Sore hari menjelang magrib di pekarangan kompleks kawedanan kembali dilingkupi oleh kesunyian yang pekat setelah suara deru mesin motor matik milik Wulan perlahan menjauh dan hilang sepenuhnya di balik gerbang tembok tinggi kompleks.
Suasana di pekarangan rumah tua itu hanya menyisakan keremangan bayangan pohon sawo kecik dan tiang-tiang penyangga pendopo yang mencapai teras paviliun.
Hari masih terhitung sore, namun rona cahaya matahari di luar deretan jendela kolonial yang besar sudah mulai meredup, tertutup oleh gumpalan awan mendung kelabu yang bergerak lambat dari arah lereng Gunung Slamet.
Nadia melangkah masuk ke dalam ruangan paviliun sewaannya, menutup pintu jati kokoh tersebut, lalu menguncinya dari dalam. Ia meletakkan buku sketsanya di atas meja ruang tamu, lalu beranjak ke dapur, memasak air untuk mandi.
Setelah ketel air berbunyi nyaring, wanita muda itu mengambil handuk dari jemuran stainless kecil di kamar.
Dia melangkah menuju ke kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhnya yang terasa gerah dan lengket setelah seharian beraktivitas merapikan rumah dan mengobrol santai bersama Wulan di beranda depan.
Nadia menyalakan keran air yang mengalir lancar dari saluran pipa ledeng kuno, mencampurkan air panas yang baru saja masak ke dalam bak cucian plastik, lalu mulai membasuh sekujur tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Guyuran air hangat yang nyaman itu perlahan-lahan berhasil mengendurkan kembali ketegangan otot di tubuh, leher dan pelipis kepalanya yang sempat berdenyut halus akibat hantaman rasa penasaran yang menumpuk selama berhari-hari.
Selesai mandi dan mengeringkan tubuhnya, Nadia berganti pakaian menggunakan daster katun bermotif bunga yang tipis dan adem. Rambut tebalnya yang basah dia biarkan terurai bebas agar cepat kering tersapu angin dalam rumah.
Ia menyalakan radio online yang biasa didengarnya di Jakarta dulu. Suara para penyiar yang ramai penuh canda cukup membantunya mengurangi rasa sunyi. Kemudian melangkah menuju ke meja makan di dapur,k menaruh menu lauk makan malam pemberian dari Bu Lastri tadi ke atas sebuah piring keramik.
Sayur oseng kikil yang bumbunya tampak gurih kemerahan dan sepotong ayam goreng berukuran sedang yang masih menyisakan sedikit kehangatan sisa gorengan sore, serta seplastik kecil sayur lodeh.
Nadia membawa piring makan yang sudah diisi setengah piring nasi bersama lauk pauk ke dalam kamar tidurnya. Menyalakan lampu kamar LED berwarna putih, membiarkan suasana kamar menjadi terang, nyaman, guna mengusir kesan angker dari dinding bangunan kolonial.
Dia mendudukkan diri dengan posisi bersandaran santai di atas kasurnya yang empuk, menikmati makan malam sederhananya yang terasa sangat nikmat di lidah sembari menyalakan layar laptop untuk menonton tayangan serial film di aplikasi Netflix.
Suasana batin wanita muda dari Jakarta itu benar-benar berada di titik yang teramat nyaman, hangat, dan rileks layaknya kehidupan normal sehari-hari di kota asalnya. Kehadiran canda tawa Wulan serta aktivitas menyenangkan melukis sketsa potret wajah gadis desa itu tadi sore terbukti sangat ampuh mengusir seluruh rasa jenuh dan sepi di dalam kepalanya selama ditinggal oleh suami yang sedang bekerja di atas gunung.
Setelah piring makan malamnya tandas bersih dan waktu merayap semakin larut malam menjelang jam sebelas, rasa kantuk yang teramat berat mulai menyerang kelopak mata Nadia secara perlahan.
Efek perut yang kenyang bercampur hawa dingin malam kota Purwokerto yang menerobos masuk ventilasi kayu di atas pintu dan jendela yang menyatu dengan kusen, membuat tubuhnya terasa sangat sejuk dan nyaman.