Deru berat mesin diesel jip dobel gardan pelat merah milik Kemendikbud akhirnya mereda saat Bramantyo memutar kunci kontak ke posisi mati.
Kendaraan berpenggerak empat roda itu terparkir miring di halaman luas sebuah rumah joglo berarsitektur Jawa tradisional yang kokoh. Di dinding depannya, sebuah papan nama kayu bercat putih dengan tulisan "Kepala Desa Purbosuman" bergoyang pelan dihantam angin malam.
Udara dari lereng selatan Gunung Slamet mulai turun, membawa kabut tipis yang menggigit pori-pori kulit melalui sela-sela kemeja kargo lapangan yang mereka kenakan.
Bramantyo menghela napas panjang, bersandar sejenak pada kemudi jip yang dingin. Dua jam yang melelahkan di markas Polres Banyumas di pusat kota Purwokerto baru saja mereka lewati.
Surat laporan polisi model A untuk penemuan jasad tak dikenal yang diduga korban pembunuhan berencana telah resmi ditandatangani oleh Ajun Komisaris Polisi Edi Supono.
Besok pagi tepat pukul delapan, tiga unit mobil dari Tim Satreskrim dan INAFIS akan meluncur ke paviliun. Namun, malam ini, setelah paviliun kawedanan disegel rapat dengan terpal plastik dan puing beton, Bramantyo dan empat kru penelitian terusir oleh kenyataan ilmiah dan rasa waspada yang tinggi.
Mereka tidak mungkin tidur di dalam paviliun yang uap asam adiposeranya masih menempel kuat di dinding-dinding kamar. Atas saran kepolisian, mereka harus berkoordinasi dengan otoritas lokal malam itu juga. Pintu jip berdentum menutup bergantian. Langkah kaki kelima pria itu menapaki halaman yang basah oleh embun.
Di teras rumah, seorang pria paruh baya bertubuh gempal dengan kain jarik bermotif daun talas khas Banyumas dan kemeja batik lengan pendek sudah berdiri menyambut. Dialah Pak Kades Sudjiarto, didampingi oleh Pak RT Karso, seorang pria tua kurus memakai baju lurik sederhana dengan blangkon yang tonjolannya cenderung gepeng. Ia berusia 65-an yang sengaja dipanggil untuk mendampingi pertemuan darurat ini.
"Mangga... mangga mlebet, Mas Bram, Mas Darto, dan rekan-rekan sedaya. Masuk dulu, di luar udaranya sedang dingin-dinginnya," sambut Pak Kades Sudjiarto dengan suara bass yang tebal, berat, namun ramah dan menyiratkan rasa penasaran yang besar. Wajahnya memperlihatkan bahwa ia sudah mendengar selentingan kabar dari panggilan telepon pihak polsek setengah jam yang lalu.
Mereka berlima melangkah memasuki ruang tengah rumah joglo yang luas. Ruangan itu beralaskan tegel abu-abu tua dengan tiang-tiang penyangga kayu jati yang mengkilap.
Terdapat sebuah meja kayu panjang dan lebar, di atasnya tersedia boks tisu, asbak, beberapa toples berisi camilan tradisional dan air mineral gelas. Di sekitar meja, ada 4 set kursi sedan biasa dan 2 set kursi sedan versi panjang yang bisa muat 3-4 orang. Di atasnya terdapat lampu gantung antik yang memberikan nuansa klasik.
Aroma gurih yang sangat menggugah selera seketika saja menerobos dari arah dapur belakang.
Ibu Kades, seorang wanita anggun bersanggul kecil, keluar membawa nampan besar berisi piring blirik— piring-piring seng bermotif burik hijau.
Di atas meja, hidangan makan malam bersahaja khas Banyumasan disajikan satu per satu: sebakul nasi putih yang mengepul hangat, semangkuk besar sayur bumbu jor-joran—sayur bersantan tipis dengan potongan tetelan sapi, cabai hijau besar, dan tempe semangit—serta tak ketinggalan sepiring penuh mendoan khas Purwokerto yang masih mengepulkan uap, lengkap dengan kecap rawit pedas.
"Ayo, Mas Bram, Mas Darto, dimakan dulu. Perut kalau kosong di hawa dingin seperti ini bisa bikin masuk angin. Ceritanya nanti saja setelah piringnya bersih," ujar Ibu Kades hangat, sebelum pamit kembali ke ruang dalam.
Bramantyo, Darto, Danu, Eko, dan Raffi yang sejak jam dua siang tadi bertaruh tenaga membongkar lantai paviliun dan menahan syok psikologis, tidak bisa membohongi rasa lapar mereka.
Bramantyo memulai lebih dahulu dengan menyendok sayur jor-joran yang pedas hangat, membiarkan kuahnya yang gurih membasahi tenggorokannya yang sempat kaku dan kering karena bau tengik adiposera sore tadi. Mendoan lebar yang masih mengepulkan uap hangat, dicelupkan ke irisan cabai rawit dan kecap manis, menjadi penawar lapar yang luar biasa mewah bagi tim arkeolog itu.
Selama tiga puluh menit berikutnya, ruangan itu dikuasai oleh ritual makan malam yang khidmat di tengah keheningan malam pedesaan pinggiran Purwokerto.
Setelah piring-piring disingkirkan dan diganti dengan sebuah poci tanah liat berisi teh tubruk pekat beraroma melati gambir lengkap dengan gula batu pada lima cangkirnya.
Suasana bersantai yang ramah dimulai. Pak Kades Sudjiarto menyandarkan punggungnya ke kursi sedan yang berlapis busa dan kulit sintetis, mengambil sebatang rokok kretek, lalu menyalakannya perlahan. Asap tipis mengepul ke langit-langit joglo yang tinggi.
"Jadi... bagaimana ceritanya, Mas Bram? Polsek tadi telepon saya, katanya besok pagi ada pembongkaran resmi di paviliun bawah lantai karena urusan forensik kriminal. Apa betul kalian menemukan... jasad?" Pak Kades membuka pembicaraan, matanya menatap tajam ke arah Bramantyo.