MISTERI PAVILIUN KAWEDANAN

Heru Sanjaya
Chapter #17

TAKTIK PENGALIH PERHATIAN

Siang itu, kira-kira jam sebelas Nadia berjalan kaki keluar dari pekarangan kompleks kawedanan menuju warung ramesan Ibu Lastri. Kali ini dia tidak memesan makanan untuk dibungkus bawa pulang, melainkan untuk makan di tempat.

Sembari menikmati seporsi nasi rames dan mendoan hangat di atas meja kayu panjang, pandangan mata Nadia terus memperhatikan Wulan yang sedang sibuk mencuci piring kotor. Nadia memang sengaja makan di tempat karena berniat mengajak Wulan berkunjung ke paviliun.

Dia sudah merencanakan sebuah taktik untuk menyelidiki area kompleks bangunan Kawedanan, dan Wulan akan dijadikan sebagai pengalih perhatian agar Pak Slamet tidak curiga dengan gerak-geriknya.

Setelah suasana warung mulai sepi dari pembeli, Nadia memanggil Wulan untuk duduk di dekatnya. Saat Nadia mengutarakan maksudnya secara pelan-pelan, di luar dugaan, Wulan langsung mengangguk setuju dengan mata berbinar.

Remaja lulusan SMK pariwisata itu ternyata memang punya ketertarikan yang besar pada situs-situs kuno, apalagi kompleks kawedanan itu letaknya sangat dekat dengan rumah tinggalnya sendiri.

Karakter Wulan dan Nadia sepertinya punya banyak kesamaan; punya rasa ingin tahu yang besar, tidak penakut ataupun gampang percaya pada hal-hal mistis, dan mata yang berani menatap lawan bicaranya.

Ketika mereka berdua sudah menyeberangi jalan raya, lalu memasuki gang besar menuju komplek kawedanan, Nadia sempat melempar pertanyaan santai untuk mengenal teman barunya lebih dekat.

"Wulan, kalo nanti ada kesempatan untuk kuliah, kamu sebenernya pengen ambil jurusan apa?"

Wulan tersenyum tipis, lalu menyahut santai dengan logat medoknya, "Saya kayaknya pengen jadi sejarawan atau arkeolog juga seperti suaminya Mbak Nadia. Dari SMP saya suka banget lihat obyek atau bangunan jaman dulu.”

“Oh, ya?!

Wulan mengangguk sambil menoleh.“Iya, Mbak.”

“Pantesan, waktu kita wisata di Guci, kamu pinter banget jelasin sejarahnya.”

Sesampainya di halaman depan kompleks kawedanan, Nadia dan Wulan segera mencari keberadaan Pak Slamet. Mereka menemukan kakek tua itu sedang menyapu guguran daun sawo kecik di selasar belakang pendopo.

Nadia melangkah mendekat, lalu memperkenalkan Wulan sebagai anak dari pemilik warung ramesan di seberang jalan. Pak Slamet menatap wajah Wulan dengan sepasang mata tuanya yang kaku, lalu raut keriputnya sedikit melunak.

"Oooh... saya kenal anak ini. Kamu anak bungsunya Sujiman kan, Nduk?!"

Wulan mengangguk sopan sambil tersenyum ramah. "Inggih, Mbah.”

Setelah sesi perkenalan singkat itu selesai, Nadia langsung melancarkan taktik pertamanya. Dia meminta izin kepada Pak Slamet untuk berjalan-jalan berkeliling melihat area kompleks kawedanan secara lebih dekat, dengan alasan murni karena dia sangat menyukai sejarah bangunan kolonial tua.

Pak Slamet tidak menaruh curiga dan mengangguk mengizinkan. Di sinilah tugas penting Wulan dimulai. Sesuai kesepakatan mereka, gadis SMK itu langsung mengambil posisi untuk menyita seluruh perhatian Pak Slamet.

Sebagai sesama orang asli Banyumas, Wulan dengan sangat luwes mengajak Pak Slamet mengobrol ngalor-ngidul memakai bahasa Jawa Ngapak yang kental. Suara renyah Wulan mulai memberondong Pak Slamet dengan rentetan pertanyaan berbau pribadi.

Mbah Slamet... kula bade taken nggih, nyuwun ngapunten mumpung nembe longgar," celetuk Wulan sambil tersenyum ramah, memotong langkah Pak Slamet yang hendak beranjak.

Pak Slamet menoleh, menatap wajah gadis itu dengan kaku. "Arep takon apa sih, Ndhuk?"

"Kue... panjenengan setahu nggadahi sederek kandung nopo mboten? Jane sami manggen wonten pundi saniki, Mbah?"

Pak Slamet berdeham pendek, cengkeraman tangannya pada gagang sapu lidi sedikit mengetat. "Oalah, sedulurku wis pada seda, Ndhuk. Kabeh wis ora ana, manggone wis nang kuburan. Gari aku dhewek nang kene."

Wulan mengangguk-angguk tanda simpati, namun matanya yang cerdas langsung melempar umpan pertanyaan kedua tanpa memberi jeda.

"Ngapurane nggih, Mbah, angger pitakone kula mboten sopan... Lajeng, pripun ceritanipun panjenengan betah sanget piyambakan salajengipun mboten kagungan garwa? Mboten rumaos sepi menapa, Mbah?"

Lihat selengkapnya