MISTERI PAVILIUN KAWEDANAN

Heru Sanjaya
Chapter #20

KEMBALI KE KESIBUKAN KERJA

Pagi-pagi sekali di kompleks kawedanan masih ditutupi kabut tipis sisa gerimis semalam. Di dalam kamar paviliun, Bramantyo sudah sibuk berkemas memasukkan salinan pakaian dalam, laptop dan pakaian lapangan ke dalam tas ransel besar.

Pagi ini dia harus segera kembali bertolak naik ke atas lereng Gunung Slamet untuk melanjutkan sesi ketiga proyek galian batu candi yang sempat dia tinggalkan.Sebenarnya, Bramantyo terpaksa harus menginap semalam di paviliun setelah kepulangannya yang mendadak pada siang bolong kemarin.

Dia sadar betul, jika setelah menuntaskan urusan ranjangnya dia langsung buru-buru naik lagi ke gunung pada sore hari yang sama, alibi bohongnya tentang 'Nadia kurang enak badan' di depan Darto dan kru teknis kementerian akan langsung ketahuan sebagai kebohongan yang memalukan.

Selesai menggulung lengan kemeja lapangannya sampai batas siku, Bramantyo memeriksa kembali ritsleting tas ranselnya apakah benar-benar sudah tertutup. Di dalam kepalanya, kalkulasi ego seorang ketua tim proyek sedang bekerja keras menimbang-nimbang resiko.

Keputusannya untuk menunda kepulangan ke lokasi cagar budaya di atas lereng gunung adalah sebuah siasat yang tidak bisa ditawar.

Sebagai pimpinan, ia tahu betul bahwa Darto dan kru teknis dari kementerian memiliki ketelitian yang detail dalam mengawasi ritme kerja lapangan.

Kalau kemarin sore ia langsung buru-buru naik lagi ke gunung hanya beberapa jam setelah turun meluncur tanpa izin tertulis, kecurigaan tim akan langsung mengarah pada urusan domestik paviliun. Alibi bohong bahwa Nadia mendadak kurang enak badan karena kelelahan, harus terlihat memiliki bobot yang masuk akal.

Dengan menghabiskan malam di paviliun, Bram berhasil membangun tameng perlindungan bagi profesionalitasnya.

Ia membiarkan waktu berjalan alami, memastikan bahwa saat jip dinasnya kembali ke atas nanti, kru penelitian hanya akan melihat sosok pimpinan yang bertanggung jawab, bukan seorang suami yang baru saja melarikan diri demi menuntaskan hasrat kelelakiannya di siang bolong.

Setelah dirasa semuanya sudah beres, Bramantyo beranjak ke luar diikuti istrinya.

Nadia menemani suaminya berdiri di undakan anak tangga teras depan. Angin pagi yang berembus sejuk membuatnya sedikit merapatkan sweater rajut yang dikenakannya.

Sebelum melangkah masuk ke balik kemudi jip dinas kementerian, Bram memeluk erat tubuh istrinya lalu memberikan kecupan perpisahan yang hangat di kening Nadia.

"Jeng, aku berangkat dulu ya. Ingat pesan aku kemarin siang, nggak usah terlalu dipikirin masalah ubin dan bau kolong itu," ujar Bramantyo menenangkan sembari mengulas senyum lebarnya yang mantap. "Namanya juga bangunan tua peninggalan zaman dulu, wajar kalo pipa besinya pada berkarat dan keropos. Nanti kalo urusan galian cagar budaya di atas udah senggang, aku pasti ajukan izin pembetulan pipa ke Pemkab."

Nadia hanya mengangguk pelan, memberikan senyuman manis untuk melepas suaminya. "Iya, Mas. Hati-hati di jalan ya, jangan lupa kabarin kalo tiang antena portabelnya udah dapat sinyal."

“Iya, sayang!”

Bram masuk ke dalam mobil, menstarter mesin, dan perlahan jip kementerian itu bergerak maju melindas hamparan daun sawo kecik kering, melaju pergi keluar dari gerbang kompleks kawedanan.

Nadia berdiri membisu menatap kepergian kendaraan tersebut hingga suara deru mesinnya hilang sepenuhnya di kelokan jalan raya kabupaten.

Begitu suaminya pergi, kesunyian pekat khas kawedanan kembali jatuh menyergap seluruh pekarangan paviliun dalam sekejap. Nadia membalikkan tubuhnya melangkah masuk, lalu mengunci pintu depan rapat-rapat dari dalam.

Untuk mengusir sepi sekaligus menjaga agar pikirannya tidak melamun memikirkan hal yang aneh-aneh, ia segera menyibukkan diri dengan melakukan pekerjaan rumah tangga seperti biasanya.

Langkah kakinya bergerak menuju ke kamar tidur, mengumpulkan beberapa potong pakaian kotor dia dan suaminya.

Nadia merendam cucian di tabung mesin cuci selama tiga puluh menit, setelah itu memutar kenop wash. Suara putaran mesin, air, dan gesekan kain menjadi satu-satunya “keramaian” yang menemani kesendiriannya pagi itu.

Selesai membilas seluruh cuciannya dengan air bersih sampai tidak lagi meninggalkan busa, ia mengeringkannya pada tabung pengering pakaian.

Sebentar saja wanita itu sudah membawa ember berisi cuciannya ke luar menuju teras samping paviliun. Di bawah siraman cahaya matahari pagi yang melimpah, dia mengambil pakaiannya satu per satu, lalu menggantungkannya dengan rapi pada tali jemuran yang terpasang di sana. Sesekali ia mendengar suara batuk pak Slamet yang mungkin terlalu banyak menghisap tembakaunya.

Aktivitas fisik yang sederhana ini perlahan-lahan berhasil mengalihkan fokus kepalanya dari rasa jenuh. Setelah urusan cuci-menjemur pakaian beres, Nadia kembali melangkah masuk ke dalam paviliun. Dia berniat melakukan pekerjaan rutin terakhir untuk menjaga kebersihan lantainya dengan mengepel.

Lihat selengkapnya