Pagi itu, paviliun kawedanan dilingkupi oleh kehangatan cahaya matahari yang cerah setelah kabut tipis lereng gunung perlahan mulai memudar. Genangan air di kolong ranjang tidak terlihat sama sekali sejak terakhir dia mengobrol dengan Wulan lima hari lalu, membuat Nadia lega, setidaknya untuk sementara waktu.
Bramantyo baru saja berangkat ke gunung sekitar jam tujuh dengan semangat yang lebih banyak tentunya. Baterai biologisnya sudah terisi daya penuh. Tidak ada lonjakan gairah liar sama sekali. Hubungan intim semalam seperti normalnya aktivitas ranjang mereka dulu, saat masih tinggal di Jakarta.
Setelah menyelesaikan sarapan paginya dengan oatmeal dan dua butir telur rebus, Nadia duduk santai di kursi ruang tamu sembari memandangi layar laptopnya untuk membaca berita online.
Baru saja ia membaca beberapa headline news, terdengar suara lengkingan teriakan khas dari tukang sayur keliling di atas motor roda tiga yang berjalan perlahan melewati kompleks kawedanan.
“Sayuuur… Yuuur… Sayur-sayuur!”
Nadia bergegas mengambil dompet di kamar, lalu berjalan ke luar kompleks melewati gang sawo kecik untuk bergabung bersama ibu-ibu yang sudah berkumpul di pojok gapura kampung samping pos ronda.
Suasana di sekitar lapak gerobak sayur pagi itu terasa sangat ramai dan bising. Kerumunan ibu-ibu rumah tangga di kampung itu tampak sedang asyik berkerumun, saling melempar obrolan gosip yang berbau ghibah.
Mereka terlihat begitu antusias membicarakan selentingan kabar panas mengenai Pak RW yang katanya ketahuan main serong dengan istri seorang sekretaris camat. Namun, belum usai gosip panas itu dibicarakan, mendadak terhenti saat langkah kaki Nadia berjalan mendekati.
Rentetan obrolan ghibah yang tadinya riuh rendah itu seketika langsung sunyi senyap menciptakan atmosfer kaku di antara kerumunan ibu-ibu kampung.
Pandangan mata mereka kini sepenuhnya berbalik fokus menatap lurus ke arah sosok Nadia selaku orang kota dari Jakarta. Sikap mereka langsung berubah ramah, lalu mulai memberondong Nadia dengan rangkaian pertanyaan basa-basi.
"Eh, Mbak Nadia... selamat pagi, Mbak! Gimana kabarnya tinggal di paviliun kawedanan? Baik-baik saja kan, Mbak?" tanya seorang ibu bertubuh subur sembari sbuk memilah ikatan kangkung mentah.
Belum sempat Nadia menjawab, seorang ibu lain yang mengenakan daster batik langsung menyenggol lengannya ikut menimpali.
"Iya loh, Mbak Nadia. Di dalam paviliun tua itu selama ini nggak ada kejadian yang aneh-aneh kan, Mbak? Aman-aman saja, 'kan?"
Nadia hanya mengulas senyuman ramah dan tenang, tanpa mau terpancing. "Kabar saya baik dan sehat-sehat saja, Ibu-ibu. Di dalam paviliun juga suasananya sangat tenang dan sejuk kok, aman nggak ada kejadian aneh-aneh."
"Oalah, syukur kalau begitu, Mbak," sahut ibu jilbab di pojokan, pandangan matanya tampak menyelidiki. "Lha terus... gimana keadaannya Pak Slamet yang sudah sepuh itu, Mbak? Akhir-akhir ini sepertinya dia jarang kelihatan keliling pekarangan memegang sapu lidi. Maklum, kakek tua itu kan dari dulu orangnya sangat tertutup dan jarang sekali mau mengobrol sama warga kampung sini."
Nadia mengangguk-angguk pelan sembari tangannya memilah dan memilih sayuran dari atas gerobak. "Pak Slamet sehat kok, Ibu. Pagi ini juga seperti biasa beliau sedang sibuk berbenah di halaman pekarangan."
Setelah menyelesaikan urusan pembayaran belanjaan sayurnya, Nadia segera berpamitan dengan sangat sopan kepada rombongan ibu-ibu ghibah tersebut, memilih untuk buru-buru melangkah pulang demi menghindari rentetan pertanyaan kepo yang semakin meluas.
Sesampainya kembali di dalam pekarangan kompleks kawedanan, langkah kaki Nadia yang membawa kantong belanjaan sayur mentah, sekilas menangkap sosok Pak Slamet sedang beraktivitas di halaman belakang, dekat deretan koridor bangunan bekas kamar para abdi dalem dan sumur timba.
Kakek itu tampak sedang membungkukkan tubuh tuanya yang masih terlihat tegap. Ia menggunakan sebilah parang untuk menggali beberapa buah ubi jalar dari dalam tanah pekarangan yang gembur.
Nadia melangkah berjalan mendekati sang penjaga tua itu, lalu menyapanya dengan nada suara santai seperti biasanya demi mencairkan ketegangan pasca-kejadian sketsa pintu belakang beberapa waktu yang lalu.
"Wah... sedang panen ubi ya, Pak Slamet?" sapa Nadia ramah.