Rasa terkejut yang luar biasa, sempat membuat seluruh raga Nadia membeku di atas tegel semen koridor bangunan belakang siang itu.
Sepasang matanya membelalak lebar, menatap lurus ke arah daun pintu jati kamar abdi dalem yang wujudnya tampak paling mewah sendiri di sana. Nama "Ndara Retno" yang baru saja meluncur sangat enteng dari mulut Pak Slamet benar-benar menghantam psikologisnya dengan teramat kencang.
Nama itu sama persis dengan nama sosok selir muda yang hadir di dalam kronologi memori mimpi ketiganya beberapa malam lalu.
Namun, sebagai wanita yang dididik menggunakan nalar rasional yang kuat, Nadia tidak membiarkan dirinya larut dalam kepanikan emosi yang berlebihan.
Hanya dalam hitungan detik, pikiran jernihnya langsung bekerja normal kembali. Nadia menyadari seutuhnya bahwa informasi masa lalu tahun 1966 yang baru saja dia dengar ini sebenarnya sama sekali tidak memiliki pengaruh apa pun bagi kelangsungan hidup pribadinya sehari-hari di tempat ini.
Retno adalah orang asing dari masa lalu yang tidak ada hubungan darah sedikit pun dengan silsilah keluarganya, dan kejadian tragis pembantaian belati itu pun sudah selesai terkubur puluhan tahun silam.
Nadia bukanlah seorang aparat penegak hukum yang memiliki kewajiban untuk membongkar kasus kriminal kedaluwarsa. Kabar bocornya nama itu murni hanyalah sebuah "hadiah informasi" tak terduga yang dia dapatkan secara gratis setelah dia tulus memberikan sepiring nasi, sayur lodeh hangat dan ayam goreng kepada si pengurus kompleks kawedanan itu.
Dengan gerakan tangan yang teramat tenang, Nadia menarik napas panjang demi mengeluarkan sisa sesak di dadanya, lalu mengulas sebuah senyuman wajar yang santai seolah-olah tidak ada hal mengejutkan apa pun yang baru saja terjadi di antara mereka.
"Kenapa kamar pelayan ini bisa mewah sendiri, Pak Slamet? sudah gitu Bapak memanggilnya dengan sebutan Ndara?”
Eeu... niku, Raden Ayu… eh maaf, maksudnya Mbak Nadia! S-saya salah ucap tadi," Pak Slamet terbatuk kecil, buru-buru menaruh kembali sendoknya ke atas nampan dengan tangan yang gemetar halus. "Maksud saya... eeu… panggilan Ndara itu murni karena batin saya sungkan. Retno itu kan bukan pelayan biasa, tapi dia anak Pak Carik."
Karena bapaknya adalah pejabat administrasi kantor desa bawahan Wedana, saya selaku abdi dalem paling muda waktu itu, ya memanggilnya Ndara Retno demi menghormati status sosial keluarganya... Yah, itu murni karena urusan tata krama saja, Mbak."
Pak Slamet menarik napas panjang, menghembuskannya dengan cepat sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Terus kalau masalah kamarnya bagus... itu... itu karena kamar ini dulunya sering dipakai buat menyimpan kain-kain batik tulis Banyumasan persediaan milik keluarga wedana, makanya pahatan kayunya sengaja dibuat dari jati pilihan supaya tidak gampang dirusak rayap atau tikus tanah..."
"Oh... begitu ya, Pak!" tanya Nadia dengan nada suara biasa meski ia yakin ada sesuatu yang disembunyikan oleh kakek tua itu. "Wah, pantesan aja pintu kayunya kelihatan paling bagus dan mewah sendiri ya dibandingkan kamar abdi dalem lainnya."
Pak Slamet yang saat itu jemari tangan tuanya masih memegangi piring berisi sisa ayam goreng, langsung menganggukkan kepalanya dengan gerakan cepat sambil mengulas senyum kaku dari bibirnya yang hitam kering. Sepertinya dia mulai merasa tidak nyaman, tapi sama sekali tidak menaruh rasa curiga sedikit pun.
"Nggih, Mbak Nadia... pintu jati kamar itu memang bahannya sengaja dipilihkan yang paling bagus dari kota," jawab Pak Slamet parau sembari menatap sisa nasi kuah lodehnya yang sudah dingin dan dihinggapi lalat.
Nadia mengangguk pelan, lalu melangkah mundur dengan gerakan kaki tertata anggun.
“Jadi kalo begitu, Pak Slamet. Silakan makan siangnya dilanjutkan. Maaf udah ganggu waktu makan Bapak. Saya permisi dulu, mau angkat jemuran.”