MISTERI PAVILIUN KAWEDANAN

Heru Sanjaya
Chapter #15

RAHASIA MIMPI YANG TERSENSOR

Suasana pekarangan kompleks kawedanan selepas waktu magrib telah sepenuhnya ditelan oleh kegelapan malam yang pekat. Rintik hujan gerimis turun membasahi pinggiran kota Purwokerto, menghasilkan irama ketukan air yang konstan di atas atap genteng paviliun kawedanan.

Nadia beranjak dari kamar tidur menuju ruang tamu. Sambil membuka laptop-nya duduk bersandar di atas kursi babon angrem, dia memasang telinganya tajam-tajam menembus rintik hujan di kesunyian malam.

Sekitar pukul tujuh malam, keheningan yang menggantung mendadak dipecah oleh suara mobil yang sangat familiar. Deru mesin jip dinas kementerian terdengar memasuki gerbang pendopo depan, rodanya melindas hamparan dahan kering pekarangan, sebelum akhirnya berhenti tepat di teras samping paviliun.

Nadia seketika bangkit berdiri dari kursinya, membuka gerendel pintu depan dengan hati yang dipenuhi rasa lega dan gembira.

Begitu pintu kayu jati itu terbuka, Bramantyo melangkah masuk menaiki undakan teras dengan wajah yang tampak lelah. Jaket parasut kargonya berbau vegetasi gunung yang pekat, dan rambutnya tampak acak-acakan. Namun, begitu melihat senyuman hangat istrinya, raut kusam di wajah sang arkeolog seketika menguap.

Mereka berpelukan erat di ambang pintu, melepaskan seluruh ketegangan batin setelah berhari-hari terpisah ruang dan jarak.

"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga, Mas. Aku udah cemas nungguin kamu dari sore," ujar Nadia sambil membawakan tas ransel besar suaminya masuk ke dalam.

"Iya, Jeng. Jalur turunan dari posko atas tadi agak macet karena kabut gunungnya tebal sekali turun menutupi jalan aspal. Untung jip kementerian ini tangguh," jawab Bramantyo seraya melepas sepatu bot kulitnya yang kotor penuh noda tanah gembur, lalu meletakkannya di pojokan beranda.

Bramantyo segera melangkah ke kamar mandi dalam untuk membersihkan tubuhnya yang lengket oleh debu galian. Sementara itu, Nadia bergegas menuju dapur bersih paviliun.

Dia menghangatkan kembali lauk dan sayur nasi ramesannya. Jarum jam dinding sudah hampir menunjukkan pukul delapan malam ketika mereka berdua duduk bersanding di meja makan, menikmati makan malam bersama dengan nikmat dan penuh syukur.

Kehadiran Bram di rumah seketika mengusir seluruh atmosfer sunyi paviliun, menggantinya dengan kehangatan domestik manusia yang nyata.

Selesai makan malam dan merapikan seluruh peralatan dapur, Bramantyo mengajak Nadia duduk bersantai d kursi rotan beranda depan paviliun untuk menikmati semilir angin malam yang sejuk.

Nadia keluar membawa nampan berisi dua cangkir kopi hitam panas yang mengepulkan asap harum, ditemani sebungkus biskuit Romi rasa kelapa kegemaran suaminya. Bramantyo menyesap kopi panasnya perlahan, menyandarkan punggung tegapnya di sandaran rotan dengan perasaan puas.

"Wah, nikmat sekali kopi buatanmu, Jeng. Takarannya pas. Di atas gunung sana mana ada yang rasanya senikmat ini." Nadia tersenyum, menaruh cangkirnya kembali ke atas meja kayu.

Mengingat keputusan bulat yang sudah dia kunci di dalam batinnya sejak kemarin sore, Nadia menarik napas dalam-dalam, menatap lurus ke arah sepasang mata suaminya.

"Mas... selama kamu pergi naik ke gunung beberapa hari lalu, sebenarnya aku mengalami dua sesi mimpi aneh yang luar biasa ganjil di dalam kamar paviliun ini," kata Nadia dengan nada suara yang terdengar sangat tenang, serius, namun sedikit tegang.

Bramantyo menaruh biskuitnya kembali ke piring, binar mata arkeolognya langsung tertarik mendengarnya.

"Mimpi aneh apa, Jeng? Soal sketsa wajah kemarin lagi?"

Nadia mengangguk pelan. Dengan ketelitian batinnya, dia mulai menceritakan seluruh kronologi isi mimpinya secara runtut.

Lihat selengkapnya