Pukul 14.27 WIB kesunyian di dalam pekarangan kompleks kawedanan mendadak robek oleh raungan suara mesin mobil yang melaju kencang, melindas hamparan daun sawo kecik kering sebelum akhirnya berhenti di depan teras paviliun.
Pak Slamet yang saat itu sedang duduk mengasah arit di undakan pendopo depan, seketika melongok dengan raut wajah yang berubah serius dan penuh tanda tanya.
Sepasang mata tuanya menatap heran ke arah pintu jip kementerian yang terbuka kasar. Kakek sepuh itu sepertinya bingung memikirkan kenapa Bramantyo, si anak kota pimpinan proyek dari Jakarta, mendadak pulang darurat ke paviliun di jam kerja lapangan yang seharusnya sangat padat di atas gunung.
Namun, sifat sungkannya membuat Pak Slamet hanya bisa diam terpaku di tempat, sembari memandangi gerak-gerik sang arkeolog dengan tatapan datar. Bram menoleh sekilas sambil melambaikan tangannya, tanpa mengucap sepatah kata pun pada Pak Slamet.
Nadia yang baru saja selesai merapikan kembali letak sprei yang agak berantakan, langsung berjalan cepat keluar kamar begitu mendengar suara mesin mobil suaminya.
Ketika grendel pintu dia buka, sosok Bramantyo Adhi Nugroho sudah berdiri di ambang pintu dengan napas yang memburu pendek dan sorot mata berahi yang tampak sangat liar.
Pakaian kargo lapangannya masih kotor penuh noda tanah gembur hutan pinus, bercampur dengan aroma keringat tubuh laki-laki yang pekat.
Tanpa basa-basi, Bram melangkah masuk melintasi ruang tamu, menarik lengan Nadia ke dalam dekapannya yang teramat erat, lalu memutar anak pintu depan dengan tergesa. Kedua pasutri muda dari Jakarta itu secepatnya melangkah masuk ke dalam kamar tidur.
Bramantyo menyalakan lampu tidur kecil berwarna kuning redup di samping meja nakas, mengabaikan kondisi tubuhnya yang belum mandi pasca-meluncur turun membelah jalur aspal lereng gunung sejauh lima belas kilometer tadi.
Gejolak gairah seksual yang sudah membakar dalam darah mereka sejak kemarin siang akhirnya meledak dengan teramat liar di siang bolong itu juga.
Hubungan intim yang luar biasa panas, menghentak, dan penuh dengan hasrat menggebu langsung tuntas tersalurkan di atas tempat tidur.
Seiring dengan tarikan getaran sisa tragedi masa lalu. Saraf biologis tubuh pasutri muda ini bergerak kaku di bawah kendali penuh manipulasi energi di bawah ubin kamar.
Mereka berdua melampiaskan syahwat ekstrem tersebut tanpa memikirkan lagi logika ilmiah hawa dingin pegunungan Purwokerto, semata-mata hanyalah mengulang keintiman penuh gairah yang serupa dengan aktivitas memadu kasih sang guru SD dan pelayan cantik di masa lalu. Tanah di bawah ranjang seolah menggeliat, menyerap gerakan liar dan kepuasan hubungan intim di atasnya.
Setelah selesai "bertempur"melepaskan hasrat liar dibawah dorongan berahi ganjil tersebut hingga raga mereka lemas kelelahan, Bramantyo melangkah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang kotor.
Selesai membasuh diri dengan resik, mereka berdua kembali merebahkan diri berdampingan di atas kasur, menikmati udara siang menjelang sore dengan suasana batin yang kembali kendur, rileks, dan tenang layaknya pasutri biasa.
Bramantyo menyandarkan punggung tegapnya di kepala ranjang, menyeka sisa rambutnya yang basah, lalu menoleh menatap wajah istrinya.
"Jeng... sebenarnya kamu di bawah sini baik-baik aja, kan? Maaf ya, tadi di telepon aku berlagak panik bersilat lidah di depan Darto, biar bisa dapat alibi darurat buat turun nemuin kamu siang ini. Soalnya entah kenapa, pikiranku di atas gunung beneran gak bisa fokus sama sekali, bawaannya pengen buru-buru pulang ke paviliun ini terus."
Nadia tersenyum manis, menyandarkan kepalanya di atas dada bidang suaminya.
Mengingat tekad bulatnya untuk menyibak tabir misteri pada mimpinya, Nadia membasahi bibir sejenak, lalu mulai membuka obrolan untuk menceritakan seluruh hasil investigasi mandiri yang dia lakukan bersama Wulan tadi siang.