Latar: Dini hari Jum'at Kliwon, 02.15 WIB | Balai Desa Jiwa Baru & Rumah Kepala Dusun. Sudut Pandang: Fajrian Nadhiran
Kutipan Pembuka: "Nada titir kentongan bambu bukan sekadar tanda bahaya, melainkan doa penolak bala yang gemetar."
*ੈ✩‧₊˚༺☆༻*ੈ✩‧₊˚
Bagian 01 : Gema Dara Muluk di Bawah Desau Angin Rengas - [02.15 WIB — Balai Dusun Jiwa Baru
🌺
Suara itu tidak datang sebagai ketukan biasa; ia merayap serupa dengungan jarum tembaga yang menghunjam langsung ke dasar pelipisku, menusuk lipatan saraf yang paling peka. Dara muluk. Irama bertalu ganda yang rapat, cepat, dan putus-putus—ketukan yang di tanah Jiwa Baru hanya pernah ditabuh bila seekor harimau menerobos pagar pekarangan, atau saat seorang anak manusia lenyap ditelan pekatnya rimba beracun. Namun dini hari itu, Jum'at Kliwon di angka 02.15 WIB, getaran dari tabung bambu wulung di ujung gardu pos desa memiliki bobot yang jauh lebih mengerikan: ia tidak sedang mengabarkan mara bahaya; ia terdengar seperti rintihan keputusasaan yang gemetar, doa penolak bala yang diucapkan oleh kerongkongan yang nyaris tercekik pasir.
Uap dingin mengepul dari celah bibirku saat aku menjejakkan sepatu bot berlumpur di undakan semen Balai Desa. Hawa basah dini hari itu membawa aroma yang sangat kukenal dan sekaligus kubenci seumur hidup: bau manis yang tajam bercampur langu getir dari getah pohon rengas liar yang merebak setiap kali kabut lembah turun menyapu punggung bukit. Itu adalah aroma yang selalu kuasosiasikan dengan kematian lambat, borok di kulit para perambah liar, dan racun kaustik yang mampu mengelupaskan daging dalam hitungan jam.
Di ruang serbaguna berdinding papan jati kusam itu, sekitar dua puluh lelaki berkumpul dalam kesenyapan yang ganjil. Mereka berdiri bergerombol di bawah temaram kuning lampu petromaks yang mendesis lapar, sarung lusuh melilit leher hingga dagu seperti kain kafan darurat. Tangan-tangan kekar yang biasa memegang cangkul kini mencengkeram gagang parang dan obor bambu yang belum disulut. Tak seorang pun berbicara. Hanya ada gesekan gelisah sandal karet di lantai semen dan tarikan napas pendek yang tertahan, seolah setiap tarikan udara terlalu berharga untuk dibagikan dengan kegelapan di luar jendela.
Begitu langkah kakiku berderit di lantai kayu balai, tatapan mereka serentak berpaling. Dan di sanalah rasa dingin yang sebenarnya menyengat sumsum tulang belakangku: mata orang-orang kampung itu tidak memandangku dengan rasa iba seorang tetangga yang bersimpati. Ada kecurigaan yang mengkristal di sana, semacam rasa jijik yang ditahan bercampur ketakutan purba yang mengarah tepat ke keningku. Bagi mereka, aku bukan sekadar Fajrian—sarjana muda ilmu kehutanan yang pulang dari perantauan menjinjing ransel kanvas dan buku catatan botani. Bagi mereka, aku adalah anak cucu keluarga Bashif. Darah yang sama yang mengalir di urat nadi Rafan, adik sepupuku yang beberapa jam lalu meninggalkan sandal jepitnya di gerbang tapal batas rimba rengas.
Setiap pasang mata itu seakan menuntut pertanggungjawaban atas kutukan yang kini mendesak di ambang pintu desa. Mereka memandangku seolah-olah aku yang telah memutus rantai penjaga batas gaib yang selama ini menahan raksasa rimba agar tidak menelan gubuk-gubuk mereka.
"Sudah berapa lama titir itu dipukul, Wak?" tanyaku pada Wak Jono, pemilik warung kopi di ujung simpang tiga yang berdiri paling dekat dengan pintu masuk. Suaraku sengau, parau oleh dingin malam dan kepanikan yang berusaha kurem sekuat tenaga di balik dada yang bergemuruh.
Wak Jono tidak langsung menyahut. Jemarinya yang kasar dan berkapalan sibuk memilin ujung sarungnya yang robek. Matanya melirik ke sudut belakang ruangan, tempat sebuah bayangan membungkuk duduk di atas amben bambu bertikar pandan. "Sejak jam satu lewat seperempat, Ian," bisik Wak Jono akhirnya, nyaris tak terdengar, seolah takut suaranya akan memancing sesuatu yang bersembunyi di atap seng balai. "Sejak anak sulung Derin menemukan senter milik Rafan tergeletak di bawah patok rengas... menyala, menghadap ke dalam rimba. Tanpa jejak telapak kaki kembali. Hanya ada bekas goresan kuku di kulit pohon rengas tertua, dan sehelai kain sarungnya tersangkut di duri rotan."
Dadaku berdegup kencang seperti genderang perang yang koyak. Tanpa jejak kaki kembali. Kalimat itu bukan sekadar laporan pencarian orang hilang; di desa terisolasi yang diapit rawa beracun dan rimba rengas hitam ini, hilangnya jejak kaki adalah vonis mati tak tertulis. Pikiran rasional yang kutempa selama enam tahun di laboratorium silvikultur universitas mendadak terasa seringkih ranting lapuk di hadapan raut wajah orang-orang ini. Mengapa mereka hanya berdiri mematung di sini? Mengapa obor-obor itu dibiarkan padam teronggok di sudut balai? Mengapa tidak ada satu pun regu yang melangkah keluar?
"Lalu mengapa kalian masih berdiri di sini seperti mayat menatap kuburan?" sergahku, intonasiku naik satu oktaf, merobek keheningan ruangan yang mencekik. "Rafan baru hilang beberapa jam! Rimba rengas itu penuh kubangan lumpur hisap, rawa asam, dan udara beracun bila kabut dini hari turun menutup kanopi! Kalau kita tidak membentuk regu sekarang, dia bisa mengalami hipotermia parah atau menghirup uap getah hingga paru-parunya melepuh! Mana Pak Lurah? Mana parang-parang kalian? Apakah rasa takut kalian pada dongeng usang lebih besar daripada nyawa seorang anak manusia?!"
˚༺☆༻
Bagian 02 : ESKALASI KONFLIK: Titah Sang Tetua dan Dinginnya Tabu Leluhur - 02.35 WIB — Di hadapan Amben Tetua Adat
🌺
Sebuah ketukan tongkat kayu kemuning berujung kuningan menghantam lantai papan balai dengan bunyi tung yang kering, padat, dan menggetarkan sendi-sendi lututku. Bunyi itu seketika menelan habis gema amarahku, menggantikannya dengan kebisuan yang berat.
Dari sudut remang di balik asap rokok klobot yang membubung lambat serupa sarang laba-laba kelabu, sosok itu bangkit. Ki Rustam. Tubuhnya liat dan liuk seperti akar pohon bakau tua yang terpapar pasang surut air asin selama puluhan tahun, terbungkus kain lurik garis kelabu gelap yang kancing lehernya dibiarkan terbuka. Rambutnya putih kelabu berantakan, membingkai wajah yang dipahat garis-garis keriput dalam serupa rekahan tanah sawah di musim kemarau terpanjang. Namun sepasang matanya—mata itu sama sekali tidak memiliki kehangatan seorang kakek tua peramah. Di balik kelopak matanya yang kendur dan berkantung gelap, ada kilatan dingin yang mengingatkanku pada genangan air rawa pekat yang tak pernah tertembus seberkas pun sinar matahari.
"Duduk, Fajrian," suara Ki Rustam tidak menggelegar, namun memiliki frekuensi rendah yang anehnya sanggup membuat dada setiap lelaki di ruangan itu bergetar patuh. "Darah mudamu selalu mengira bahwa setiap raungan di kegelapan malam bisa dijinakkan dengan sepasang baterai senter dan sebilah parang berkarat. Kau belum mengerti di tanah siapa telapak kakimu yang beralas karet itu sedang berpijak."
"Aku tahu betul di mana kakiku berpijak, Ki!" sergahku seraya melangkah maju dua tapak, menyentakkan lenganku dari tarikan tangan Wak Jono yang gemetar dingin. "Di tanah Desa Jiwa Baru! Di desa tempat aku dilahirkan dan dibesarkan! Dan adikku, adik sepupuku yang polos dan tak punya dosa, ada di luar sana sendirian di dalam hutan beracun yang bisa merontokkan napasnya dalam hitungan jam! Apa peduliku pada omong kosong pantangan malam Kliwon kalau nyawa darah dagingku sendiri sedang meregang maut?!"
Beberapa lelaki tua di barisan depan sontak beristighfar seraya melangkah mundur setapak, seolah kata-kataku baru saja mengundang sambaran kilat di tengah malam kering. Kepala Dusun Sasmita—lelaki paruh baya berperut buncit yang duduk di meja kerja dengan seragam dinas cokelat yang kerahnya lusuh berminyak—berkali-kali mengusap keningnya yang dibanjiri keringat dingin dengan sehelai saputangan kumal. Pria itu menatapku dengan mata memohon, tatapan seorang birokrat kerdil yang tersudut; ia sadar sepenuhnya bahwa di hadapan hukum adat desa ini, stempel garuda dan tanda tangan bupati di mejanya tak lebih bernilai daripada sehelai daun kering yang terinjak tapak babi hutan.
"Fajrian, dengarkan tetua dulu, le... nak..." gumam Pak Kades Sasmita dengan suara yang bergetar rapuh, nyaris patah di ujung tenggorokan. "Ki Rustam bukan bermaksud menelantarkan Rafan. Beliau hanya... menimbang keselamatan kita semua yang masih bernyawa di balai ini. Hutan rengas di malam Jum'at Kliwon bukan sekadar rimba bambu biasa. Kamu tahu betul apa yang terjadi pada regu ronda tahun sembilan puluh empat saat mereka nekat menembus batas rawa..."