MISTERI PAVILIUN KAWEDANAN

Heru Sanjaya
Chapter #18

DORONGAN BERAHI YANG GANJIL

Setelah Wulan pamit pulang, Nadia melangkah masuk ke dalam paviliun dan mengunci pintu depan.

Di dalam kesunyian kamar tidur berukuran lima kali delapan meter itu, Nadia menghempaskan diri di tepi kasurnya yang empuk. Dia meletakkan dompet dan ponselnya di atas meja nakas, menarik napas panjang demi menenangkan isi kepalanya yang terasa penuh.

Siang itu, langit meredup tertutup awan mendung dari arah gunung, namun di dalam kamar, otak Nadia yang cerdas justru sedang bekerja dengan sangat aktif.

Dia mulai menyatukan kembali setiap kepingan informasi kecil yang berhasil dia kumpulkan selama dua minggu ini sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah Purwokerto.

Melalui ingatan trans saat tangannya melukis sketsa, kronologi dua sesi mimpi bersambungnya yang terasa sangat nyata, penemuan foto kusam sang wedana memegang senjata berburu di dalam rumah utama siang tadi, hingga sikap kaku dan ketakutan Pak Slamet, Nadia akhirnya menarik sebuah kesimpulan bulat: Telah terjadi peristiwa pembunuhan berdarah yang sangat mengerikan di dalam kamar paviliun ini di masa lalu.

Kejadian tragis pembantaian sunyi menggunakan pisau belati berburu pada tahun 1966 itu seperti fakta sejarah yang nyata, bukan sekadar bunga tidur atau halusinasi biasa.

Semakin dia memikirkan detail foto sang wedana yang sedang menginjak rusa hutan hasil buruannya, semakin kuat keyakinan di dalam hatinya bahwa lantai tempat tidur tempatnya berpijak sekarang adalah saksi bisu sebuah kejahatan besar.

Namun, Nadia masih terus berpikir keras menemui jawaban atas satu teka-teki besar yang paling mengganjal di hatinya: siapa sebenarnya sepasang kekasih yang berselingkuh dan akhirnya tewas dibantai di dalam paviliun tersebut?

Di dalam ingatan mimpi buruknya, Nadia juga mengingat dengan sangat jelas detail wajah seorang remaja pria berusia sekitar tujuh belas tahun yang berdiri gemetar memegang gulungan tali ijuk.

Remaja itulah yang karena ketakutan akhirnya menunjukkan letak kamar paviliun kepada sang wedana, dan ikut bergantian mencangkul tanah di tengah malam yang hujan lebat untuk mengubur jasad kedua korban secara rahasia.

Nadia mencoba mengingat-ingat kembali struktur tulang wajah remaja itu di dalam pikirannya, lalu perlahan-lahan mencocokkannya dengan wajah keriput serta sorot mata kosong milik Pak Slamet yang sekarang sudah berusia 77 tahun.

Jantungnya berdegup lebih cepat saat menyadari sebuah kemungkinan yang sangat masuk akal secara hitungan linimasa sejarah; bahwa remaja belasan tahun yang ikut membantu mengubur jasad di masa lalu tersebut, jangan-jangan adalah Pak Slamet di masa mudanya?

Namun, sebagai wanita yang memiliki nalar yang sangat rasional, Nadia buru-buru menahan diri. Dia tetap memegang teguh asas praduga tak bersalah dalam melancarkan penyelidikan mandirinya ini.

Nadia sadar betul bahwa kemiripan wajah di dalam sebuah mimpi buruk tidak bisa dijadikan sebagai dasar hukum hitam di atas putih untuk menuduh seorang kakek sepuh di dunia nyata.

Menuduh tanpa adanya bukti fisik yang mutlak hanya akan merusak jalannya investigasi dan membuat hubungan mereka bisa menjadi buruk. Dan lebih jauh lagi, bisa dikategorikan sebagai pencemaran nama baik, yang berujung pada pidana.

Nadia memutuskan untuk menyimpan rahasia kecurigaan ini rapat-rapat di dalam kepalanya, sembari menunggu waktu yang tepat untuk bergerak mengumpulkan bukti yang lebih kuat lagi.

Sementara itu di waktu yang bersamaan, belasan kilometer di atas elevasi tinggi lereng Gunung Slamet, konsentrasi Bramantyo mendadak pecah berantakan tanpa alasan yang jelas.

Siang itu, udara di sekitar posko penelitian proyek kementerian terasa sangat sejuk, dilingkupi kabut tipis yang bergerak lambat di sela-sela jajaran pohon pinus yang rimbun.

Lihat selengkapnya