MISTERI PAVILIUN KAWEDANAN

Heru Sanjaya
Chapter #31

TEGEL KUNING YANG AMBLAS

Cahaya matahari terbit menembus lembut tirai jendela kamar tidur Wulan. Nadia terbangun dari tidur pulas semalamnya dengan kondisi batin yang jauh lebih rileks setelah berhasil melarikan diri dari kepungan bau busuk di paviliun.

Selesai mencuci muka dan buang hajat dengan tuntas, ia langsung menuju ke warung di bagian depan, di mana kesibukan pagi berdenyut seirama.

“Wah, sudah bangun toh, Mbak Nadia?! Gimana, enak tidurnya?” tanya Bu Lastri sambil mengiris daun kucai untuk adonan mendoan.

“Enak banget, Bu Lastri. Pules. Sampe nggak tau kalo Wulan udah duluan bangun!” Nadia tersenyum tipis. “Jadi malu keduluan sama tuan rumah.”

“Ya nggak apa-apa, Mbak! Anggap aja rumah saya sendiri,” timpal Wulan yang sedang meniriskan gorengan pisang tanduk.

Candaan garing itu tetap saja bikin Nadia tersenyum. Tanpa basa-basi ia segera mencomot pisang goreng tanduk yang masih mengepul. Aroma harum pisang tua pilihan merebak saat digigit.

Nadia menikmati sarapan pagi bersahaja, berupa teh manis hangat dan beberapa potong pisang goreng. Setelah menyelesaikan sarapannya, wanita itu segera merogoh saku sweater-nya untuk mengambil ponsel genggam.

Dia berniat menelepon suaminya yang berada di atas gunung untuk melaporkan kejadian gila tadi malam. Beruntungnya, cuaca di gunung Slamet sedang cerah, hingga sinyal telekomunikasi dari provider dalam kondisi stabil. Begitu nada sambung berdering beberapa kali dan suara Bramantyo terdengar menjawab dari seberang telepon, Nadia langsung menjelaskan dengan detail betapa pekat dan kerasnya ledakan bau perpaduan apek, tengik, amoniak dan muntahan kering yang keluar dari kolong ranjang.

Bau itu merembes bersama genangan air dari bawah ubin, menyebar memenuhi ruangan, hingga membuatnya mual dan terpaksa mengungsi ke rumah Wulan jam sembilan malam karena tidak kuat lagi bertahan di sana.

Mendengar laporan darurat dari istrinya, Bramantyo di seberang telepon sebenarnya merasa cemas dan panik. Namun, sebagai seorang ketua peneliti yang terikat oleh aturan birokrasi dinas, dia terpaksa menahan diri karena tidak bisa langsung meluncur turun gunung hari itu juga.

Bramantyo menjelaskan bahwa siang ini posko atas gunungnya dijadwalkan akan menerima kunjungan kerja mendadak dari jajaran dinas purbakala provinsi untuk memeriksa hasil zonasi galian situs candi abad kedelapan.

Dia tidak bisa meninggalkan lokasi begitu saja demi menjaga nama baik profesionalitasnya di depan para pejabat. Bramantyo menenangkan batin istrinya dan memberikan janji bulat bahwa besok siang, dia bersama Darto dan tiga kru teknis lapangan akan segera meluncur turun gunung menuju paviliun dengan membawa rombongan perkakas ekskavasi lengkap.

Nadia menerima penjelasan suaminya tersebut dengan lapang dada. Dia memilih untuk tetap menumpang tinggal di rumah Wulan, menghabiskan waktu sepanjang hari itu hingga besok sampai Bram datang tanpa rasa keberatan.

Setelah mengakhiri percakapan telepon dengan suaminya, Nadia menghampiri Bu Lastri, menawarkan diri untuk membantu mengolah bahan masakan yang akan dijual.

“Bu Lastri, ada yang bisa saya bantu?”

“Bantu apa, Mbak Nadia?”

“Ya bantu menyiapkan bahan masakan.”

“Oalah nggak usah, Mbak…!” Bu Lastri menghentikan irisan daun kucainya. Sambil menatap wajah Nadia dengan rasa sungkan. “Mbake duduk santai saja. Ya nggak enak toh, orang kota mengerjakan yang kotor-kotor!”

“Nggak papa, Bu! Biasa itu. Daripada saya bengong nggak ada kesibukan.”

“Serius, Mbak?!”

“Ya serius Bu. Sini, mana yang harus saya kerjakan lebih dulu?”

Lihat selengkapnya