Nadia dan Wulan langsung bangkit berdiri ketika Bram dan timnya keluar dari mobil dengan peralatan pendukung ekskavasi.
Mas…! Syukurlah kamu datang tepat waktu,” ujar Nadia sambil menghampiri Bram, menuruni undakan teras.
Bramantyo tersenyum. Tangannya mengusap-usap bahu istrinya yang terlihat resah dan cemas.
“Aneh banget, Mas! Aku sama Wulan tadi pagi udah periksa kolong ranjang. Genangan airnya hilang, tapi ubinnya malah ambles!”
Bram terperanjat. Dia menatap Nadia dengan wajah serius. Sahutnya, “Aku sepertinya harus percaya cerita dalam mimpi kamu, Jeng!”
Bram lalu memperkenalkan tim penelitinya pada Nadia. Ia juga memberi isyarat pada timnya untuk ikut masuk ke kamar tidur.
Bramantyo melangkah mendekati kolong ranjang, melongok dengan senter kepala. Ia tertegun menatap ubin kuning yang sudah amblas sedalam dua puluh sentimeter, lalu menatap wajah Nadia yang terlihat resah. Ia meminta agar istrinya tenang dan tidak cemas.
Aroma ruangan di dalam paviliun sewaan sore itu terasa sangat hambar dan bersih, sama sekali tidak menyisakan sisa bau aneh yang kemarin malam sempat meledak keras membuat ulu hati Nadia melintir mual.
Namun, kesunyian mencekam di dalam bangunan tua kolonial tersebut kini perlahan mencair. Bramantyo, Darto si pencatat data dan pemetaan, bersama seorang anggota peneliti dan dua orang penggali lapangan pekerjaan lokal berbadan besar, tampak sudah berdiri di kedua sisi area tempat tidur.
Cangkul, linggis, palu besar hingga sekop baja galian candi—sudah siap digenggam erat di dalam cengkeraman tangan mereka.
Bramantyo melangkah mendekati posisi istrinya, menatap lekat-lekat sepasang mata Nadia sembari menganggukkan kepala yang mantap dan berani demi menyalurkan energi positif.
"Jeng, sekarang kamu sama Wulan tunggu di teras aja ya! Biar area ranjang ini lapang dan aman buat ruang gerak timku."
Nadia mengangguk pelan, lalu menarik lengan Wulan berjalan ke luar kamar, meski rasa penasaran terlihat jelas di kedua wajah perempuan itu. Namun rasa penasarannya ditekan kuat-kuat, demi ruang gerak suami bersama timnya tidak terganggu.
Bramantyo menatap nanar ke dalam kolong ranjang besi tua itu. Di bawah sorotan lampu senter, tegel-tegel semen kuning yang melesak sedalam dua puluh sentimeter memperlihatkan sebuah pola patahan yang tidak lazim bagi seorang arkeolog senior.
Ini bukan sekadar amblasan akibat erosi air tanah. Cekungan oval berdiameter sembilan puluh sentimeter itu adalah indikasi struktural yang jelas: tanah di bawahnya telah menyusut drastis karena hilangnya material organik bervolume besar dalam kurun waktu puluhan tahun.
“Eko, Danu, geser ranjang ini ke pojok. Kita butuh ruang bersih untuk trenching," perintah Bram tegas.
Dua kru teknis lapangan yang bertubuh kekar itu langsung mencengkeram rangka besi ranjang. Suara derit kaki ranjang yang bergesekan nyaring dengan lantai tegel langsung merobek keheningan siang.
Begitu area kolong terbuka sepenuhnya, visual lantai yang hancur itu tampak semakin intimidatif. Tanah hitam yang basah dan lengket merembes naik, diapit oleh patahan ubin tebal yang miring ke dalam pusat cekungan.
"Raffi, ambil foto pre-excavation. Rekam grid lantai ini dari sudut vertikal sebelum ubinnya kita angkat," kata Bram lagi, memberikan instruksi kepada dokumentator timnya.
Raffi segera maju dengan kamera DSLR-nya, mengambil beberapa jepretan kilat yang menerangi retak seribu pada permukaan tegel kuning.
Sekitar pukul 14.30 WIB, proses pembongkaran lapis pertama dimulai. Danu dan Eko mulai mengayunkan linggis baja secara hati-hati pada celah nat ubin yang telah berubah menjadi bubuk keputihan.