Begitu Nadia kembali memejamkan sepasang matanya di balik kehangatan selimut kamar paviliun, kesadaran batinnya langsung meluncur hanyut tanpa hambatan menembus sisa gulungan kabut mimpi yang sempat terputus tadi.
Jiwanya ditarik masuk kembali secara utuh ke dalam dimensi masa lalu pada tahun 1966 silam. Namun kali ini, sudut pandang mimpinya tidak lagi tertuju pada sosok sang guru SD yang gelisah, melainkan berpindah menjadi “penonton” yang menyaksikan sebuah pertemuan birokrasi penting di dalam rumah dinas camat.
Suasana ruangan di dalam mimpi ketiga sesi lanjutan ini tampak dinaungi oleh benderang cahaya lampu katrol minyak tanah, yang digantung di tengah ruang tamu rumah dinas camat yang berukuran luas.
Malam itu udara di luar sedang diguyur oleh hujan gerimis yang kencang, Menghembuskan hawa dingin di sela-sela pilar kayu bangunan Jawa kuno tersebut.
Di tengah ruangan, tepat di atas sebuah meja kayu jati panjang, tampak berjajar rapi hidangan jamuan yang sengaja disiapkan oleh istri sang camat demi memuliakan posisi atasannya yang sedang melakukan kunjungan kerja resmi ke wilayah kecamatan di bawah kekuasaannya.
Sebuah teko keramik berisi teh manis hangat dan dua cangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap harum ditaruh bersandingan dengan beberapa piring keramik berisi kue-kue pasar tradisional.
Sang wedana, pria paruh baya bertubuh tegap dengan raut wajah berahang tegas dan sorot mata angkuh, sedang duduk bersandaran santai di kursi ukir utama. Dia mengenakan pakaian beskap kucing anjlog berwarna hitam polos dengan kain jarik motif jonasan khas Banyumasan yang sangat rapi, pakaian dinas resmi sejak kedatangannya siang tadi.
Di hadapannya, sang camat selaku penguasa wilayah bawahannya duduk dengan posisi tubuh yang tampak sedikit membungkuk kaku ke depan; sebuah gestur tubuh ketakutan bercampur segan, khas seorang bawahan yang sedang merasa teramat sungkan dan gugup menghadapi kedatangan pejabat tinggi kawedanan.
Tugas sang wedana dalam kunjungan kerja kali ini sebenarnya sangat berat, yaitu memastikan seluruh daerah yuridiksinya aman terkendali pasca-gejolak politik besar di ibukota Jakarta. Namun malam itu urusan dinas tampaknya sengaja mulai dikesampingkan seiring merayapnya waktu malam yang semakin sunyi.
Sang wedana meraih cangkir kopi hangatnya dengan gerakan tangan yang sangat tenang dan berwibawa, menyesap isinya sedikit, lalu menaruhnya kembali ke atas tatakan keramik hingga menimbulkan bunyi denting yang tipis.
Dia mengambil sepotong kue nagasari di atas piring, mengunyahnya dengan perlahan sebelum akhirnya mengedarkan pandangan matanya yang tajam menatap lurus ke arah wajah si camat.
Keheningan yang jatuh di ruang tamu berukuran luas itu mendadak terasa kaku dan menyengat. Suara rintik hujan gerimis yang kian kencang menghantam atap genteng di luar, membawa embusan hawa dingin pebukitan yang menyelinap bebas di sela pilar kayu bangunan Jawa kuno, namun tidak mampu mengusir temperatur ketegangan yang merayap di antara kedua pria tersebut.
Di atas meja jati panjang, kepulan asap tipis dari cangkir kopi hitam sang wedana bergerak malas, membiaskan benderang pendar kuning dari lampu katrol minyak tanah yang sesekali berayun pelan ditiup angin malam.
Sang camat berkali-kali membetulkan posisi duduknya yang membungkuk kaku, menelan ludah yang terasa kesat di tenggorokan setiap kali mendengar suara kunyahan pelan sang wedana yang sedang menikmati sepotong kue nagasari.
Ritme kunyahan yang lambat dan tenang itu seolah menjadi detik jam pasir yang sedang menguji ketahanan mental sang bawahan. Keheningan domestik ini sengaja diulur panjang oleh sang wedana, sebuah taktik intimidasi birokrasi yang halus untuk menakar sejauh mana kepatuhan dan rasa segan sang camat bekerja, sebelum akhirnya sorot mata angkuh pria berbeskap kucing anjlog itu mengunci telak wajah bawahannya.
"Bagaimana kondisi keamanan di wilayah sampeyan, Pak Camat? Apakah barisan pemuda desa di sini semuanya sudah bisa dikendalikan dengan baik?" tanya sang wedana dengan nada suara baritonnya yang berat namun terdengar sangat berwibawa dan mengalir santai.
Sang camat langsung menganggukkan kepalanya dengan gerak cepat, mengulas sebuah senyuman ramah yang dipaksakan demi menyenangkan hati sang atasan.
"Aman terkendali, Ndara Wedana. Seluruh perangkat desa dan barisan keamanan sudah saya perintahkan untuk memperketat penjagaan di perbatasan gang setiap malam. Tidak ada pergerakan yang mencurigakan sejak minggu lalu, Ndara."
Sang wedana mengangguk puas mendengarnya. Dia bersandar kembali di kursi jatinya, mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di atas meja kayu berulang kali, sembari melemparkan pandangannya menembus jendela yang diguyur gerimis di luar. Di detik itulah, silat lidah birokrasi yang sesungguhnya mulai dilancarkan oleh sang penguasa dengan sangat halus.
Sang wedana merapatkan posisi duduknya, lalu melempar pertanyaan pancingan yang sifatnya teramat tersirat, keluar sepenuhnya dari urusan dokumen birokrasi negara.