MISTERI PAVILIUN KAWEDANAN

Heru Sanjaya
Chapter #30

GENANGAN AIR BERBAU MENTEGA TENGIK

Pagi ini setelah sarapan dan membaca berita, Nadia langsung membuka pintu depan. Ia ingin menikmati suasana pagi dengan berjalan kaki santai mengitari lokasi bekas bangunan kuno di seberang kompleks kawedanan.

Sebetulnya dia ingin sekali mengajak Wulan, tapi merasa tidak enak, khawatir mengganggu kesibukannya membantu di warung.

Nadia melihat jam di HP-nya, baru pukul 9.21 WIB. Hari ini ini dia tidak memasak lauk. Masih ada tongkol cue balado sisa kemarin. Adonan bakwan jagung udang juga masih ada di kulkas. Begitu juga sayur bayam mentah masih tersisa seikat. Cukup untuk dua kali makan.

Sesampainya di seberang kompleks kawedanan, Nadia segera menuju lapangan berumput luas bekas alun-alun di masa lalu. Mungkin ini pernah jadi lokasi pasar malam dimana Retno dan si guru SD berkencan. Hiburan di zaman dulu yang sangat terbatas. Tidak ada mall, bioskop, kafe, atau tempat nongkrong anak muda lainnya.

Nadia membayangkan bagaimana kalau dia hidup di zaman yang sama dengan pasangan kekasih itu. Situasi politik juga belum stabil pasca-pergolakan di ibukota Jakarta. Setiap orang saling curiga satu sama lain. Bahkan bisa jadi sesama saudara kandung atau kerabat.

Ia segera menghentikan bayangan hidup di masa itu. Tidak sanggup meneruskannya. Kemudian dia menyusuri bangunan bekas pasar, kantor pos dan telegraf. Di lokasi ini Nadia kembali membayangkan hidup di tahun 60-an.

Meski telepon sudah masuk di Indonesia bahkan sebelum zaman kemerdekaan, tapi jangkauannya masih sangat terbatas, sulit diakses dan mahal. Apalagi di pinggiran kota seperti ini.

Untuk menelepon ke luar kota, misalnya ke Jakarta, seseorang harus memesan jalur lebih dulu lewat operator dan harus mengantre berjam-jam.

Telegraf (telegram) masih tetap menjadi primadona komunikasi jarak jauh masyarakat Purwokerto di tahun 60-an. Jika ada keluarga yang sakit di perantauan atau mengalami musibah, mengirim telegram ke kantor PTT (Post Telegraf Telepon) jauh lebih cepat, murah, dan pasti sampai ke alamat tujuan dibanding mencoba menelepon.

Kantor ini masih berdiri meskipun sudah tidak berfungsi. Sayang sekali, kaca jendelanya sebagian sudah hancur, temboknya juga banyak terkelupas.

Sekarang, fungsinya mungkin cuma sekadar saksi bisu dari sebuah peradaban zaman yang pernah menganggapnya penting dan berharga.

Ada satu lagi bangunan bekas rumah pejabat sipil Belanda yang sudah rusak parah dipenuhi tanaman rambat. Letaknya di sebelah kanan, dekat ke arah gapura kampung. Nadia sepertinya tidak tertarik untuk memeriksanya. Ia lalu memilih kembali ke paviliun karena matahari mulai meninggi.

Saat memasuki pintu ruang tamu, jam dinding berdentang sebelas kali. Nadia menghempaskan tubuhnya di kursi babon angrem untuk beristirahat sebentar sebelum memasak nasi, sayur bayam, dan menghangatkan lauk yang masih tersisa.

Perjalanannya tadi ke “masa lalu” lewat bangunan kuno yang masih tersisa, terasa menyenangkan dan bermakna.

Setelah makan siang dan berbenah di dapur, Nadia kembali ke ruang tamu untuk mendengarkan musik. Alunan lagu berirama modern pop jazz “Waking Up Together With You milik Ardhito Pramono atau “He’s Got Me Singing Again” -Vira Talisa ft. Bilal Indrajaya, segera membuai jiwanya hingga terlelap.

Dia terbangun tepat ketika azan Ashar berkumandang dari kejauhan.

Udara di sekitar kompleks kawedanan menjelang sore hari ini terasa bergulir dengan hawa yang teramat dingin dan pekat. Langit di luar deretan jendela kolonial yang besar masih tampak ditutupi oleh gumpalan awan mendung kelabu sisa hujan jam 12 siang tadi.

Di dalam paviliun sewaannya, setelah melewatkan hari yang sunyi tanpa adanya tanda-tanda kehadiran Pak Slamet yang tampaknya masih trauma pascakejadian sketsa kemarin, Nadia memutuskan untuk melakukan pekerjaan rutin harian membersihkan lantai. Ia mengayunkan kakinya ke belakang, mengambil seember air bersih yang dicampurkan cairan karbol wangi dengan takaran seperti biasa.

Lihat selengkapnya