Sore hari di kompleks kawedanan berjalan dengan embusan angin sejuk yang bertiup cukup kencang dari arah lereng Gunung Slamet. Langit di atas pekarangan sawo kecik tampak cerah, sedikit berawan kelabu.
Di dalam paviliun, suasana kamar tidur utama masih terasa sangat tenang. Rembesan air di kolong ranjang jati Nadia sore itu berupa genangan tipis, dan bau mirip keju kedaluarsa hanya tercium samar-samar.
Sekitar jam setengah empat sore, suara deru halus mesin motor matik berhenti di dekat teras. Nadia melangkah keluar dan mendapati Wulan datang membawa sebuah rantang plastik berisi menu makan malam titipan dari ibunya, Bu Lastri.
"Sore Mbak Nadia… saya disuruh ibu mengantarkan lauk oseng kikil, ayam goreng sepotong sama sayur lodeh buat makan malam," sapa Wulan hangat sembari menaiki undakan teras menuju beranda.
Nadia menerima rantang tersebut dengan gembira. "Sore... Wah, terima kasih banyak ya, Wulan. Yuk, duduk dulu. Kok, kamu pake motor? Padahal kan, jarak rumahmu nggak jauh.”
Wulan tertawa kecil, “Males Mbak, jalan kaki. Mumpung ada motor.”
Nadia menghela napas sambil geleng kepala, “Saya kira cuma di Jakarta aja orang males jalan kaki. Ternyata di sini sama juga.”
Kedua wanita muda itu akhirnya tergelak bersama.
Mereka kemudian duduk bersantai di atas kursi jalinan rotan beranda depan paviliun menikmati suasana sore yang cerah dan sejuk.
Mengingat rasa penasarannya yang menumpuk tentang pandangan heran orang desa setiap kali dirinya melangkah masuk melewati pintu gerbang pendopo, Nadia memilih untuk tidak menceritakan urusan memori mimpi ataupun tegel basahnya kepada Wulan.
Didorong oleh wataknya yang senang menyelidik, Nadia sengaja ingin mencari tahu cerita yang sebenarnya tentang kejadian rombongan mahasiswa KKN beberapa bulan lalu yang sempat disinggung ibu-ibu di lapak tukang sayur beberapa waktu lalu.
Nadia menurunkan cangkir tehnya, lalu bertanya dengan nada suara yang biasa saja.
"Wulan, aku sebenarnya penasaran deh. Sekitar dua minggu lalu pas di lapak sayur, kan ibu-ibu sempat menyinggung soal anak-anak mahasiswa KKN yang mendadak lari ketakutan dari kompleks kawedanan ini beberapa bulan lalu. Itu sebenarnya detail kejadian aslinya bagaimana sih, Wulan? Kok bisa sampai heboh viral satu desa begitu?"
Mendengar pertanyaan Nadia, sepasang mata Wulan yang cerdas seketika langsung berbinar-binar penuh semangat. Sebagai remaja desa setempat, dia memang sangat menyukai urusan mendongengkan gosip horor yang sempat menggemparkan lingkungan rumahnya tersebut.
Wulan membetulkan posisi duduknya, lalu mulai bercerita dengan gaya bicara yang mengalir renyah dan berapi-api.
"Wah, kalo soal anak-anak KKN itu sih asli heboh dan gempar banget kemarin, Mbak Nadia!" seru Wulan bersemangat dengan logat medoknya. "Rombongannya itu total ada sepuluh orang mahasiswa dari kampus swasta di kota, lima cowok sama lima cewek. Mereka itu baru menempati paviliun sekitar seminggu. Tapi mahasiswa cewek nginapnya di rumah Pak Kades."
"Nah, pas malam jumat kejadiannya, sekitar jam dua tengah malam yang hujan gerimis, mendadak seisi pekarangan sini pecah sama suara teriakan histeris mahasiswa cowok, Mbak!"