Sejak kejadian sambungan mimpi tiga malam lalu yang terasa begitu nyata di alam bawah sadar Nadia, suasana di dalam paviliun kawedanan sebenarnya bergulir dengan jauh lebih tenang.
Ingatan pekat tentang nama sang selir Retno Wulandari serta kelicikan birokrasi camat pada tahun 1966 silam, sengaja Nadia simpan rapat-rapat di dalam kepalanya tanpa mau dia pikirkan secara berlebihan.
Pagi ini, setelah didera rasa sepi yang cukup panjang, Nadia berencana untuk memasak di dapur demi menyambut kepulangan suaminya yang dijadwalkan akan turun gunung nanti siang.
Melalui sambungan telepon genggam yang sempat terhubung tadi pagi saat suaminya menemukan titik antena portabel di atas lereng gunung, Bramantyo memang sempat merengek manja minta dimasakkan menu makanan kesukaannya.
Suaminya bilang dia sudah sangat bosan menyantap menu ransum mi instan dan makanan kaleng logistik proyek kementerian selama berhari-hari di atas posko galian candi.
Bramantyo secara khusus meminta Nadia untuk membuatkan menu pesmol ikan mujair bumbu kuning yang gurih bercampur potongan cabai rawit, ditemani semangkuk sayur asem segar khas masakan rumah tangga yang biasa mereka santap bersama saat masih tinggal di Jakarta dulu.
Nadia menyambut permintaan tersebut dengan perasaan yang sangat gembira, mengira bahwa kepulangan suaminya kali ini akan kembali mencairkan kesunyian paviliun.
Nadia mengikat rambutnya dengan rapi, lalu bersiap melangkahkan kakinya keluar melewati pintu depan menuju ke arah gapura kampung tempat tukang sayur keliling biasanya ada.
Namun, tepat saat daun pintunya terbuka lebar, pandangan mata Nadia langsung menangkap sosok Pak Slamet yang sedang berdiri diam membisu di tengah hamparan pekarangan depan pendopo. Kakek itu tampak sedang memandangi undakan teras paviliun Nadia dengan sepasang mata tuanya yang kosong.
Sejak kejadian Nadia melukis sketsa pintu kecil di samping dapur tempo hari, gerak-gerik Pak Slamet memang terasa semakin aneh dan paranoid. Dia sering kali terlihat mondar-mandir tanpa memegang sapu lidi di dekat area paviliun, seperti sedang menaruh kewaspadaan tinggi untuk memastikan bahwa wanita kota tersebut tidak sedang melancarkan aksi penyelidikan yang membahayakan posisi rahasianya.
Sesungguhnya, Pak Slamet sendiri juga sudah mengambil kesimpulan, kalau Nadia tengah di bawah pengaruh energi gaib yang menghuni kolong paviilun.
Meski dirinya sudah tua, Pak Slamet masih merasa waras dan belum pikun. Dalam batinnya, dia sering bertanya-tanya, bagaimana mana mungkin Nadia bisa menggambar wajah pasangan selingkuhan yang sudah meninggal 60 tahun lalu tanpa dibimbing kekuatan yang tidak kasat mata.
Ketika akhirnya pandangan mereka bertemu, Nadia tetap bersikap sangat tenang dan biasa saja, sama sekali tidak memperlihatkan terintimidasi oleh tatapan kosong dan kelam dari mata Pak Slamet.
Dia tetap mengunci batinnya pada asas praduga tak bersalah, meski itu sudah semakin lemah. Nadia lalu menyapa sang penjaga tua dengan nada suara yang sangat ramah dan santai.
"Selamat pagi, Pak Slamet. Kebetulan sekali ketemu di sini," sapa Nadia sembari menuruni undakan teras. "Pak Slamet tahu tidak ya, jam segini tukang sayur keliling yang biasa lewat di depan gerbang sudah melintas atau belum?"
Mendengar sapaan ramah yang meluncur sangat wajar dari mulut Nadia, raut wajah kaku Pak Slamet seketika tampak sedikit melunak, meskipun saraf di pelipis tuanya masih menyisakan ketegangan yang tertahan. Kakek sepuh itu berdeham pendek, membetulkan letak kopiahnya yang miring, sebelum menjawab dengan bahasa Indonesia logat medoknya.
“Oalah... tukang sayur kelilingnya sudah lewat dari jam delapan tadi pagi, Mbak Nadia," jawab Pak Slamet dengan suara tenornya yang khas dan artikulasi jelas.
Kalo ke pasar, jauh Pak?”
“Lumayan jauh, Mbak. Naik angkot dari jalan kabupaten. Angkotnya juga jarang, agak lama nunggunya,” jawab Pak Slamet sambil mengeluarkan bungkusan tembakaunya.
“Saya mau beli ikan mujair segar, Pak. Biasanya di tukang sayur keliling ada.”
"Kalau mau mencari ikan mujair segar yang baru ditangkap dari kolam warga, Mbak Nadia jalan kaki saja menuju ke pertigaan jalan raya kecamatan. Di sana ada lapak penjual ikan air tawar hidup. Jenis ikannya juga banyak."
“Kalo tukang sayur yang mangkal dekat sini ada, Pak?”
“Ada Mbak, di sebelah lapak ikan itu.”
Nadia mengangguk paham. "Oh, nggih, Pak Slamet. Matursuwun ya informasinya. Kalo begitu saya permisi dulu."
“Nggih, sami-sami Mbak Nadia.”
Wanita itu melangkah berjalan santai menyusuri gang yang disisi kiri kanannya berjejer pohon sawo kecik. Menikmati kehangatan matahari pagi jam sembilan yang menyoroti wajahnya dari sela-sela kerimbunan daunnya.
Setelah berjalan kaki sekitar dua puluh menit melintasi gang besar yang dipadati hamparan kerikil, dia sampai di lapak khusus ikan air tawar dekat pertigaan jalan kecamatan. Letaknya sekitar 700 meter sebelah kiri Indoapril.
Suasana di lapak ikan itu terlihat cukup ramai dikunjungi ibu-ibu penduduk kampung sekitarnya. Di sana, Nadia membeli lima ekor ikan mujair ukuran sedang yang masih hidup. Ternyata, di lapak itu juga tersedia sayur mayur dan kebutuhan dapur yang komplit. Nadia merasa senang dan puas, jadi ia tidak perlu lagi ke pasar.
Setelah urusan belanjanya tuntas, Nadia kembali melangkahkan kakinya memasuki gang kawedanan. Sesampainya di dapur paviliun, Nadia langsung menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah tangganya yang menyenangkan.