MISTERI PAVILIUN KAWEDANAN

Heru Sanjaya
Chapter #13

BAU ANEH YANG MAKIN MENGUAT

Pagi hari di lereng selatan Gunung Slamet dimulai dengan kesibukan tim peneliti arkeologi yang mempersiapkan alat ukur di dekat lubang galian situs candi.

Pakaian lapangan kargo milik Bramantyo sudah kembali kotor penuh noda tanah gembur hutan. Menjelang pukul sembilan pagi, sebelum turun memimpin kru teknis, Bramantyo melangkah berjalan sejauh puluhan meter meninggalkan rimbunnya pohon pinus, menuju ke area tebing terbuka tempat timnya memasang tiang besi penguat sinelar (repeater) portabel bertenaga aki.

Di titik elevasi tinggi inilah, ponsel genggamnya berhasil menangkap satu strip sinyal seluler yang timbul-tenggelam. Bramantyo merogoh saku rompinya.

Entah kenapa batinnya mendadak didera kerinduan, teringat kembali akan kehangatan pelampiasan hubungan intim mereka yang luar biasa panas dua malam lalu di paviliun sebelum dia bertolak naik kembali ke gunung.

Didorong oleh keinginan yang menggebu untuk mendengar suara istrinya, Bramantyo langsung menekan nomor kontak Nadia. Di ruang tamu paviliun kawedanan, Nadia tersenyum kaget saat mendapati ponselnya yang mendadak berdering nyaring menampilkan nama suaminya. Dia segera menggeser tombol hijau.

"Halo istriku sayang!" sapa Bramantyo dengan suara baritonnya yang riang di seberang telepon.

"Halo juga suamiku sayang! Tumben pagi-pagi udah bisa telepon? Ada sinyal di atas?" tanya Nadia sambil berjalan membuka pintu menuju beranda depan.

"Iya, Jeng, ini aku lagi berdiri di tepi tebing dekat antena portabel. Gimana kabarmu di bawah? Lagi ngapain sekarang?" tanya Bramantyo penuh perhatian.

"Kabar baik, Mas. Ini lagi sarapan sambil baca berita. Kamu sendiri gimana di sana? Udah sarapan belum?"

Bramantyo terkekeh pelan di dekat tiang antena, suaranya mendadak berubah menjadi nada menggoda yang genit.

"Aku baik-baik juga di sini, Jeng. Baru selesai sarapan pake roti tawar sama keju slice. Tapi Jeng, ini pikiranku lagi melayang ke bawah. Inget kamu terus. Kamu di sana lagi melamun mikirin aku, kan?!"

Nadia spontan tertawa kecil mendengar tingkat percaya diri suaminya yang luar biasa tinggi. "Nggak, Mas! Ge-er banget sih."

"Ah, jangan bohong kamu, Jeng! Pasti kamu lagi senyum-senyum sendiri inget soal 'pertempuran' hot kita lusa lalu di kasur paviliun. Ayo, ngaku aja, deh?!" goda Bramantyo blak-blakan.

Dia memang sedang berada di fase sangat ngebet dan tidak sabar untuk bisa segera gituan lagi dengan istrinya demi mengejar target program kehamilan mereka.

Nadia memutar kedua bola matanya, wajahnya merona merah karena malu digoda di pagi hari.

"Ih, Mas Bram apaan sih pagi-pagi sudah bahas itu. Banyak tim peneliti kamu di sana, lho."

Bramantyo tertawa lepas, lalu melirik ke arah Darto yang kebetulan sedang berdiri di sebelahnya memegang papan dokumen.

Lihat selengkapnya