MISTERI PAVILIUN KAWEDANAN

Heru Sanjaya
Chapter #14

MENUNGGU KEPULANGAN SUAMI TERCINTA

Kehidupan pagi di pinggiran kota Purwokerto bergulir dengan siraman cahaya matahari yang terasa hangat dan bersih. Setelah mengalami kepanikan batin akibat rentetan memori mimpi buruk kisah cinta tragis sang guru SD dan si selir tahun 1966 dua malam lalu, pagi ini Nadia terbangun dengan kondisi pikiran yang dipaksa tenang, mencoba mengusir sisa-sisa kengerian dari mimpi jahanam itu.

Tebersit di hatinya untuk mencari rumah kontrakan baru yang lebih banyak penduduknya. Dia harus membicarakannya saat Bram pulang nanti.

Suasana hatinya hari ini sengaja dia alihkan pada rasa rindu yang hangat dan penantian yang membahagiakan; mengingat janji mesra yang diucapkan Bramantyo lewat telepon kemarin pagi, suaminya dijadwalkan akan menyelesaikan galian tahap awal dan turun pulang dari atas lereng Gunung Slamet pada sore ini atau keesokan harinya.

Nadia memutuskan untuk mengisi waktu penantiannya dengan melakukan pembersihan paviliun secara menyeluruh. Dia ingin menyambut kepulangan suaminya dengan kondisi rumah yang paling nyaman, bersih, dan harum.

Dengan gerakan yang cekatan, Nadia mengelap kaca jendela kolonial besar di bagian samping dinding kamar tidur, sambil matanya sesekali melirik tidak nyaman ke arah pintu kamar utama.

Gerakan tangannya terasa sedikit bergetar dan kaku. Meski begitu, Nadia berusaha tegar saat memeriksa permukaan lantai tegel semen kuning di kolong tempat tidur.

Ia masih merinding dan tegang saat bayangan cipratan darah di ubin kuning dalam mimpi melintas di pikirannya. Wanita itu mencoba menguji sejauh mana kekuatan mentalnya sanggup bertahan.

Berkat sapuan cairan karbol kental yang dia gosok berulang-ulang kemarin sore, permukaan ubin di kolong ranjangnya kini tampak sudah kering, berkilau, tanpa ada sisa noda basah sedikit pun.

Bau asing bin aneh yang kemarin sempat membuatnya mual juga sudah sepenuhnya lenyap, kalah oleh keharuman aroma pinus yang segar.

Nadia tersenyum puas, meyakinkan hatinya bahwa masalah kelembapan ubin bangunan tua itu memang murni urusan biasa yang sudah selesai dia bereskan dengan kain pel dan karbol.

Sore harinya, sekitar pukul setengah empat setelah waktu ashar, suara deru halus mesin motor matik mendadak terdengar memasuki pekarangan depan paviliun.

Nadia melangkah keluar menuju beranda, dan senyumnya langsung mengembang lebar saat melihat Wulan sedang menurunkan standar samping motornya di dekat dahan sawo kecik.

Gadis ayu lulusan SMK pariwisata itu datang berkunjung memakai kaos bergambar K-POP BLACK PINK sambil membawa sekantong camilan lokal di tangan kirinya.

Berbeda dengan perjalanan rekreasi mereka ke Baturraden dan Guci tempo hari, kunjungan Wulan ke teras paviliun sore ini sesungguhnya digerakkan oleh rasa kepo di dalam pikirannya.

Sebagai anak muda yang lahir dan tumbuh besar di desa pinggiran tersebut, selama delapan belas tahun kehidupannya Wulan hanya bisa memandangi gerbang luar kompleks kawedanan yang terkesan angker, sunyi, dan dirimbuni pepohonan lebat dari kejauhan, tanpa pernah memiliki keberanian untuk melangkahkan kaki melewati batas pendopo depan.

Mumpung sekarang ada kenalan wanita kota Jakarta yang ramah dan mengontrak di sana, Wulan memanfaatkan kesempatan main di sore ini untuk memuaskan rasa penasarannya untuk melihat dari dekat arsitektur bangunan priyayi kuno tersebut.

"Mbak Nadia! Ini dibawain mendoan anget sama ibu buat camilan ngobrol," sapa Wulan dengan wajah manisnya yang polos, menaiki undakan teras sambil menyerahkan bungkusannya.

"Wah, asyik banget, Wulan. Pas sekali, ini aku baru mau buat teh hangat. Yuk, duduk dulu," ujar Nadia ramah, menuntun temannya duduk di atas kursi jalinan rotan. Sambil menunggu Nadia kembali keluar membawa teh, sepasang mata Wulan tampak celingukan dengan aktif.

Pandangannya bergerak menyusuri tiang-tiang kayu jati pendopo yang kokoh, langit-langit atap yang tinggi, hingga menatap ke arah deretan jendela kaca besar milik bangunan utama Dalem Ageng di seberang halaman yang pintunya dirantai besi tebal oleh Pak Slamet.

Ada gurat canggung sekaligus kekaguman yang bercampur di wajah gadis desa itu.

Lihat selengkapnya