Misteri Takhta Asam Tais di Rimba Rengas

Amrullah Ibrahim
Chapter #1

Angin di Batas Rengas

Latar: Malam Jum'at Kliwon, 23.45 WIB | Tepi Kebun Karet Tua & Patok Bambu Kuning, Jiwa Baru, Lubai

Kutipan: "Di mana tanah berhenti menumbuhkan rumput, di situlah batas perjanjian manusia berakhir."

 *ੈ✩‧₊˚༺☆༻*ੈ✩‧₊˚


Bagian 01 : Gelisah di Beranda Rumah Panggung - Malam Jum'at Kliwon, 23.15 WIB

🌺

Jarum jam dinding kayu jati bermerek Seiko tua itu berdentang sebelas kali, tetapi gemanya di dalam rongga dada Fajrian Nadhiran terasa seperti hantaman godam pada lempeng besi berkarat. Sebelas kali dentangan itu merambat melalui dinding kayu rumah panggung peninggalan kakeknya, mengguncang debu-debu halus yang bertengger di atas pigura foto hitam putih almarhum bapak mereka. Di luar sana, kegelapan desa Jiwa Baru bukan sekadar ketiadaan cahaya; kegelapan itu adalah gumpalan pekat yang menekan daun-daun jendela, membungkam kokok ayam jantan, dan menelan bunyi jangkrik hingga yang tersisa hanyalah dengung sunyi yang memekakkan gendang telinga.

Fajrian berdiri kaku di ambang pintu beranda yang terbuka separuh. Kedua tangannya mencengkeram kusen kayu rengas yang dingin dan bergetah kental. Kulit telapak tangannya basah oleh keringat dingin yang berminyak. Pandangannya terpaku menembus kabut susu yang mulai merangkak naik dari parit pembuangan air di tepi pekarangan, menjilati tiang-tiang pancang ulin setinggi dua meter yang menopang tempat tinggal mereka.

Kakaknya, Rafan Bashif, pamit meninggalkan tangga rumah itu tepat saat azan magrib baru saja selesai berkumandang—lebih dari lima jam yang lalu. 'Hanya memeriksa pintu air petak empat puluh empat, Ji,' bisik Rafan petang tadi seraya mengencangkan ikatan botol minyak tanah di boncengan sepeda ontel Fongers tuanya. 'Tanggul bambunya rawan jebol digerus air hulu. Kalau meluap ke rumpun rengas larangan, getah karet kita besok pagi busuk semua.'

Namun mata Rafan saat mengucapkan kalimat itu tidak menatap mata Fajrian. Pupil matanya bergetar liar, memantulkan jingga senja yang pucat dan mati di balik barisan puncak pohon karet tua Lubai. Fajrian mengingat dengan kepedihan yang menyayat bagaimana jemari kakaknya yang kapalan sempat gemetar ketika mengancingkan kemeja flanel lusuhnya—bukan karena dingin, melainkan seperti seseorang yang sedang mengenakan kain kafannya sendiri.

Ingatan Fajrian terseret mundur secara menyakitkan ke lima tahun silam. Malam Jum'at Kliwon yang serupa, di musim hujan yang sama getirnya. Malam ketika bapak mereka ditemukan terbujur kaku di bawah pokok pohon karet nomor empat puluh empat. Tubuh bapak tidak terluka, tak ada bekas gigitan ular beludak atau taring babi hutan. Namun dadanya membiru kelam bagai diremas tangan raksasa dari dalam, dan kedua telapak tangannya terpelintir seratus delapan puluh derajat menghadap langit malam, seolah-olah bapak berusaha menolak sesuatu yang turun langsung dari kanopi pohon rengas.

Di pemakaman bapak, di bawah derai gerimis yang membawa aroma belerang rawa, Rafan yang baru berusia dua puluh dua tahun merengkuh pundak kurus Fajrian yang masih remaja. Suara Rafan saat itu parau tetapi keras bagai sumpah ksatria: 'Dengarkan aku, Fajri. Selama darah Nadhiran masih mengalir di urat leherku, selama nafasku masih mengembun di atas tanah Jiwa Baru ini, kau takkan pernah dibiarkan melangkah sendirian dalam gelap. Aku yang akan berdiri di depan pintu, Ji. Apapun yang datang menagih, aku tebusannya.'

Kini, kata-kata itu berdengung kembali di pelipis Fajrian bagai dengungan lebah berbisa. Mengapa Rafan nekat pergi ke saluran irigasi yang berbatasan langsung dengan patok bambu kuning di malam keramat ini? Mengapa ia membawa serta lentera kuningan pusaka kakek yang selama puluhan tahun pantang dibawa keluar melewati azan isya? Gelisah itu bermutasi menjadi ketakutan hewani yang meremukkan seluruh sendi kakinya.


༺☆༻


Bagian 02 : Desau Angin Lubai dan Semerbak Kantil Maut - Pukul 23.35 WIB

🌺

Tiba-tiba, tanpa ada gesekan dedaunan sebelumnya, sebuah hembusan angin dingin menyergap dari arah barat laut—arah di mana Rimba Rengas bertakhta dalam kebisuan abadi ratusan tahun. Hawa dingin itu tidak wajar; ia tidak berhembus seperti angin malam tropis yang membawa kesejukan embun, melainkan menghujam tajam bagai udara yang dimuntahkan dari liang kubur yang baru dibongkar.

Bersamaan dengan hembusan itu, sebuah aroma yang janggal dan memuakkan menusuk rongga hidung Fajrian: bau anyir getah karet yang teroksidasi bercampur dengan wangi manis yang pekat luar biasa dari kembang kantil putih yang mulai membusuk. Bau itu begitu pekat hingga membuat tekak Fajrian mual dan lidahnya terasa mengecap rasa logam tembaga.

'Fajri... Fajrian Nadhiran!'

Sebuah suara serak dan tersengal memecah keheningan dari arah pelataran tanah liat di bawah beranda. Fajrian tersentak, tangannya refleks meraba pinggangnya di mana bilah pisau sadap almarhum bapaknya terselip di balik sarung kulit. Di bawah sana, di antara siluet kabut yang berpilin-pilin bagai asap dupa raksasa, sesosok tubuh bungkuk tertatih-tatih mendekati undakan tangga kayu.

Itu Wak Samad. Tetua penyadap karet yang paling disegani di Jiwa Baru, seorang lelaki renta berusia hampir tujuh puluh tahun yang kakinya pincang permanen sejak pembersihan hutan rimba empat dekade lalu. Tangan kanannya mencengkeram tongkat dari cabang kayu johar hitam, sedangkan tangan kirinya memegang obor daun kelapa yang menyala gemetar, apinya tercekik oleh kabut yang semakin pekat.

'Wak Samad? Ada apa, Wak? Mengapa malam-malam begini berjalan ke arah rumah kami?' tanya Fajrian, suaranya tercekat di tenggorokan saat ia menuruni anak tangga kayu ulin dengan tergesa.

Mata Wak Samad membelalak liar, urat-urat merah melintang di selaput putih matanya. Napasnya berbunyi mendesah seperti pipa pompa air yang kemasukan pasir. 'Saluran air di petak empat puluh empat... Fajri! Parit irigasi tua itu... airnya tidak mengalir lagi ke rawa!'

'Maksud Wak apa? Tanggulnya jebol?'

'Bukan jebol, celaka!' potong Wak Samad seraya mencengkeram lengan jaket kanvas Fajrian dengan kekuatan yang mengejutkan untuk ukuran orang tua renta. Ujung jemarinya sedingin bongkahan es. 'Airnya berbalik arah! Lumpur di dasar parit menghitam bagai jelaga terbakar, dan ikan-ikan gabus melompat keluar ke daratan dengan perut melepuh! Sesuatu di Rimba Rengas telah menarik airnya kembali ke akar induk! Dan abangmu... sepeda ontel si Rafan tergeletak di dekat patok kuning!'

Jantung Fajrian seakan berhenti berdetak sesaat. Ruang di sekelilingnya mendadak berputar lambat. Kata-kata Wak Samad bukan sekadar kabar buruk; itu adalah lonceng maut yang selama bertahun-tahun dihindari keluarganya.

Tanpa berpikir panjang, Fajrian berlari kembali naik ke atas rumah panggung. Di bawah desakan naluri bertahan hidup yang membabi buta, ia menyambar inventaris terbatas yang tersisa di atas meja kayu bapak: kotak timah berisi tiga batang korek belerang Cap Tiga Daun yang getas, carik kain mori rajah putih peninggalan kakek yang langsung dililitkannya erat-erat di perut, dan pisau sadap bergagang cendana yang bilahnya sedingin es. Dengan napas memburu dan kewarasan yang retak, Fajrian menuruni tangga dan menerjang pekatnya malam bersama Wak Samad.


༺☆༻

Lihat selengkapnya