. Wajah wanita itu seketika merona merah, tersipu malu sekaligus syok luar biasa mendapati kehangatan basah yang melekat pekat pada pakaian dalamnya.
Sisa keharuan dari mimpi romantis yang tragis itu membuat air matanya meleleh pelan di kegelapan, mengunci rasa empati yang teramat dalam pada pasangan yang ada di dalam mimpinya.
Ia terduduk membisu selama hampir sepuluh menit di kepala ranjang, hingga kadar adrenalinnya berangsur surut.
Pelepasan hormon oksitosin dan endorfin dalam jumlah masif pasca-orgasme mengendalikan sistem saraf pusatnya. Saraf-saraf Nadia yang tadinya tegang, berubah rileks, nyaman, membuat seluruh otot di tubuhnya kendur. Kelopak matanya kembali didera oleh rasa kantuk yang berat dan tak tertahankan.