Nadia membuka matanya ketika sorot cahaya matahari pagi dari sela-sela kerimbunan daun beringin menerobos masuk ke dalam jendela kamarnya. Meski sudah tertutup gorden, sorot cahayanya yang hangat mampu menyelip di antara celah gorden. Bagai sebuah jemari lentik yang lembut membangunkannya.
Tidurnya sangat nyenyak, berkualitas, tanpa terjaga sedetik pun di tengah malam. Ia segera menyingkapkan selimutnya, dan bangkit berdiri dengan tubuh yang terasa segar, lalu beranjak menuju meja rias dengan kaca oval di sudut kanan tempat tidurnya.
Wajahnya terlihat sedikit kusam dan berminyak. Mungkin semalam dia kelupaan memakai krim pelembab sebelum tidur.
Puas memandangi wajahnya sendiri, wanita itu mengayunkan kakinya ke kamar mandi untuk membersihkan diri serta membuang limbah "berbahaya" sisa pencernaan semalam.
Sehabis menuntaskan hajatnya di kamar mandi, ia mengganti baju tidurnya dengan pakaian kasual sehari-hari. Kaus oblong katun model v-neck dan celana pendek kargo sebatas lutut. Dia juga menguncir rambutnya yang tebal sebahu, memperlihatkan lehernya yang jenjang dengan helaian anak rambut di bagian tengkuknya.
Warna kulit badannya yang kuning langsat kecoklatan, memberikan kesan kulit yang eksotis, sehat, dan bercahaya.
Pagi ini, Nadia benar-benar terlihat memesona, anggun, dan bermartabat. Sulit bagi pria untuk tidak memalingkan wajah jika kebetulan berpapasan di jalan.
Wanita itu membiarkan pintu kamar tidurnya terbuka lebar-lebar agar udara mengalir bebas. Di dapur, ia hanya menyiapkan segelas susu slim & fit untuk sarapan paginya.
Kemudian dia beranjak ke ruang tamu, membuka laptop-nya untuk membaca berita online yang isi beritanya cuma itu-itu saja. Perang AS-Iran, Program MBG yang dananya dikorupsi keroyokan, nilai tukar rupiah yang naik-turun, sampai berita Ijazah palsu yang berseri mirip sinetron drama turun ranjang yang kejar tayang.
Ia masih ingat beberapa tahun lalu saat mengobrol dengan seseorang di kantornya yang bilang: “Bodohlah jika ia percaya pada suatu berita. Tapi lebih bodoh lagi jika ia tidak membacanya.”
Nadia menyimpulkan, Ia akan tetap membaca berita yang bersifat informatif, tapi tidak tidak akan percaya begitu saja pada berita yang sumbernya tidak jelas dan tidak dapat dibuktikan kebenarannya.
Selesai membaca berita, Nadia memutuskan rencana hari ini untuk memasak lagi. Ia sudah lama tidak makan sayur bening bayam yang rasanya ringan. Kemarin seharian dia sudah makan sayur lodeh yang bersantan.
Jam sudah menunjukkan pukul 8.30 WIB. Sedari tadi dia belum mendengar lengkingan suara tukang sayur keliling. Nadia masih ragu untuk memutuskan, apakah langsung saja pergi ke lapak pedagang ikan di pertigaan kecamatan yang juga menjual sayuran, atau menunggu beberapa saat lagi. Kemungkinan besar tukang sayur keliling itu memang belum lewat.
Nadia akhirnya membuka laptopnya lagi, ia akan menunggu saja beberapa saat si tukang sayur keliling ikonik, yang giginya pakai behel.
Benar saja, baru sekitar 10 menit ia melihat tutorial memasak kraca, keong sawah khas Banyumas di YouTube, teriakan lantang Lik Min, si tukang sayur terdengar nyaring melewati gerbang kawedanan.
Nadia segera beranjak ke luar kompleks kawedanan menuju gapura kampung di ujung jalan kecamatan. Jaraknya dekat, sekitar 150 meter.
Sesampainya disana, lapak sayur Lik Min sudah tertutup ibu-ibu dengan suara riuhnya.
“Selamat pagi semuanya!” Nadia menyapa ramah dan hangat.
“Pagi, Mbak Nadia!!!” tanpa aba-aba konduktor Addie MS, suara ibu-ibu serentak keluar bersamaan dengan pembagian suara 1-2-3 yang harmonis.
“Mangga Mbake, mau masak apa?” tanya di ibu yang rambutnya di roll.
“Kayaknya enak masak sayur bening bayam, Bu.”
“Lah, emang enak Mbak, sayur bening bayam pakai jagung.” timpal ibu berjilbab sambil menyodorkan sebonggol jagung manis.
“Niki Mbake, bayamnya masih seger-seger!” Ibu gemuk berkaus skinny hijau menunjuk ke arah tumpukan sayur bayam.
“Oh, iya Bu, makasih.”
Nadia mengambil tiga kantong ikan tongkol cue untuk dimasak balado. Lalu tangannya sibuk memilih jagung untuk dibuat bakwan. Dia juga mengambil sekantong plastik kecil udang basah sebagai campuran bakwannya.
Si ibu yang rambutnya di roll, melihat Nadia mengambil ikan tongkol cabai, tomat, bawang merah-putih langsung kepo bertanya, “Mau dimasak pedas tongkol cuenya, Mbake?”
“Betul, Bu. Tongkol cue bumbu balado.”
“Jan…! pasti mbleketaket pisan rasane, Mbake!”
“ Iya, Bu. Pasti enak banget!” Nadia menahan tawanya.
Setelah membayar semua belanjaannya, Nadia mengucapkan permisi pada ibu-ibu yang masih asyik berkerumun mengitari lapak sayuran.