MISTERI PAVILIUN KAWEDANAN

Heru Sanjaya
Chapter #26

ARGUMENTASI DI WARUNG RAMESAN

Setelah Bramantyo berangkat kembali naik ke atas lereng gunung sekitar jam sembilan pagi, suasana di dalam paviliun kawedanan seperti biasa, kembali dilingkupi oleh kesunyian. Ia baru bisa memacu mobil kementeriannya pada jam sembilan pagi, padahal jadwal piket lapangan yang seharusnya adalah jam tujuh.

Keterlambatan dua jam itu terjadi akibat kondisi fisik Bramantyo yang mengalami kelelahan setelah mereka bergumul sampai dua babak tanpa jeda istirahat menjelang tidur semalam.

Nadia berjalan lunglai menuju kamar tidur utama, lalu mulai melepaskan kain sprei dari atas kasurnya untuk dicuci. Sembari menunggu cucian sepreinya direndam detergen, ia bergerak menuju ke meja makan di dapur untuk sarapan.

Menyantap dua tangkup roti isi telur dadar yang gurih ditemani segelas jus apel dingin yang segar. Sambil mengunyah rotinya, Nadia meraih telepon genggamnya, membuka aplikasi media sosial untuk memeriksa barisan notifikasi serta melihat linimasa kabar dari teman-teman lamanya di Jakarta.

Iseng karena merasa suasananya sedang sangat tenang, Nadia memutuskan untuk menulis sebuah status pendek mengenai lembaran kehidupan barunya di Purwokerto bawah.

Dia mengetik barisan kalimat yang menyebutkan bahwa tinggal di pinggiran kota Purwokerto terasa semakin hari semakin menyenangkan karena hawanya sejuk dan asri, meskipun dia sempat menyelipkan gurauan tipis bahwa ada aura mistis tersendiri yang terasa merayap halus di dalam bangunan kompleks kawedanan tersebut.

Bagi batinnya, aura mistis itu dianggap sebagai bagian dari bumbu petualangan eksotis selama mendampingi dinas suaminya, bukan sesuatu yang harus ditakuti secara berlebihan.

Baru semenit tombol kirim diketuk, layar telepon genggam Nadia langsung bergetar beruntun memuntahkan barisan notifikasi pesan masuk dari grup WhatsApp sahabat kantor lamanya di Jakarta. Nama "Rika", “Agnes” dan "Maudy" berkedip di bilik layar, memecah keheningan ruang makan dapur paviliun dengan gaya obrolan metropolitan yang berisik.

"Heh Nad! Lo mistis-mistisan mulu di sana! Awas, ntar pulangnya bawa gandengan penunggu lokal." ketik Rika, disusul rentetan emoji tertawa sampai menangis.

Nadia tersenyum tipis, jemarinya lincah mengetik balasan di atas keyboard virtual sembari menyesap sisa jus apel dinginnya yang segar. "Aman, di sini hawanya sejuk banget bikin mager, beda sama polusi di Sudirman. Tapi beneran, bangunan jaman Belandanya emang punya vibes mistis tersendiri."

"Alaah, palingan itu taktik lo biar si Bram buru-buru minta pindah dinas balik ke Senayan lagi, kan?” timpal Agnes.

“Nggaklah, baru juga dua minggu lebih disini.” Nadia menyanggah. “Lagian laki gue betah ditugasin sampe setahun.”

“Bilang aja lo kangen moka pot kafe langganan kita!" celetuk Maudy, lalu membawa obrolan mereka melipir jauh membahas gosip posisi jabatan Nadia yang sudah digantikan “musuh dalam selimut”, mutasi jabatan kantor dan rencana pernikahan salah satu rekan divisi mereka bulan depan.

Nadia bersandar santai di kursi makan, membaca barisan obrolan panjang itu dengan senyum mengembang. Riuhnya urusan dunia modern di Jakarta yang berjarak ratusan kilometer di utara sana mendadak terasa begitu berjarak dan asing, kontras dengan kesunyian pekat pekarangan kompleks kawedanan yang selalu mengurung raganya.

Jembatan komunikasi digital ini setidaknya berhasil menstabilkan kewarasannya, memberi sekat pembatas yang tegas bahwa dirinya masih memijak bumi yang rasional, bukan masuk ke dalam dimensi mistis yang tidak masuk akal.

Siang harinya, setelah jemuran sprei dia gantungkan pada tali bambu selasar samping, Nadia kembali menyantap lauk makan siang pesmol ikan mujair dan sayur asem sisa masakan kemarin.

Setelah perutnya full tank, Nadia beranjak ke ruang tamu, menghempaskan pantatnya di kursi babon angrem untuk menikmati musik yang didengar melalui TWS di kupingnya.

Cahaya matahari siang menjelang sore yang menerobos lewat jendela depan, tertutup bayangan dedaunan beringin di luar, tapi tetap masih bisa menyinari ruang tamu di mana Nadia berada.

Permukaan rotan kuno pada kursi babon angrem itu terasa kaku dan berdecit halus setiap kali Nadia menggeser posisi badannya. Desain kayu jatinya yang melengkung lebar menyerupai ayam betina mengerami telur, seolah menjadi sangkar nyaman yang menopang kesendiriannya.

Nadia memejamkan mata, membiarkan alunan musik favorit dari perangkat TWS-nya menyumbat total keheningan paviliun yang membosankan. Ketukan ritme instrumen modern itu menjadi perisai batin sementara, menjauhkan fokus kepalanya dari bayang-bayang genangan air misterius di dalam kamar tidur utama.

Begitu matahari mulai bergerak turun dan meredup terhalang awan mendung lereng Gunung Slamet, Nadia beranjak ke kamar mandi, mengambil kain pel dan setengah ember air yang sudah diberi karbol disinfektan.

Nyonya Bramantyo itu mulai mengepel seluruh permukaan lantai paviliun. Namun, di kamar tepat saat ujung tongkat kain pelnya bergerak mendorong masuk menembus area di bawah ranjangnya, indra penciuman Nadia yang tajam mendadak menangkap adanya perubahan eskalasi bau yang cukup nyata.

Genangan air bening yang keluar dari sela-sela nat tegel kuning di titik tersebut tampak semakin meluap melebar, dan bau kurang enak yang menguap dari dalam tanah di kolong ranjangnya semakin pekat. Nadia mencoba mengabaikan kembali kejanggalan fisik tersebut demi menjaga nalar rasionalnya.

Lihat selengkapnya