MISTERI PAVILIUN KAWEDANAN

Heru Sanjaya
Chapter #16

JALAN-JALAN KE PUSAT KOTA

Matahari meninggi dengan langit yang tampak cerah di atas pinggiran kota Purwokerto.

Pagi itu, suasana di dalam paviliun kompleks kawedanan terasa sangat damai dan tenteram. Karena jadwal penelitian ekskavasi purbakala di lereng selatan Gunung Slamet sedang memasuki masa jeda administrasi.Bramantyo mendapatkan waktu libur lapangan penuh selama satu hari.

Menyadari istrinya sudah berhari-hari sendirian di dalam bangunan kolonial tua yang sepi, Bram memutuskan untuk mengajak Nadia pergi jalan-jalan ke pusat kota Purwokerto yang ramai demi mengusir kejenuhan.

Sekitar pukul sebelas siang, SUV off-road ATOYOT Land Cruiser diesel milik kementerian yang tangguh itu kembali menderu keras di pekarangan depan paviliun.

Bramantyo duduk di balik kemudi dengan setelan kasual yang stylish, sementara Nadia duduk di kursi penumpang samping sambil membuka kaca jendela lebar-lebar, menikmati hembusan angin siang yang segar saat mobil melaju membelah rimbunnya gang sawo kecik menuju ke arah pusat kota Purwokerto.

Perjalanan siang itu menjadi momen healing domestik yang membahagiakan bagi pasutri muda tersebut. Bram memacu santai jip kementeriannya membelah jalanan kota yang bersih, membawa Nadia menikmati wisata kuliner lokal yang terkenal di pusat kota.

Mereka singgah di sebuah rumah makan yang ramai, memesan dua porsi soto Sokaraja khas Banyumas. Aroma gurih kaldu rempah langsung “mengucapkan selamat datang” begitu Bram dan Nadia melangkah masuk ke dalam warung soto yang cukup ramai di sudut Kota Purwokerto siang itu.

Setelah mendapatkan meja kosong di dekat pintu masuk, Nadia segera meraih lembaran menu berlapis laminating yang terletak di atas meja. Matanya menyusuri deretan tulisan di sana dengan saksama.

"Wah, beneran lengkap ya di sini, Mas," ujar Nadia membuka percakapan. "Ada pilihan soto ayam sama soto sapi. Mendoannya juga lebar-lebar banget. masih panas tuh, baru diangkat dari wajan."

Rupanya tempe mendoan sudah jadi kuliner favorit Nadia selama beberapa hari dia di Purwokerto. “Bisa buat nutupin muka kalo lagi malu.” tambahnya, bergurau.

Bram yang duduk di hadapannya tertawa pelan, lalu menyeka butiran keringat di dahi dengan selembar tisu. "Iya, Jeng. Aromanya aja udah bikin laper banget dari pas kira dateng. Kamu mau pesen yang mana?"

"Aku mau coba yang soto sapi deh, Mas. Pengen tahu rasa kuah kaldu sapinya kalau dicampur sama sambal kacang khas sini," sahut Nadia penuh semangat. Ia menurunkan sedikit kertas menu tersebut, lalu menatap suaminya lekat-lekat.

"Mas, mau soto apa?"

Bram menyandarkan punggungnya dengan santai, "Soto sapi juga boleh."

"Oke. Soto sapi dua, ya," kata Nadia sambil mengangguk setuju. "Kalo minumnya gimana? Mau yang manis atau yang seger?"

Teh tawar anget aja.”

"Siap!”

Nadia mengangkat tangan, melambaikan jarinya dengan sopan untuk memanggil salah satu pelayan rumah makan yang sedang melintas.

Seorang pelayan pria muda dengan celemek kain ikat segera berbalik dan berjalan menghampiri meja mereka. Ia datang sambil membuka sebuah block note kecil dan menjepit sebuah pulpen di sela jarinya, siap mencatat pesanan.

"Mau pesan apa, Mbak, Mas?" tanya pelayan itu ramah dengan logat ngapak Banyumasan yang kental. Nadia menatap mata si pelayan sambil berkata,"Mas, soto sapinya dua, ya. Terus minumnya teh tawar hangat dua."

Lihat selengkapnya