MISTERI PAVILIUN KAWEDANAN

Heru Sanjaya
Chapter #21

SKETSA PINTU KECIL DI SAMPING DAPUR

Siang hari di kompleks kawedanan bergulir seperti biasa. Sepi, remang, rimbun dan angker menurut warga kampung.

Tadi pagi mobil jip dinas Bramantyo sudah melaju pergi kembali naik ke gunung untuk melanjutkan sesi ketiga galian batu candi dengan semangat yang lebih banyak—setelah ia kemarin siang dua kali menuntaskan hasrat kelelakiannya—seperti baterai baru diisi daya full charge.

Sehabis makan siang dan berbincang santai di warung ramesan Bu Lastri sampai jam dua siang, praktis Nadia kembali harus menghabiskan waktu sendirian lagi di paviliun.

Hari ini semangat Nadia juga sedang berada di level tertinggi. Mood-nya juga sedang dalam keadaan baik. Ia harus menyalurkan energi positifnya, untuk mengusir rasa sepi sekaligus menenangkan saraf kepalanya agar tidak melamun memikirkan genangan air di kolong tempat tidur.

Nadia memutuskan untuk menggambar objek di luar ruangan. Ia melangkah menuju ruang tamu, mengambil buku sketsa A3 dan satu set pensil di meja.

Dia membuka pintu belakang paviilun, berjalan sejauh tiga puluh meter lebih, menyusuri beranda belakang rumah utama, lalu mendudukkan diri di atas sebuah kursi kayu sederhana yang terletak persis di bawah rindangnya pohon mangga kweni.

Angin siang yang bertiup dari arah lereng Gunung Slamet terasa sejuk menerpa rambut dan kulit wajahnya. Nadia sengaja memilih titik duduk ini karena dia ingin menyalurkan hobi menggambarnya dengan melukis objek fisik bangunan tua yang ada di hadapannya.

Mata teliti Nadia sebagai seorang sketcher bergerak aktif mengamati sudut dinding belakang di samping dapur yang berbatasan dengan kamar-kamar pelayan.

Pandangannya perlahan terkunci pada sebuah objek yang kemarin siang baru saja dia selidiki bersama Wulan; sebuah pintu kecil kayu kuno yang letaknya berdampingan langsung dengan barisan instalasi pipa ledeng besi berkarat peninggalan Belanda tahun 1924.

Nadia membuka halaman baru buku gambarnya. Jemari tangannya mulai bergerak dengan lentur, menggoreskan mata pensil hitamnya di atas kertas, membuat sketsa detail urat-urat kayu pada daun pintu kecil, pohon jeruk purut di sisi kiri, pohon kemuning dan bangunan bekas dapur di sisi kanan dengan tiang-tiang penyangganya yang masih kokoh.

Ujung pensil grafit 2B milik Nadia mulai menggores permukaan kertas A3 yang kasar dengan bunyi srat-sret yang halus dan teratur.

Matanya memicing, membagi bidang gambar menggunakan tarikan garis tipis guna mengunci presisi perspektif bangunan. Guratan pensilnya menggoreskan tekstur daun pintu kayu jati kuno yang lapisan pelitur kayunya sudah mengelupas dimakan usia. Kemudian dia memiringkan sudut pensilnya, mengarsir teknik gosok halus untuk menghadirkan dimensi bayangan gelap-terang (shading) pada objek gambarnya.

Sejenak ia menghentikan goresannya saat ujung pensil itu semakin memendek. Tanpa mengalihkan pandangan dari objek pintu, jemari kanannya meraba meja mencari pisau cutter, lalu mengikis kayu pensil dengan sayatan tipis agar kembali runcing.

Gerakan tangannya terlihat semakin luwes, tanpa banyak menghapus. Baginya, aktivitas mencoret-coret di atas kertas ini adalah media hiburan yang paling ampuh untuk mengisi waktu dan membunuh kejenuhan.

Bakat menggambar Nadia memang diwariskan dari keluarga ayahnya yang banyak berprofesi sebagai seniman. Dua orang paman Nadia ada yang menjadi pelukis, dan seorang tantenya mengajar teknik vokal para artis penyanyi. Cuma ayahnya saja yang jadi pegawai BUMN, tapi sekarang sudah pensiun.

Di saat Nadia sedang terhanyut menikmati goresan pensilnya, suara ketukan kaki seseorang yang melangkah di atas hamparan daun kering mendadak terdengar dari arah teras samping rumah utama.

Nadia menengokkan kepalanya sedikit, dan dia mendapati sosok Pak Slamet sedang melangkah berjalan kaku mendekat ke arah dirinya. Namun, siang ini kakek sepuh itu tidak sedang membawa sapu lidi tuanya seperti biasa.

Lihat selengkapnya